Kolom Ustadz

Sepasang Sandal dan LGBT

Saya mengikuti beberapa grup whatsapp belajar bahasa arab. Walau santai, pelajaran berbasis online seperti ini juga tetap membutuhkan keseriusan. Bahkan, ada sebuah grup yang membuat aturan sangat ketat; sekali gak kerja PR, langsung di-kick dari grup alias DO. Sudah DO, bayar denda juga. Persis seperti “sudah jatuh, tertimpa tangga pula”.

Di salah satu grup yang saya ikuti tersebut, pembahasan sore ini seputar “sandal”. Yah, sandal yang diciptakan sebagai alas kaki agar kaki nyaman dibuat jalan. Sandal, yang dalam bahasa arab dikenal dengan na’lun itu tiba-tiba menjadi tema hangat penunggu sajian buka puasa. Apa pasal?

Asal mulanya adalah pertanyaan seorang ‘santri’ tentang status sandal; apakah dia laki-laki atau perempuan. “Suhu, mau nanya. Na’lun itu muzakkar atau muannats?” tanya santri tersebut. Pertanyaan sederhana yang jawabannya memicu diskusi panjang.

Jawaban pertama yang muncul adalah: laki-laki alias muzakkar. Alasannya jelas. Tak ada ta’ marbuthoh yang menjadi ciri khas muannats di ujungnya.

Belum saja jawaban itu di-sah-kan oleh pembimbing, ada lagi jawaban lain bahwa sandal adalah muannats. Alasan yang diberikan karena sandal itu berpasangan. Dan sebagaimana diketahui, benda-benda yang berpasangan biasa dikategorikan sebagai perempuan. Seperti tangan, mata dan kaki, walaupun tidak diakhiri ta’ marbuthoh, iya tetap terkategori berjenis peremuan. Sebab “hidup” berpasangan.

Secara kaidah, kata benda dalam bahasa Arab hanya dibagi menjadi dua jenis saja; laki-laki dan perempuan. Laki-laki diistilahkan dengan muzakkar, dan perempuan disebut muannats. Kedua jenis kelamin ini memiliki jenis turunan lagi.

Muzakkar terbagi menjadi dua; muzakkar haqiqi dan muzakkar majazi. Muzakkar yang haqiqi adalah laki-laki yang benar-benar laki-laki; sebab memang jenis kelaminnya menunjukkan itu, seperti manusia yang memiliki organ kelamin laki-laki dan hewan yang berjenis kelamin jantan. Adapun yang majazi, adalah jenis yang disifati sebagai laki-laki, karena tidak ada ciri peremuan padanya. Misalnya pulpen, buku, dan sebagainya.

Berbeda dengan muannats. Pembagiannya lebih banyak dan kompleks. Dalam pembahasan bahasa Arab, muanntas dibagi menjadi empat; lafdzi, haqiqi, majazi dan ma’nawi. Kok banyak? Yah, begitulah. Di dunia nyata, perempuan memang seperti itu, kan?

Muanntas lafdzi adalah jenis kata benda yang memiliki tanda peremuan (alamat ta’nits) padanya. Tanda perempuan itu adalah adanya ta’ marbuthoh di belakangnya. Kata jenis ini bisa menunjukkan kepada peremuan itu sendiri, seperti Fathimah. Selain itu, bisa juga menunjukkan laki-laki, seperti Tolhah. Walau demikian, lafazhnya saja yang menunjukkan dia perempuan dan tetap dianggap sebagai laki-laki.

Kemudian, muannats haqiqi. Ini jenis yang dikenal karena jenis kelaminnya memang menunjukkan dia peremuan, seperti manusia yang memiliki organ kewanitaan asli dan hewan berkelamin betina. Jenis ini lebih mudah, kok.

Muannats ma’nawi adalah jenis kata benda yang memang menunjukkan jenis peremuan, tetapi pada lafazhnya tidak ada tanda peremuan. Misalnya, nama orang, Maryam, Zainab, dan sebagainya,

Selanjutnya, yang terakhir, adalah muannats majazi. Seperti halnya muzakkar majazi, jenis ini juga dianggap sebagai muannats karena disifati sebagai perempuan. Orang-orang yang menganggap sandal adalah perempuan, memasukkan ke golongan ini. Mengapa? Karena sandal itu berpasangan, sama dengan jenis muannats majazi lainnya yang hidup berpasangan.

Pembahasan soal sandal yang belum diketahui jenis kelaminnya itu ternyata ditengahi dengan dua buah hadits. Hadits yang di dalamnya terdapat kata “sandal”. Pada akhirnya, dua hadits itu menjadi jawaban dari polemik soal jenis kelamin sandal tersebut. Keduanya menjadi dalil dan jalan terang bahwa sandal, kadang disebut muzakkar, dan di kesempatan lain disebut muannats.

Penasaran? Cek haditsnya.

