Semarak Idul Adha 1436 H; Dari Potong Qurban Hingga Festival Sate

Setelah prosesi ibadah ‘id selesai, acara selanjutnya yang dinanti santri adalah pemotongan hewan qurban. Tentunya pemotongan ini dilakukan setelah santri menyelesaikan sarapan di ruang makan.

Bagi santri yang memilih berqurban di Ar-Rohmah Putra, ada pengalaman tersendiri yang tidak akan didapatkan oleh santri lain. Pengalaman itu adalah menyembelih sendiri hewan qurbannya yang di-atasnama-kan dirinya, atau ayahnya. Tentu ini adalah pengalaman berharga yang hanya bisa dilakukan sekali setahun saja.

Aufar Nubli Enmulia, misalnya. Santi kelas X yang sedang menjalani tahun pertamanya di Ar-Rohmah ini merasa bangga dan beruntung bisa diberi kesempatan menyembelih kurbannya sendiri. Walau di awal terlihat ragu dan canggung, tapi akhirnya ia menuntaskan pemotongan kambingnya dengan baik dan sukses.

IMG-20150924-WA0095
(Foto: Tampak Nubli berusaha menyembelih kambing kurbannya)

Dalam Islam, merupakan sunnah ketika berqurban adalah memotong sendiri hewan yang diqurbankan. Walaupun juga bisa diwakilkan ke panitia jika tidak bisa atau banyak kesibukan.

Pagi itu, pemotongan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dihentikan sementara ketika hewan yang telah dipotong mencapai angka 36, dengan rincian 35 ekor kambing dan 1 ekor sapi.

Festival Sate

Agar qurban lebih terasa manfaatnya, oleh panitia, setiap kelas diberi 1 ekor kambing untuk diolah. Kambing-kambing yang mereka potong sendiri itu akan diolah sesuai selera masing-masing kelas. Walaupun memotong sendiri, panitia tetap mendampingi di tempat yang dikhususkan untuk pemotongan. Setelah pemotongan, barulah para santri akan menguliti dan mencari tempat ternyaman untuk berekperimen dengan bumbu-bumbu yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Di SMA sendiri, OPH SMA Ar-Rohmah Putra Malang mengadakan lomba sate untuk semua kelas di unit SMA. Total ada 8 kelas yang mengikuti kompetisi ini. Acara tahunan ini diadakan untuk memotivasi santri menghasilkan olahan dan kreasi bumbu sate yang terbaik.

“Biasanya kelas SMP juga ikut. Tapi tahun ini mereka tidak ikut festival sate. Entah kenapa,” ungkap Ghozi Naufal Qois, ketua OPH SMA Ar-Rohmah periode 2015-2016.

Dengan berbekal 1 ekor kambing di tiap kelas, para santri sesegera mungkin membuat dan berkreasi dengan sate. Walaupun mereka semua adalah santri putra, ternyata hasil olahan mereka terasa nikmat dan bervariasi.

Kelas XI MIA 2, misalnya. Dikomandoi oleh Ihza Nugroho, tim mereka membawakan racikan unik untuk dinilai dewan juri.
“Namanya Sate Bumbu Kuah Gulai,” ungkap Ihza ketika ditanya salah satu dewan juri.

Sajiannya memang sedikit beda dari sisi penampilan. Sebuah paprika besar menjadi wadah untuk kuah gulai. Sedang beberapa tusuk sate yang telah dilumuri bumbu kacang direndam di kuah tersebut.

“Tampilannya unik, rasanya menggingit,” komentar Ustadz Abdul Aziz yang turut mencicipi pertama kali.

“Kalau menurut saya, ini calon kuat untuk juara,” tambahnya.

DSC_0022
(Foto: Ihza memberikan sentuhan akhir sebelum dinilai dewan juri)

Dewan juri yang menilai sajian sate-sate tersebut akan menilai dari 3 kriteria utama. Yang pertama dan utama, tentu soal cita rasa. Ini yang penting dari soal makan memakan. Yang kedua adalah kreatifitas; soal penampilan luar masakan, cara peyajian, dsb. Kemudian, juga akan dinilai kebersihan dan kerapian. Ini juga penting sebab putra biasanya mengabaikan soal ini.

