Profil Santri

Furqon: Duta Fisika Yang Ingin Membuat Pesawat

Perawakannya kecil. Hitam manis kulitnya. Kalau senyum, suka malu-malu. Terkesan agak pendiam, tapi enak diajak ngobrol. Oleh kawannya, dia dikenal baik, keren, pintar, sabar, rajin, tekun, rendah hati, istiqomah, gaul, kece, friendly.

Prestasinya segudang. Hafalannya juga banyak. Walau demikian, dia tidak sombong. Di kelas maupun di kamar, ketika ada teman yang kesulitan memahami pelajaran, dia selalu menjadi rujukan untuk bertanya setelah ustadz. “Mau mengajari teman jika diminta,” tulis seorang kawan sekamarnya ketika malam muhasabah beberapa waktu lalu. “Suka bagi-bagi ilmu,” tambah yang lain.

Mencarinya di antara 600-an santri tidaklah sulit. Selepas halaqoh subuh, ketika santri-santri sudah kembali ke asrama untuk persiapan sekolah, ia masih akan terlihat khusyuk melafalkan ayat-ayat alQur’an. Tidak banyak santri yang seperti ini; menambah waktu hafalan secara mandiri ketika halaqoh sudah bubar secara formal. Jika waktu formal halaqoh berakhir pada pukul 05.30 WIB, maka ia masih betah menghafal hingga pukul 06.00 WIB, bahkan tak jarang lebih dari itu.

Di kelas, ia juga dikenal memiliki akhlak yang baik. Ta’zhim kepada gurunya juga bagus. “Ketika belajar fisika, misalnya. Walaupun ia sudah paham dengan pelajaran, ia tetap masih khusyu memperhatikan penjelasan saya,” komentar salah seorang gurunya.

Diakui gurunya tersebut, ia memang tekun dalam belajar dan rajin bertanya pada pelajaran yang belum dimengerti. Rasa penasarannya terhadap soal-soal fisika sangat besar dan tinggi. Inilah yang menjadikan dirinya selalu termotivasi untuk selalu ikut lomba, fisika khususnya.

Dialah Muhammad Arif Furqon. Sehari-hari, dia lebih dikenal dengan panggilan Furqon. Anak ke-3 dari pasangan Abdul Rohman dan Idah Hadijha ini sudah 4 tahun lebih ‘hidup’ sebagai santri di LPI Ar-Rohmah Putra, Pondok Pesantren Hidayatullah Malang. Setelah 3 tahun belajar di SMPAr-Rohmah Putra, tidak ada pilihan lain baginya untuk tidak melanjutkan ke almamaternya di SMA Ar-Rohmah Putra. “Saya belum siap dengan dunia luar yang penuh dengan godaan,” jawabnya dengan yakin.

Duta Fisika

Santri-santri LPI Ar-Rohmah mungkin lebih mengenal dirinya sebagai duta fisika Ar-Rohmah. Bukan tanpa sebab. Santri yang kelahiran Malang ini memang selalu mewakili sekolah untuk mengikuti lomba fisika; baik ketika di SMP dulu maupun di SMA saat ini. Lomba terakhir yang diikutinya sebelum tulisan ini diturunkan adalah OSN Fisika tingkat provinsi mewakili Kabupaten Malang.

Sejak kelas VIII, Furqon memang sudah mulai mengikuti berbagai lomba fisika. Ada pengalaman menarik ketika Furqon didapuk mewakili Kabupaten Malang untuk mengikuti OSN Fisika tingkat provinsi. Saat itu Furqon masih kelas VIII. Untuk mensukseskan langkahnya di tingkat provinsi, oleh sekolah ia harus belajar intensif langsung dari dosen fisika. Selama sepekan, setiap pagi ia harus berangkat ke Universitas Negeri Malang, belajar dari dosen tersebut. “Alhamdulillah, walaupun tidak juara di tingkat provinsi, saya sudah bangga sempat menjadi mahasiswa satu pekan,” ujarnya membesarkan hati.

Pergi Nebeng, Pulang Tak Dijemput

Lain lagi ceritanya ketika SMA. Lombanya sama. OSN Fisika tingkat provinsi. Mewakili Kabupaten Malang. Ketika itu, Furqon sudah duduk di kelas X. Pengalaman yang didapatkan ketika itu kurang mengenakkan; pergi nebeng, pulang tidak dijemput.

