INSPIRASI KAMI

Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi yang menjadi target transformasi ilmu dan materi. Tujuan ini merupakan  panduan dan acuan bagi seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan. Maka, sebagaimana pengertiannya, Pendidikan Islam merupakan  upaya sadar, terstruktur, terprogram  dan sistematis bertujuan untuk membentuk manusia sesuai dengan visi dan misi penciptaanya yaitu sebagai ‘abdullah dan kholifah-Nya dengan karakteristik

  1. memiliki mental spiritual yang kokoh -aspek ruhiyah-
  2. memiliki ilmu dan keluasan wawasan kehidupan -aspek aqliyah-
  3. memiliki keahlian dan ketrampilan –aspek jismiyah. Ketiga  karakter tersebut dengan indikasi taqwa, cerdas dan trampil.

Pada prinsipnya terdapat lima langkah dalam metode pembentukan dan pengembangan ruhiyah islamiyah dalam diri seseorang sebagaimana Allah telah membimbing Rasulullah SAW. sesuai dengan urut urutan nuzulnya wahyu yaitu Pertama,  menanamkan  aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode mengenalkan apa sesungguhnya hakikat tuhan alam dan manusia itu. Dari sanalah akan lahir kesadaran tauhid sebagai landasan dalam memandang hidup dan kehidupan. Kedua,  membangun cita cita menegakkan Islam sebagai konsekwensi dari beraqidah Islam. Ketiga, membekali diri dengan ibadah ritual, membangun hubungan dengan Allah sebagai sumber haul dan quwwah. Keempat, mengajak untuk tampil kegelanggal menyampaikan amat Islam. Dan kelima, membangun Islam yang utuh dengan menampilkan sosok yang islami.

 

Membentuk mental spiritual/ Tarbiyah Ruhiyah

 

Tujuan yang pertama ini pada hakikatnya merupakan konsekuensi keimanan kepada Allah yaitu  bahwa ia harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah yang terrefleksikan dalam keta’atan dan ketundukkan terhadap  syari’at Islam.

Sebenarnya, begitu seseorang merasa mantap dengan aqidah Islam yang dipeluknya dan bertekad membangun kepatuhan dan ketundukan kepada Allah berdasar aqidah yang benar sudah mengindikasikan bahwa yang  bersangkutan telah berhasil membentuk ruhuyah islamiyah dalam dirinya.

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sehingga dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti  apa-apa (dinul Islam) yang kubawa.” (Hadits Arba’in An Nawawiyyah)

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga aku menjadi akalnya yang ia berpikir dengannya.” (Hadits Qudsi)

 

Memiliki keluasan ilmu pengetahuan (tarbiyah aqliyah)

 

Tujuan kedua ini sebenarnya juga merupakan konsekuensi lanjutan dari ke-Islaman seseorang. Islam mendorong setiap muslim  untuk menjadi seorang manusia yang berilmu dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin,  Bab Ilmu, membagi ilmu  dalam dua kategori ilmu berdasarkan takaran kewajibannyaPertama adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini  adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam, seperti pemikiran, ide dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah nabawiyah, ulumu al-Qur’an dan tahfidzu al-Qur’an, ulumu al-Hadits dan tahfidzu al-Hadits, ushu al-fiqh dan sebagainya. Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh salah satu atau sebagian saja dari umat Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini  adalah ilmu-ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan, seperti ilmu kimia, biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik dan sebagainya.

“ Katakanlah (hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Az-Zumar: 9)

“ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”(H.R. Baihaqi, Anas RA, Atthabrani)

Dalam ayat di atas, Allah SWT menjelaskan ketidaksamaan  antara orang-orang yang berilmu dengan yang bodoh.  Antara ilmu dan kebodohan, masing-masing memiliki martabat dan kedudukan yang berbeda di mata masyarakat dan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu Allah SWT berfirman:

“Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah: 11)

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga golongan yang akan memberi syafaat (pertolongan) di hari Kiamat: (1) para nabi, (2) para ulama (orang yang berilmu), (3) syuhada.” (HR. Ibnu Majah dari Usman bin Affan)

Selanjutnya,  Al Qur’an mengancam orang-orang yang telah memeluk Islam sementara mereka  tidak (mau) memahami  Islam dan Al Qur’an. Allah mencapnya dengan lafaz jahiliyah.

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33)

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al Maidah: 50)

“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “ Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154)

Dorongan kuat agar setiap muslim menuntut ilmu pengetahuan , membuktikan bahwa  Islam membentengi  manusia dengan menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim, termasuk dalam tata cara berpikir, berkehendak, sehingga setiap tindakannya terlebih dulu diukurnya dengan standar aqidah Islam. Dengannya setiap muslim memiliki pijakan yang sangat kuat  dan dengan cerdas membaca segala persoalan dam mampu mencarikan solusi secara tepat dan Islami.

Memiliki ketrampilan yang profesional (tarbiyah jismiyah)

 

Tujuan yang ketiga adalah merupakan Perhatian  besar Islam pada ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian, menempatkannya sebagai salah satu tujuan pendidikan Islam. Penguasaan keterampilan yang serba material ini juga  merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam rangka pelaksanaan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash dalam Al Qur’an dan Hadits yang mengisyaratkan kebolehan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan umum atau keterampilan (seperti  yang beberapa di antaranya  telah diungkapkan sebelumnya). Sebagaimana halnya dengan iptek, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardlu kifayah, yaitu suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian rakyat apabila ilmu-ilmu tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri,  penerbangan, pertukangan dan lainnya.

“Tuntutlah pada apa yang diberikan kepadamu oleh Allah akan akhirat, dan jangan engkau melupakan bahagianmu di dunia ini.” (QS. Al Qashash: 77)

“Siapkanlah bagi mereka kekuatan dan pasukan kuda yang kamu sanggupi.” (QS. Al Anfal: 60)

Juga firman Allah tentang Nabi Nuh AS.:

“Buatlah perahu dengan pengawasan dan ajaran kami. Dan jangan kamu bercakap kepadaku tentang orang-orang yang aniaya. Sesungguhnya mereka itu tenggelam.” (QS. Hud: 37)

Begitu pula firman Allah tentang Nabi Daud AS:

“Kami ajarkan kepadanya tentang cara membuat pakaian untuk melindungi  kamu dari bahaya. Adakah kamu bersyukur.”  (QS. Al Anbiya: 80)

“Hiasilah wanita-wanita kalian dengan ilmu tenun.” (HR. Al Khatib dari Ibnu Abbas RA)

Dalam kitab Al Furusiyah (Ibnul Qoyyim), diriwayatkan bahwasanya Rasulullah suatu ketika melihat dan menunjuk busur-busur panah buatan orang-orang Arab. Beliau berkata: “Dengan ini, dengan busur-busur, tombak, Allah SWT mengokohkan kekuasaanmu di dalam negeri dan  menolong kalian atas lawan-lawanmu.”

Pada kali yang lain, Rasulullah SAW pernah memerintahkan Asy-Syifa binti Abdullah agar mengajarkan kepada Hafshah Ummul Mukminin tentang menulis dan pengobatan dengan doa dan jampi. Beliau juga pernah menganjurkan kaum muslimah agar mempelajari ilmu tenun, menulis dan merawat orang sakit (pengobatan).