Bertindak sebagai dewan juri adalah ustadz Fahmi Ahmad, M.M, selaku kepala sekolah SMA Ar-Rohmah. Juga hadir ustadz Jayadi, S.E, Kaur Kurikulum SMA Ar-Rohmah Malang. Dua lainnya adalah ustadz Purnomo dan ustadz Anton. Keduanya juga merupakan guru di SMA Ar-Rohmah Putra.

Menurut panitia, hanya dua sate terbaik yang akan diberi hadiah.

“Kemungkinan Senin akan diumumkan siapa yang menjadi juara,” jawab Ghozi ketika ditanya soal bocoran pemenang.

Read more...

Ar-Rohmah Putra Tuan Rumah Shalat ‘Idul Adha 1436

Kampus LPI Ar-Rohmah Putra kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan shalat idul adha 1436 H bagi kampus-kampus pendidikan Hidayatullah Malang, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Shalat Idul Adha yang dilakukan pada Kamis, 24 September 2015 itu dihadiri sekitar 2000-an orang yang memenuhi dua lapangan di kompleks kampus Ar-Rohmah Putra; lapangan Darul Jihad digunakan untuk tempat shalat jamaah putra, dan lapangan Afghan yang agak rendah digunakan untuk jamaah putri.

Tercatat, ada 2 kampus pendidikan Hidayatullah Malang yang bergabung shalat ‘id di kampus Ar-Rohmah Putra. Yang pertama adalah kampus Ar-Rohmah Putri yang terletak di Jalan Raya Jambu yang datang dengan sekitar 900-an santri dan warganya. Yang kedua adalah santri dan warga kampus Ar-Rohmah Tahfizh yang baru berdiri 2 tahun lebih yang berjumlah 200-an orang.

Sekitar jam 06.00 WIB, sesaat sebelum shalat dan khutbah, terlebih dahulu panitia mengumumkan perolehan total hewan kurban di Hidayatullah Malang. Berdasarkan data yang dibacakan panitia qurban, Kampus Ar-Rohmah Putri mendapat amanah qurban sebanyak 78 ekor kambing dan 8 ekor sapi. Kampus Ar-Rohmah Tahfizh mendapat amanah qurban 40 ekor kambing dan 1 ekor sapi. Adapaun Kampus Ar-Rohmah Putra mendapat amanah 39 ekor kambing dan 3 ekor sapi.

IMG-20150924-WA0014
Tampak jamaah khusyuk mendengar khutbah

Setelah pengumuman tersebut, barulah shalat ‘id ditegakkan. Bertindak sebagai imam shalat ‘id adalah ustadz Muhammad Muhdi. Ustadz yang menjabat direktur 1 LPI Ar-Rohmah Putra ini juga didaulat untuk menyampaikan khutbah ‘id.

Khutbah panjang beliau seputar perjalanan hidup nabi Ibrahim alaihissalam dan nabi Ismail alaihissalam berakhir beberapa menit sebelum pukul 07.00 WIB. Berakhirnya khutbah tersebut menandakan berakhirnya prosesi ibadah ‘id. Yang tersisa adalah ramah tamah dengan seluruh jamaah yang hadir.

Untuk menghindari adanya ikhtilath antara santri putra dan santri putri, panitia putri langsung mengakomodir jamaah putri untuk langsung meninggalkan lapangan. Sedang santri putra dilarang meninggalkan tempat sebelum santri putri terakhir meninggalkan lapangan tak terlihat lagi. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan terkendali hingga putri kembali ke kampus mereka, dan santri tahfizh menyusul setelahnya.

Read more...

