Tausiyah

Menangis (Lagi)

Menangis kadang membuat orang dekat dengan sifat lemah, rapuh dan cengeng. Maka, jangan heran, banyak lelaki yang tak ingin menangis atau menampakkan kesedihan di depan orang banyak. Sebab lelaki identik dengan sifat kuat, tegar, tegas dan tak mudah menangis.

Benarkah demikian? Mungkin ada benarnya. Dan menurut saya, tidak sepenuhnya benar.

Ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita harus banyak menangis; lelaki maupun perempuan. Dari sisi kesehatan, air mata dipercaya mampu menghilangkan bakteria, mengeluarkan racun, membantu kejernihan penglihatan, dan sebagainya. Dari sisi psikologis, menangis emosional mampu menghilangkan stress berlebihan, memperbaiki mood, melegakan perasaan, dan banyak lagi.

Menangis juga terbagi beberapa macam, tergantung sebab meledaknya tangisan tersebut. Tangisan orang dewasa, bisa terjadi karena kasih sayang dan lembutnya hati, atau karena rasa takut, terlalu gembira, ada rasa cinta yang membuncah, atau menangis haru. Ada juga tangisan lain yang disebabkan karena terlalu sedih, tak kuasa menahan derita, merasa hina dan lemah, agar mendapat belas kasihan orang lain, atau ikut-ikutan menangis karena orang lain menangis. Bahkan ada juga tangisan pura-pura, yaitu tangisan orang munafik.

Dalam ajaran agama, menangis merupakan bukti adanya iman di dalam hati. Semakin sering seseorang menangis, maka itu bukti bahwa hatinya lembut penuh keimanan. Para shahabat –ridhwanullahu alaihim- yang memiliki hati lembut sangat mudah menangis. Tangisan mereka bukan karena cengeng dan rapuh. Sebaliknya, tangisan mereka adalah ungkapan jujur dari hati yang bersih; tangisan yang lahir dari rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Ada banyak hadits nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dan atsar orang-orang shalih tentang keutamaan menangis karena Allah.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Abu Umamah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetesan dan dua bekas. Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Sedangkan dua bekas itu adalah bekas-bekas fii sabilillah (jihad) dan bekas-bekas mengamalkan kewajiban Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu berkata, ”Sesunggunya, aku menangis karena takut kepada Allah, ini lebih aku cintai dari pada bersedekah sebanyak seribu dinar.”

Yazid Ar-Riqasyi berkata, “Telah sampai riwayat kepadaku bahwa orang yang menangisi satu dosa dan sekian dosa-dosanya, maka dua malaikat penjaganya lupa terhadap dosa tersebut.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Menangis itu dibagi menjadi sepuluh bagian, yang satu bagian karena Allah dan yang sembilan bagian semuanya karena riya’. Jika yang satu bagian itu terjadi setahun sekali, insya Allah dia akan selamat dari neraka.”

Lalu, kapan terakhir kali kita menangis karena Allah? Berikut ini ada kisah yang ditulis langsung ustadz Utsman Adhim, murobbi kelas IX, tentang tangisannya yang baru terjadi lagi sejak sekian lama. Semoga kita dapat mengambil ibroh darinya.

“Alhamdulillah setelah ramadhan jauh berlalu akhirnya menangis lagi di dalam sholat,” gumam saya dalam hati.

Tadi, saat sholat lail bersama para santri kita (santri kelas IX, red) tiba-tiba saya tersentak. Hati saya berguncang saat Mas Fariqi, imam shalat ada kesempatan itu, sampai pada bacaan ayat ke-33 dari surah alQolam :

(كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ)

Artinya: “Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.”

Tidak hanya sekali. Ayat dahsyat ini diulangnya lagi hingga dua kali. Karuan saja, dada semakin tergetar. Air mata segera menganak sungai membasahi kelopak yang telah lama kering. Lalu tertumpah berkejaran membasahi pipi.
Ayat ini menginformasikan tentang sifat orang kafir quraisy yang ingkar akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka, yakni hamparan kebun luas nan subur. Mereka lupa dan enggan bershadaqah sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat yg Allah berikan kepada mereka.

Karena keingkarannya itu, orang kafir quraisy satu sama lain merencanakan akan menghalang-halangi orang miskin yang mau datang ke kebun mereka, seperti firman Allah Ta’ala:

(فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ. أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ)

Artinya : “Maka pergilah mereka dengan saling berbisik-bisikan: ‘Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.’”

Maksudnya sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lainnya, janganlah kalian izinkan seorang miskin pun memasuki kebun kalian karena mereka mau meminta-minta.

Maka sebagai balasannya Allah membumi hanguskan kebun yang siap panen itu. Digambarkan oleh para mufassir setelah kejadian itu bahwa kebun-kebun tersebut seperti “malam yang gelap gulita” atau seperti “tanaman-tanaman di kebun itu habis tanpa sisa, seperti telah dipanen.”

(لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ)

Artinya : “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku pasti akan menambah nikmat Ku atas kalian, tapi kalau kalian mengingkarinya, maka sungguh azab Ku (sebagi gantinya) amatlah pedih.”

Demikianlah Allah menguji makhluknya dengan kemapanan, seperti umat-umat sebelumnya. Dan mereka akan mengetahui azab Allah jika menahan hartanya dari fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya.

Allahua’lam bishshowab.

Read more...