Hadits pertama: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أسرع قبائل العرب فناء قريش , و يوشك أن تمر المرأة بالنعل, فتقول : إن هذا نعل قرشي
“Kabilah Arab yang paling cepat punah adalah Quraisy. Dan hampir-hampir seorang wanita melewati sandal, lalu ia berkata, ‘Ini dahulu sandalnya orang Quraisy.’” (HR. Ahmad)

Hadits kedua: dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا يمشِ أحدكم في نعل واحدة، لِيَنْعَلْهما جميعًا، أو لِيَخْلَعهما جميعًا
“Janganlah salah seorang dari kalian berjalan hanya dengan satu sandal saja; hendaknya ia memakai sandal itu kedua-duanya, atau melepaskan kedua-duanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits pertama, disebut (هذا نعل). Pada redaksi ini, sandal dianggap muzakkar. Sebab kata tunjuknya menggunakan kata tunjuk untuk muzakkar.

Pada hadits kedua, redaksinya berbunyi (نعل واحدة). Ini adalah susunan sifat (shifah) dan yang disifati (maushuf). Salah satu kaidah penting dari pembahasan sifat dan yang disifati adalah bahwa keduanya harus sama jenis kelaminnya. Dan, sifat yang digunakan pada hadits ini adalah perempuan. Maka, sandal sebagai maushuf-nya dianggap sebagai muannats.

Jadi, sandal boleh dianggap sebagai muannats, boleh juga dianggap sebagai muzakkar. Tentu ada hikmah dari semua ini. Hanya saja, sampai pembahasan itu berakhir, hikmahnya masih belum terlihat; masih tersirat. Yang penting bahwa sandal tidak dianggap memiliki kelamin ganda. Ini salah besar, tentunya. Sebab anggapan ini menyalahi sunnatullah.

Di penghujung diskusi, ustadz pembimbing yang menengahi pembahasan sandal ini memberi bocoran. Ternyata, masalah jenis kelamin sandal juga diributkan di beberapa grup yang diikuti sang ustadz. Agak mencurigakan juga kelihatannya.

“Maklumin aja, ikhwan. (Soalnya) lagi musim LGBT,” komentar salah seorang santri.

Oh, iya. Benar juga. Ternyata sandal yang tak berakal saja memiliki pasangan serasi; kanan dan kiri. Di toko-toko, para penjual alas kaki akan menjual sandal dengan pasangannya yang seharusnya. Adakah yang menjual kanan-kanan atau kiri-kiri? Tentu itu ide gila!

Bandingkan dengan pasangan lesbi dan homo yang pasangannya kanan dan kanan atau kiri dan kiri. Gilakah mereka? Ah, entahlah. Setidaknya, sandal lebih beradab dan “berakal” dari mereka.

Read more...

Menangis (Lagi)

Menangis kadang membuat orang dekat dengan sifat lemah, rapuh dan cengeng. Maka, jangan heran, banyak lelaki yang tak ingin menangis atau menampakkan kesedihan di depan orang banyak. Sebab lelaki identik dengan sifat kuat, tegar, tegas dan tak mudah menangis.

Benarkah demikian? Mungkin ada benarnya. Dan menurut saya, tidak sepenuhnya benar.

Ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita harus banyak menangis; lelaki maupun perempuan. Dari sisi kesehatan, air mata dipercaya mampu menghilangkan bakteria, mengeluarkan racun, membantu kejernihan penglihatan, dan sebagainya. Dari sisi psikologis, menangis emosional mampu menghilangkan stress berlebihan, memperbaiki mood, melegakan perasaan, dan banyak lagi.

Menangis juga terbagi beberapa macam, tergantung sebab meledaknya tangisan tersebut. Tangisan orang dewasa, bisa terjadi karena kasih sayang dan lembutnya hati, atau karena rasa takut, terlalu gembira, ada rasa cinta yang membuncah, atau menangis haru. Ada juga tangisan lain yang disebabkan karena terlalu sedih, tak kuasa menahan derita, merasa hina dan lemah, agar mendapat belas kasihan orang lain, atau ikut-ikutan menangis karena orang lain menangis. Bahkan ada juga tangisan pura-pura, yaitu tangisan orang munafik.

Dalam ajaran agama, menangis merupakan bukti adanya iman di dalam hati. Semakin sering seseorang menangis, maka itu bukti bahwa hatinya lembut penuh keimanan. Para shahabat –ridhwanullahu alaihim- yang memiliki hati lembut sangat mudah menangis. Tangisan mereka bukan karena cengeng dan rapuh. Sebaliknya, tangisan mereka adalah ungkapan jujur dari hati yang bersih; tangisan yang lahir dari rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Ada banyak hadits nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dan atsar orang-orang shalih tentang keutamaan menangis karena Allah.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Abu Umamah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetesan dan dua bekas. Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Sedangkan dua bekas itu adalah bekas-bekas fii sabilillah (jihad) dan bekas-bekas mengamalkan kewajiban Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu berkata, ”Sesunggunya, aku menangis karena takut kepada Allah, ini lebih aku cintai dari pada bersedekah sebanyak seribu dinar.”