Lomba Takbiran Meriahkan Malam Idul Adha 1436 H di Ar-Rohmah Putra

Sebagai bentuk ungkapan rasa gembira atas tibanya hari raya Idul Adha 1436 H, ISTH SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang mengadakan kegiatan lomba takbiran pada malam tanggal 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan 23 September 2015 M. Acara yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dihadiri oleh seluruh warga Asrama Darussalam dan Asrama Darussyahadah.

Lomba ini sendiri diikuti oleh seluruh tingkatan kelas di unit pendidikan SMA. Kelas X, misalnya, datang dengan formasi lengkap; 3 tim. Kelas XI mewakilkan 2 timnya, sedangkan kelas XII tampil maksimal dengan 1 tim.

Dipandu oleh Suryadi Pranoto (X) dan Sultan Syafiq (XI) sebagai MC, acara ini terasa lebih renyah. Baru-baru ini, Syafiq juga menjadi pembawa acara pada acara Arreval yang digelar oleh LIC. Maka tak heran, acara demi acara berjalan dengan lancar hingga penutupan.

Di kesempatan awal, Imam Farkhan tampil dengan suara khasnya. Taekwondoin asal Ternate ini didaulat untuk membaca kalam suci firman Ilahi.

Kemudian berturut-berturut memberikan sambutan Ketua Panitia; Alif Fadhillah, Pembina ISTH; Ustadz Fikri Zakia, dan Kepala Kepengasuhan SMA Ar-Rohmah Malang; Ustadz Jumari. Selain memberi sambutan, Ustadz Jumari juga membuka acara dengan takbir-tahlil-tahmid yang diikuti oleh seluruh hadirin.

Setelah acara dibuka, tibalah pada acara inti; lomba takbiran. Duet MC Adi-Syafiq menjatuhkan pilihan pertama untuk tampil adalah santri kelas XI yang asuh oleh ustadz Khasany sebagai wali asrama. Kemudian, berturut-turut setelahnya penampilan dari santri kelas X asuhan Ustadz Nururrohman, lalu santri asuhan Ustadz Zakariya yang juga kelas X. Pilihan MC selanjutnya jatuh kepada santri kelas XI asuhan ustadz Rifal, lalu kelas X asuhan Ustadz Abdul Aziz. Sebagai penampilan terakhir, kelas XII yang hanya mewakilkan 1 tim maju sebagai tim yang paling berpengalaman. Disebut berpengalaman sebab mereka sudah 3 tahun mengikuti lomba serupa.

Tampil memberikan penilaian pada acara ini adalah Ustadz Ian Ahmad, Ustadz Abu Afrin dan Ustadz Abu Ayman. Ketiga anggota dewan juri menjadi penentu kemenangan berada di pihak siapa.

Aksi-aksi yang ditunjukkan peserta lomba sangat unik. Anak asuh ustadz Rival, misalnya. Dengan corak kostum yang beraneka ragam, ternyata mereka disatukan dengan dasi yang dikenakan seluruh anggota tim. Di sini terlihat kekompakan tim mereka.

Lain lagi yang ditampilkan oleh santri asuhan ustadz Abdul Aziz. Walaupun terkesan monoton, tapi penampilan mereka beda sendiri. Ada syair-syair yang tidak familiar yang menandakan bahwa mereka ingin tampil beda dari yang biasanya.

Yang paling unik adalah penampilan terakhir dari kelas XII. Mungkin karena jam terbang yang tinggi, mereka terlihat sangat kompak dan komplit. Dengan kostum paduan baju hitam celana biru, mereka tampil menakjubkan sejak awal.

Acara yang merupakan rangkaian dari IDHFEST 2015 ini berakhir pukul sekitar 21.30. Selain lomba takbiran, ada lomba poster dan lomba drama yang juga akan digelar oleh panitia. IDHFEST sendiri merupakan akronim dari Idul Adha Festival.

Hingga berita ini diturunkan, panitia masih belum mengumumkan siapa yang keluar sebagai pemenang. Salah satu dewan juri yang diminta memberikan bocoran, Ustadz Abu Ayman, hanya menjawab, “Silahkan tanya panitia.”

