Lestarikan Budaya Bangsa, SMP Ar-Rohmah Putra Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

Lestarikan Budaya Bangsa, SMP Ar-Rohmah Putra Hidupkan Kembali Permainan Tradisional
Lestarikan Budaya Bangsa, SMP Ar-Rohmah Putra Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

ARROHMAHPUTRA.COM — SMP Ar-Rohmah Putra Boarding School Malang Pesantren Hidayatullah Malang menggelar kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Getting to Know Traditional Games in the Modernization Era”, Rabu-Jum’at (29-31/1).

Berlangsung di Aula Utama LPI Ar-Rohmah Putra dan lapangan Ghaza, kegiatan yang dihelat selama 3 hari tersebut diikuti oleh seluruh santri kelas VIII dan kelas IX.

Kepala Sekolah SMP Ar-Rohmah Putra, Syarif Hidayatullah, dalam sambutannya mengatakan pentingnya memperkuat karakter positif santri di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini.

“Di era yang disebut modern ini, kemajuan teknologi telah mendisrupsi banyak hal. Salah satunya permainan tradisional yang semakin terpinggirkan,”ujarnya.

Menurut ustadz Syarif, demikian sapaan akrabnya, berbagai permainan tradisional di Indonesia akan semakin asing dan bisa jadi punah bila tidak dilestarikan bersama. Padahal, beragam permainan tradisional itu merupakan warisan budaya bangsa yang sangat berarti bagi para generasi muda.

Permainan tradisional itu, terang ustadz Syarif, tidak hanya menjadi ajang hiburan semata. Tetapi juga sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai kebersamaan, kerjasama, ketekunan, dan persaudaraan. Melalui permainan tersebut, para santri dapat belajar tentang pentingnya bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, menghormati aturan main, dan menghadapi tantangan dengan semangat juang yang tinggi. Semua nilai-nilai tersebut pun membantu memperkuat jati diri dan karakter positif generasi muda sebagai penerus bangsa.

Sementara itu Moh. Afif Prima Diansyah selaku Ketua Pelaksana mengatakan bahwa, para santri Ar-Rohmah Putra dikenalkan dan bermain Bola Beracun di hari pertamanya. Permainan ini mirip dengan permainan dodgeball, tetapi dapat dimainkan di ruangan yang lebih kecil hanya dengan satu bola. Permainan ini cukup menantang dengan memanipulasi objek. Yakni ; melempar bola, menangkap bola, berlari, dan melompat.

Di hari kedua, para santri bermain Gobak Sodor. Permainan ini saling menghalangi lawan untuk mencapai garis akhir ini dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari tiga orang atau lebih. Satu tim sebagai penghalang dan satu tim sebagai penyerang. Gobak sodor dimainkan di lapangan berbentuk bujur sangkar yang pembatasnya ditandai dengan kapur. Posisi penyerang dan penjaga ditukar ketika pemain penyerang disentuh oleh pemain penghalang. Dalam permainan ini, terdapat banyak gerakan yang tidak sederhana.

Sedangkan pada hari ketiga, para santri bermain bentengan. Permainan ini dimainkan oleh dua grup, masing-masing terdiri dari 4 sampai 8 orang. Tiap grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai benteng. Inti dari permainan ini adalah pemain harus menjaga bentengnya sendiri dan mengambil alih benteng milik lawan.

“Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri dengan antusias. Dan diakhiri dengan pengisian lembar kerja siswa yang berisi refleksi serta pemahaman mereka tentang nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional ini,”pungkasnya.(Kontributor: Dwi Nanda P. | Editor: Rypur)

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email