Yazid Ar-Riqasyi berkata, “Telah sampai riwayat kepadaku bahwa orang yang menangisi satu dosa dan sekian dosa-dosanya, maka dua malaikat penjaganya lupa terhadap dosa tersebut.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Menangis itu dibagi menjadi sepuluh bagian, yang satu bagian karena Allah dan yang sembilan bagian semuanya karena riya’. Jika yang satu bagian itu terjadi setahun sekali, insya Allah dia akan selamat dari neraka.”

Lalu, kapan terakhir kali kita menangis karena Allah? Berikut ini ada kisah yang ditulis langsung ustadz Utsman Adhim, murobbi kelas IX, tentang tangisannya yang baru terjadi lagi sejak sekian lama. Semoga kita dapat mengambil ibroh darinya.

“Alhamdulillah setelah ramadhan jauh berlalu akhirnya menangis lagi di dalam sholat,” gumam saya dalam hati.

Tadi, saat sholat lail bersama para santri kita (santri kelas IX, red) tiba-tiba saya tersentak. Hati saya berguncang saat Mas Fariqi, imam shalat ada kesempatan itu, sampai pada bacaan ayat ke-33 dari surah alQolam :

(كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ)

Artinya: “Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.”

Tidak hanya sekali. Ayat dahsyat ini diulangnya lagi hingga dua kali. Karuan saja, dada semakin tergetar. Air mata segera menganak sungai membasahi kelopak yang telah lama kering. Lalu tertumpah berkejaran membasahi pipi.
Ayat ini menginformasikan tentang sifat orang kafir quraisy yang ingkar akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka, yakni hamparan kebun luas nan subur. Mereka lupa dan enggan bershadaqah sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat yg Allah berikan kepada mereka.

Karena keingkarannya itu, orang kafir quraisy satu sama lain merencanakan akan menghalang-halangi orang miskin yang mau datang ke kebun mereka, seperti firman Allah Ta’ala:

(فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ. أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ)

Artinya : “Maka pergilah mereka dengan saling berbisik-bisikan: ‘Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.’”

Maksudnya sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lainnya, janganlah kalian izinkan seorang miskin pun memasuki kebun kalian karena mereka mau meminta-minta.

Maka sebagai balasannya Allah membumi hanguskan kebun yang siap panen itu. Digambarkan oleh para mufassir setelah kejadian itu bahwa kebun-kebun tersebut seperti “malam yang gelap gulita” atau seperti “tanaman-tanaman di kebun itu habis tanpa sisa, seperti telah dipanen.”

(لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ)

Artinya : “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku pasti akan menambah nikmat Ku atas kalian, tapi kalau kalian mengingkarinya, maka sungguh azab Ku (sebagi gantinya) amatlah pedih.”

Demikianlah Allah menguji makhluknya dengan kemapanan, seperti umat-umat sebelumnya. Dan mereka akan mengetahui azab Allah jika menahan hartanya dari fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya.

Allahua’lam bishshowab.

Read more...

Ramah Tamah dengan Asatidzah, Ustadz Ali Imron; Sering-sering Perbaharui Iman

Jelang Maghrib tadi, Senin, 28/09/2015, Humas LPI ArRohmah mengadakan acara ramah tamah dan silaturahim di Masjid Baiturrohmah. Acara yang digelar di hari pertama setelah berlalu hari-hari tasyrik ini dihadiri oleh seluruh SDM dan personalia LPI ArRohmah Putra. Selain itu, para istri dan/atau suami dari SDM dan personalia juga turut diundang.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ali Imron hadir memberikan tausiyah dan ceramah. Ustadz Ali Imron merupakan salah satu perintis awal Hidayatullah Malang dan LPI ArRohmah Putra. Saat ini, beliau memimpin ArRohmah Putra sebagai Direktur Utama.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Imron, demikian beliau sering disapa, mengatakan bahwa salah satu persoalan mendasar ummat Islam di akhir zaman ini adalah krisis iman.

“Sehingga seorang muslim harus sering-sering mempebaharui imannya,” pesan beliau.

Masih menurut mahasiswa program doktoral pasca UIN Maliki Malang ini, seorang suami dan seorang istri dalam membangun keluarga harus berlandaskan iman.

“Sebab, Islam butuh dengan Ismail-ismail yang selalu taat dan siap berkorban untuk perjuangan,” pungkasnya.

Tausiyah sejuk dari ustadz Ali Imron akhirnya ditutup setelah bunyi biip panjang dari mauquta yang menandakan masuknya waktu maghrib. Beberapa saat kemudian, shalat maghrib jamaah pun ditegakkan dengan dipimpin langsung oleh ustadz yang juga ketua pendidikan pusat Hidayatullah ini.

Setelah shalat, acara ramah tamah dilanjutkan ke ruang makan. Tim ABC (arrohmah bisnis center) rupanya sudah menyiapkan makan malam istimewa. Berbagai macam olahan daging kambing menjadi santapan malam penutup acara tersebut.

Read more...