Read more...

OPH SMP Ar-Rohmah dan Syabab Hidayatullah Malang Gelar Baksos di Daerah Rawan Kristenisasi

Masjid Basuki Rahmat di Desa Tlogosari Dusun Tegalrejo RT 04 RW 01 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang pagi itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Sekitar 100-an warga Tegalrejo datang tumpah ruah memenuhi masjid yang berukuran 10 x 10 meter persegi tersebut. Tampak antusiasme dari wajah-wajah mereka.

Ahad (8/6/2014) itu, Organisasi Pelajar Hidayatullah (OPH) SMP Ar-Rohmah Malang dan Syabab Hidayatullah Malang, Jawa Timur sedang mengadakan kegiatan di masjid tersebut. Dikemas dengan bakti sosial, OPH memberikan bantuan alat tulis dan perlengkapan sekolah kepada puluhan anak-anak Tegalrejo. Sementara Syabab menyerahkan seratusan bingkisan berupa sembako kepada warga

Acara yang rutin diadakan OPH ini merupakan bentuk perhatian yang mendalam dari para santri Hidayatullah akan gencarnya gerakan kristenisasi di daerah Malang Selatan.

“Pembagian sembako ini sifatnya hanya ‘sampingan’. Inti dari acara ini sebenarnya adalah tausiyah penguatan aqidah. Untuk kali ini kita datangkan ustadz setempat dulu agar bisa diterima,” terang ustadz Syarif Hidayatullah, Ketua PD Syabab Hidayatullah Malang menjelaskan tujuan acara tersebut.

Dalam sambutan acara pembukaan, Ustadz Suwanto, Ketua PC Hidayatullah Sumbermanjing Kulon berkali-kali menegaskan pentingnya menjaga shalat lima waktu agar agama tidak mudah tergadai.

“Pokoknya, jaga shalat lima waktu. Itu saja dulu. Selebihnya, urusan Allah yang menjaga kita,” katanya berapi-api.

Hal senada disampaikan Ustadz Hayyun. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pentingnya menjaga dua kalimat syahadat yang menjadi pembeda antara keislaman dan kekafiran.

“Kita ditaqdirkan lahir menjadi Muslim. Sebagai seorang Muslim, wajib bagi kita menjaga eksistensikan kalimat syahadat tetap ada pada diri dan keluarga,” katanya dengan lantang.

Selain acara pembagian sembako, juga diadakan pengobatan gratis bagi warga sekitar. Adalah Ustadz Akbar dan timnya dari Islamic Medical Service (IMS) Malang yang menjadi penanggung jawab program ini. Menempati sebuah rumah kosong di samping masjid, puluhan warga datang memeriksakan diri.

Menurut Akbar, timnya sebulan sekali rutin mengadakan pengobatan gratis di pelosok-pelosok Malang, utamanya daerah selatan. Selain mengobati, tentu ada misi dakwah yang dibawanya.

Read more...

Refleksi Tahun Baru Hijriah 1435 H

Memperingati Tahun Baru Hijriyah, Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ar-Rohmah Malang, Jawa Timur, menggelar berbagai acara. Mulai Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), termasuk tahajud, hingga Jalan Sehat. Pada Senin (4/11/2013), bertepatan 30 Dzulhijjah 1434 H, digelar acara Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1435 H.

Dalam acara ini, LPI Ar-Rohmah mengundang Ketua Departemen Pendidikan Pimpinan Pusat Hidayatullah Ustadz Ali Imron, M.Ag untuk memberikan taushiah. Dalam tausiahnya di depan 700-an santri dan puluhan asatidz (para ustadz. Red), beliau mengangkat tema tentang pentingnya iman, hijrah dan jihad dalam diri seorang pemuda.

“Bangsa ini akan kembali kepada kejayaannya jika generasi muda Indonesia beriman yang benar, berhijrah kepada perubahan yang lebih baik, dan selalu menyalakan semangat jihad dalam dirinya,” ujarnya berapi-api di Lapangan Darul Jihad.