Selama berhari-hari, Furqon kembali harus belajar intensif. Belajar dari pagi hingga sore. Lanjut kembali setelah makan malam hingga jam 22.00 WIB. Begitu terus ritme belajarnya selama dua pekan. 3 hari sebelum hari H, Furqon berangkat ke Masjid Sabilillah Malang dengan diantar salah seorang guru. Di sana, ia harus menunggu rombongan dari SMA Negeri 1 Kepanjen yang bertujuan sama; berangkat ke Surabaya untuk mengikuti OSN Fisika tingkat provinsi.
Kurang lebih 2 hari di Surabaya, tiba saatnya kembali ke Malang. Sebagaimana saat berangkat, ia juga harus nebeng dengan rombongan SMAN 1 Kepanjen yang membawa mobil. Kemudian, diturunkanlah ia di Masjid Sabilillah seperti saat dijemput sebelumnya. Naas bagi Furqon. Isya lama telah lewat, dan belum seorang pun yang datang menjemput untuk sampai ke pondok. “Lama menunggu, hingga yang muncul adalah bapak saya. Saya lalu pulang ke rumah, dan kembali ke pondok keesokan pagi,” lanjutnya menerangkan.

Target Harian

Satu yang patut dicontoh dari diri Furqon adalah kesungguhannya untuk belajar secara mandiri. Setiap hari kecuali Ahad, ia menargetkan menghafallan ayat-ayat alQur’an 1 halaman. Jika menggunakan mushaf standar ustmani, 1 halaman adalah 15 baris. Maka tak heran, di tahun pertama di SMA, hafalannya sudah sampai di juz ke-7.

Selain mendalami hafalan alQur’an, putra kelahiran Malang ini juga menarget dirinya harus bisa menyelesaikan dan memecahkan 6 soal fisika setiap harinya. Ketika menemui kesulitan dalam memecahkan soal-soal, banyak kesempatan untuk bertanya kepada gurunya. Sebab, setiap malam –kecuali Sabtu dan Ahad–, guru sekaligus wali kelasnya, Ustadz Abdurrahman juga memberikan les tambahan buat Furqon dan yang lainnya. Khusus Sabtu siang dan Ahad malam Ustadz Abdurrahman mewajibkan Furqon hadir mengikuti pembinaan.

Dengan intensitas belajar yang seperti ini, wajar jika banyak juara diraihnya. Berbagai lomba diikutinya. Berbagai piala dan penghargaan diraihnya. Tak hanya kejuaraan dan olimpiade, rangking kelas juga selalu menjadi langganannya.

Di tahun 2012/2013 misalnya, ketika masih duduk di bangku kelas VIII, Furqon menempati posisi 5 besar lomba Fisika se Jawa Timur yang diadakan MAN 3 Malang. Kemudian, tak lama berselang, di event OSN Fisika se Kabupaten Malang ia berhasil meraih juara 2. Di tahun ini juga, ia dinobatkan sebagai salah satu Siswa Berprestasi Kabupaten Malang.

Setahun kemudian, tahun pelajaran 2013/2014, Universtias Brawijaya mengadakan event BRAPHY (Brawijaya Physics Event) yang digelar se Jatim. Furqon yang sudah duduk di kelas IX saat itu, mampu mendapatkan posisi 4 besar untuk lomba Olimpiade Fisika. Masih di tahun yang sama, Furqon meraih juara pertama lomba Matematika IPA yang digelar di SMAN 1 Sidoarjo.

Prestasinya terus terukir. Di tahun pelajaran 2014/2015, Furqon kembali meraih juara 1 Fisika. Gelaran ini diadakan oleh MKKS Swasta se Kabupaten Malang. Selanjutnya, ia meraih tempat ke 2 dalam OSN Fisika se Kabupaten Malang dan menjadi salah satu wakil Kabupaten Malang untuk bertanding di tingkat provinsi.

Selain hobi fisika, Furqon juga hobi futsal dan beladiri. Taekwondo-in sabuk kuning ini tercatat pernah mendapat juara 2 Taekwondo ITATS Cup. Di dalam pondok sendiri, ia pernah juara 1 I’dad alQuwwah kelas A. Untuk futsal, ia pernah mengantarkan timnya meraih juara 2 pada JEF-L tahun 2012/2013.

Furqon empat dari kiri bersama teman-temannya kelas XI

Kini, Furqon telah duduk di bangku kelas XI. Ada harapan besar di dadanya untuk mengejar cita-cita besarnya.

“Saya ingin seperti BJ. Habibie; bisa membuat pesawat terbang,” ungkap Furqon dengan yakin.

Untuk mewujudkan cita-cita besarnya tersebut, Furqon berniat melanjutkan kuliah selepas SMA di bidang kedirgantaraan. Untuk itu ia juga punya harapan besar lainnya untuk bisa kuliah di tempat yang bisa mewujudkan cita-citanya membuat pesawat terbang tersebut.

“Teknik Aeronotika ITB, i’m coming,” tutupnya yakin.

Read more...