Dalam acara tersebut, seorang ustadz menguraikan napak tilas perjalanan perjuangan Umar bin Khattab yang mencetuskan pertama kali penanggalan Hijriyah. Umar yang dikenal dengan keberaniannya pernah didoakan oleh Nabi Muhammad ketika masih jahiliyah. “Ya Allah, muliakan dan kuatkan Islam dengan dua Umar,” do’a Nabi ketika itu. Yang dimaksud dua Umar salah satunya adalah Umar bin Khattab.

Acara yang digelar sejak usai Shalat Isya’ tersebut turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari para santri SMP dan SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang. SMP menampilkan Grup Shalawat, dan SMA diwakili oleh Grup Nasyid Arvo (Ar-Rohmah Voice) yang menyumbangkan dua nasyid. Acara ditutup dengan penampilan drama bahasa inggris dari perwakilan SMA.

Jalan Sehat

Pagi harinya, Selasa (5/11/2013), ratusan santri berseragam orange, Pandu Hidayatullah, berbaris rapi berkumpul di Lapangan Utama melakukan upacara. Tampil sebagai inspektur upacara, Ustadz Ali Imron yang juga Direktur LPI Ar-Rohmah Putra Malang.

Pandu Hidayatullah Tingkat Muttahid menampilkan atraksi memukau dalam pembukaan upacara.

Setelah upacara, acara selanjutnya adalah Jalan Sehat. Mengambil jalan memutar mengelilingi 2 desa, peserta terdiri dari seluruh santri dan karyawan LPI Ar-Rohmah Putra. Acara jalan sehat ini dimeriahkan dengan berbagai Door Prize menarik.

Sehari sebelumnya, OPH (organisasi Pelajar Hidayatullah) Ar-Rohmah, baik SMP maupun SMA menggelar berbagai lomba dalam rangka menyambut tahun baru. Acara ini diikuti oleh seluruh santri. Dari seni hingga fun game, membuat para santri terlihat begitu antusias mewakili kelas masing-masing.

“Hasilnya sudah keluar. Pengumuman pemenang akan diumumkan pada Senin depan pada Apel Gabungan (SMP-SMA), dirangkai dengan pengumuman pemenang Festival Idul Adha kemarin,” terang Dimas, salah seorang pengurus OPH SMA.

Read more...

Irsyad Fadlurrahman Santri Terfavorit Ar-Rohmah 2013

Setelah melalui proses yang panjang dan berbelit, akhirnya hari ini, Jum’at, 17 Mei 2013, pukul 22.00 Malam Penganugerahan ISTH Awards 2013 berhasil menuntaskan rasa penasaran santri SMP Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang. Menyisihkan favorit lainnya dengan mengumpulkan 105 poin, akhirnya Irsyad Fadlurrahman dinyatakan sebagai Santri Terfavorit 2013. Santri kelas VIII Robbani asal Kebumen ini berhasil mengalahkan unggulan lainnya dengan selisih nilai 40 dari pesaing terdekatnya, Reihan Rizki Ramadhani, kelas VII Internasional, yang hanya mampu mengumpulkan 65 poin.

Terpilihnya Irsyad sebagai Santri Terfavorit 2013 tidak lepas dari dukungan seluruh elemen kepesantrenan di SMP Ar-Rohmah, mulai dari pengasuh hingga santri. Pada proses awal, pengasuh mengajukan beberapa nama yang memenuhi syarat sebagai nominator, lalu setiap santri memberikan pilihannya kepada empat nominator yang telah ‘disaring’ oleh panitia.

Jatuhnya pilihan Santri Terfavorit terhadap Irsyad juga diluar dugaan berbagai pihak. Pasalnya, tiga favorit lainnya berasal dari kelas Internasional –Ahmad Haduhiq Syihab al Fahroni dan Reihan Rizki Ramadhani kelas VII Internasional dan Ikhsanul Akbar Rasyid dari kelas VIII Internasinal– yang merupakan kelas favorit di SMP Ar-Rohmah. “Pergaulan Irsyad yang supel dan ramah serta selalu 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun) mungkin menjadi nilai lebih di mata anak-anak sehingga anak-anak lebih memilih dia, “jelas Ust. Khoirul Anam, Pembina ISTH.

Selain penganugerahan santri terfavorit, ISTH Awards juga memberikan apresiasi kepada sembilan santri lainnya yang berhasil keluar sebagai juara pada berbagai kategori penilaian. Kategori-kategori yang dinilai adalah seluruh aspek dilingkungan asrama, yaitu Khitobah Bahasa Arab, Tilawah Al-Qur’an, Tahfidz Al-Qur’an Tingkat A dan Tingkat B, Karya Seni, Teladan ‘Kutaib’, Kedisiplinan, Akhlaq dan Ibadah. Untuk setiap kategori, seluruh pengasuh mengajukan dua orang santri asuhnya yang memenuhi syarat dan ketentuan sebagai nominator. Setelah ‘disaring’ dengan berbagai syarat-syarat rumitnya, tersisalah tiga orang nominator untuk setiap kategori. Penentuan the best of the chategory ditentukan langsung oleh Kepala Asrama SMP Ar-Rohmah, Ust. Nur Ikhsan, S.Pd.I.

Nama-nama the best of the chategory itu adalah, Alif Sakti Fadharis (VIII Al Azhar, asal Probolinggo) untuk kategori Khitobah, Muhammad Hafidz Hibatullah (VII Internasional, asal Papua) untuk kategori Tilawah, Muhammad ‘Iffat Faadhil (VIII Internasional, asal Gresik) untuk kategori Kedisiplinan, Wildan Amarullah Arrosyid (VII Internasional, asal Gresik) untuk kategori Tahfidz A, Alif Faadhillah Prasetyo (VIII Internasional, asal Bali) untuk kategori Tahfidz B, Reyhan Salsabil (VIII Al Azhar, asal Banyuwangi) untuk kategori Karya Seni, Tubagus Nashrul Mubarok (VIII Internasional, asal Probolinggo) untuk kategori Akhlaq, Primus Muhammad Ihza Kusuma (VII Olimpiade, asal Malang) untuk kategori Teladan Kutaib, dan Ahmad Haduhiq Syihab al Fahroni (VIII Internasional, asal Malang) untuk kategori Ibadah. “Butuh waktu kurang lebih setahun untuk menilai mereka berhak mendapat apresiasi di Malam Penganugerahan ini, “terang Ust. Khoirul Anam.

Sebuah kehormatan untuk anggota ISTH sendiri adalah terpilih sebagai ISTH Terbaik 2013. Predikat ini dikhususkan untuk mengapresiasi anggota ISTH 2013 yang kinerja baik dan bagus. Sebuah anugerah besar pula bagi Muhammad Nashiruddin Ilyas untuk bisa terpilih menjadi IST Terbaik 2013. Santri asal Malang kelas VIII Internasional ini berhak mendapat predikat prestesius sebagai ISTH Terbaik berkat kerja keras dan kesabarannya membimbing 29 kawannya di lingkungan ISTH. Nashir, begitu dia disapa, adalah ketua terpilih ISTH untuk masa jihad 2012-2013.

Read more...

I’dad al-Quwwah V; Sparring ala Ar-Rohmah

SORAK-SORAI suara saling sahut membahana memecah sore yang sepi. Ruang Serba Guna itu tiba-tiba ramai tidak seperti biasanya. Bukan tanpa alasan. Sorakan tersebut adalah sorakan memberi dukungan. Teriakan untuk memberi semangat dan kekuatan. Layaknya sebuah pertandingan di stadion besar, setiap pemain memiliki pendukung tersendiri.

Ya, bukan tanpa alasan. Sore itu santri-santri Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur mendapat suguhan menarik. Jika biasanya yang mereka saksikan adalah pertandingan futsal antar lima pemain lawan lima pemain dengan sistem kalah ganti, maka sore itu yang ada satu lawan satu. Tetapi pertandingan kali ini bukan tentang bola yang sekedar tendang menendang, melainkan saling tinju dan saling tendang dalam sebuah arena seluas 5 x 5 meter.

Seorang pemain yang berasal dari ‘sudut biru’ menggunakan safety (pengaman) lengkap berwarna biru. Pemain satunya dari ‘sudut merah’ menggunakan pengaman warna merah. Seorang wasit pengadil jalannya pertandingan terlihat mondar-mandir di arena pertandingan. Sedang tiga juri di setiap sisi arena mengamati dan menentukan kemenangan berada pada pihak merah atau biru. Inilah sparring (tarung, biasa disebut tajadul) ala Ar-Rohmah.

Dikemas dengan nama I’dad Al-Quwwah, acara ini mendapat sambutan positif dari ratusan santri SMP – SMA Ar-Rohmah Putra Malang. Acara tahunan yang diadakan atas kerjasama ISTH (Imarotu Syu’uni at-Tholabah Hidayatullah, organisasi kesantrian semacam OSIS dengan ruang lingkup kegiatan keasramaan) SMP – SMA Ar-Rohmah ini merupakan yang kelima kalinya digelar. Pertama kali digelar pada 2007. Seharusnya tahun ini sudah ketujuh kalinya digelar, tetapi gagal diadakan pada 2008 dan 2011 karena beberapa sebab.

Acara yang menjadi salah satu program andalan ISTH ini selalu ditunggu dan dinanti. Pasalnya acara ini berbeda dengan acara-acara lainnya yang sering digelar seperti futsal dan basket. Selain itu, i’dad (persiapan) lebih mengedepankan pada kemampuan pribadi, bukan pada kelompok. Jadi peserta ikut mewakili diri sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain dan bukan mewakili kelompok manapun. Peserta yang ikut berarti memiliki mental dan keberanian yang lebih. Walaupun mereka kalah tak jadi soal, sebab mereka sudah bangga berani ikut i’dad dibanding santri yang lain.

I’dad kali ini dibuka secara resmi oleh Kepala Asrama SMA Ar-Rohmah Putra, Ustadz Jumari S.Pd. pada Jum’at, 26 April 2013 pukul 20.30 WIB. Dalam sambutannya, beliau berpesan kepada para santri untuk tetap menjaga sportivitas dan kejujuran. Dalam seremonial pembukaan ini hadir seluruh peserta i’dad yang berjumlah 151 orang. Walau digelar malam hari, para pengasuh yang mendapat undangan sebagai dewan juri tak ketinggalan hadir memberi support (dukungan). Semangat peserta sudah mulai terasa pada acara pembukaan ini. Terbukti dari teriakan takbir mereka yang sangat keras dan semangat.

Sayembara Push UP

Mengambil tema “Reach Our Glory Through the Spirit of Jihad”, acara ini mulai terasa ‘panas’ sejak pertandingan pertama pada sore Sabtu, 27 April 2013 itu. Hingga ketika peringatan waktu shalat Maghrib dari masjid terdengar, pertandingan baru diselesaikan. Dari ba’da (usai) Ashar hingga menjelang Maghrib sore itu, beberapa ‘pendekar’ sudah banyak yang berguguran. Pertandingan dilanjutkan kembali setelah ‘Isya hingga pukul 22.00 WIB.

Selama dua pekan, setiap Sabtu dan Ahad, dari 27 April – 4 Mei 2013, banyak ‘korban’ berjatuhan. Begitu pula sebaliknya, banyak ‘pendekar’ yang bermunculan. Hingga pada partai puncak yang digelar Ahad sore, 4 Mei 2013, pertandingan tinggal menyisakan 6 pendekar yang memperebutkan juara I dan II pada masing-masing kelas pertandingan; A, B, C dan kelas Bebas.

Di Kelas A, keluar sebagai juara I adalah Muhammad Arif Furqon (VIII Internasional, asal Malang) yang mengalahkan Achmad Ma’mun Murod (VIII Al-Azhar, asal Pasuruan). Pada partai penentu di kelas B, Amirul Imam Mustofa (XI IPS, asal Bima) menang tipis atas Adhitya Mohammad (VIII Al-Azhar, asal Batam) yang harus bersabar di juara II. Di kelas C, Mohammad Adib (VIII Robbany, asal Palu) menang tanpa bertanding atas Fahim Irfan Robbani (XI IPS, asal Bojonegoro) yang cedera pada partai semifinal.

Pertandingan tak kalah serunya terlihat pada partai final kelas Bebas antara Ilyasa Fahrur Riza (XI IPS, asal Situbondo) melawan Fahmi Ervinuddin (X-A, asal Gresik). Pada game terakhir ini, permainan tenang Ilyasa mampu meredam permainan agresif Fahmi. Pada akhirnya, Ilyasa menang telak dan keluar sebagai juara I.

I’dad kali ini terasa berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Pasalnya, jajaran dewan juri berasal dari berbagai daerah di tanah air. Ustadz Muhammad Iqbal misalnya, alumni Pondok Al-Mukmin Ngruki, Solo dan sekarang tercatat masih kuliah di Yaman. Tak ketinggalan perwakilan dari Ma’had Darus Syahadah Solo, Ustadz Musthafa. Dari Malang sendiri ada Ustadz Gatut Sultan (pembina dan pelatih Wushu Malang), Wildan Maulana (alumni Ar-Rohmah asal Pasuruan dan mahasiswa Universitas Negeri Malang).

Turut ambil bagian pula Ustadz Hidayat Rosyidi (mahasiswa tingkat akhir di Brawijaya University asal NTT) dan Ustadz Muhammad Hasbi (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang asal NTT). Dari Balikpapan, Ustadz Tafdhil Umam –sekarang sedang kuliah semestear akhir di UMM- dan Ustadz Abdul Aziz Basyier –alumni STIS Hidayatullah Balikpapan- juga masuk dalam jajaran dewan juri I’dad Al-Quwwah V ini. Dua juri terakhir dari Ma’had ‘Isy Karima Solo, Ustadz Muslim Al-Hafidz dan Ustadz Arif Al-Hafidz.

Sambil menunggu penyerahan hadiah, panitia mengadakan sayembara berhadiah. Sayembara Push Up dengan satu tangan ini berhadiah voucher makan bakso selama seminggu. Banyak peserta yang ikut dalam sayembara. Namun panitia hanya menyediakan 3 voucher yang dimenangkan oleh Muh. Sina (XII IPS, Malang, Fahim Irfan (XI IPS, Bojonegoro) dan Barock (VIII Robbany, Malang).

Penyerahan hadiah kepada 6 pemenang I’dad Al-Quwwah V ini berlangsung khidmat. Walaupun banyak kekurangannya, semua peserta dan penonton merasa puas. Tanggapan positif juga berdatangan dari para wali santri yang ketika itu datang menjenguk anaknya. “Tahun depan harus lebih baik dari i’dad kali ini,” ujar Barkah, salah seorang panitia, optimis.

Acara ini digelar ISTH dalam rangka membekali fisik dan mental para santri dalam menyongsong masa depan Islam. Bukan sebagai ajang balas dendam, pamer kekuatan, dan sebagainya yang tidak seirama dengan ajaran agama.

“Seperti yang kita tau. Saat ini posisi Islam selalu dijadikan kambing hitam dan sangat terpuruk. Karena itu, sebagai generasi muda Islam, kita harus mempersiapkan diri secara mental maupun fisik untuk meraih kejayaan Islam,” tulis ISTH dalam akun TwitterIQ @isthboarschar belum lama ini.

Read more...