Roket AlQossam Beterbangan Melintasi Gedung Asrama

Tiga roket meluncur melintasi bangunan asrama SMA Ar-Rohmah. Ada yang jatuh di atas genteng. Ada pula yang melesat ke arah selatan dan jatuh di lapangan Afgan. Ini bukanlah simulasi atau uji coba senjata sebuah negara. Melainkan bagian dari proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di luar ruangan kelas.

Bagi sebagian siswa, pelajaran Fisika kadang diangap sebagai pelajaran yang berat dan membosankan. Tetapi, berkat roket buatan tersebut, pelajaran Fisika bagi santri kelas XI MIA SMA Ar-Rohmah menjadi asyik dan menyenangkan. Didampingi guru mereka, mereka melakukan eksperimen membuat roket untuk belajar gerak parabola.

Apa itu gerak parabola?

Gerak parabola adalah gerak sebuah benda yang mempunyai lintasan berbentuk parabola. Contoh terapan gerak parabola bisa dilihat pada gerakan pelur meriam. Untuk menembakkan meriam tepat mengenai sasaran, seorang prajurit harus membuat sudut kecondongan tertentu dan perhitungan kecepatan awal tertentu. Lintasan peluru yang ditembakkan akan menghasilkan lintasan melengkung. Inilah yang disebut dengan gerak parabola.

Ustadz Abdurrahman, guru pengampu Fisika di SMA Ar-Rohmah melakukan kegiatan luar kelas ini setelah menjelaskan teori gerak parabola di dalam kelas. Untuk memberi contoh terapan gerak parabola pada sebuah benda, para santri membuat sebuah roket sederhana dari boto plastik bekas air mineral. Botol-botol plastik itulah yang beterbangan bak roket sungguhan, layaknya roket alQossam milik tentra pejuang Palestina.

Read more...

Cerpen: Sidang Kelas (1)

oleh : Sleeper Biyos*

Kalo aku adalah seorang detektif sebenarnya, aku akan menuliskannya seperti ini.

# No. Kasus : X-File
# Kasus : Pencurian HP Pak Jauhari, Kepala Asosiasi Wali Kelas 11
# Barang yang dicuri : Smartphone warna putih, 5.5 inch, merek Oppa
# Waktu Kejadian : Jum’at, ##-##-20##. Sekitar pukul 14.20-15.00
# Tempat Kejadian : Kantor Wali Kelas 11
# Tersangka : Seluruh murid Kelas 11
# Perkiraan Motif : Penggeladahan hari Kamis yang memakan korban 135 HP
# Orang-orang yang terlibat :
1. Pak Jauhari (Korban) : Meninggalkan HP-nya di kantor wali kelas untuk charging baterainya. Saat kembali, beliau menemukan HP tersebut raib; hilang dari posisinya.
2. Pak Andi (Saksi) : Pemegang kunci kantor wali kelas saat itu. Melihat Pak Jauhari meninggalkan HP-nya. Ia mengaku meninggalkan kantor wali kelas sekitar 10 menit setelah Pak Jauhari keluar kantor.
3. Pak Hari (Saksi) : Memasuki kantor entah jam berapa untuk mengambil beberapa majalah.
4. Odi (Tersangka) : Melihat Pak Hari masuk kantor wali kelas 11.
5. Sudip (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
6. Riko (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
7. Arif (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
8. Ridho (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
9. Rafi (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
# Kronologis Kejadian:
1. Pada jam 14.00, seluruh murid kelas 11 kembali dari perpustakaan untuk mengikuti pelajaran terakhir di kelas masing-masing. HP Pak Jauhari kehabisan baterai.
2. Sekitar pukul 14.10, Pak Jauhari memasuki kantor wali kelas 11 dan meletakkan HP tersebut di mejanya dengan kabel charger yang masih terhubung dengan stop kontak. Saat itu, di ruangan wali kelas 11 ada Pak Andi, Wali Kelas 11-C.
3. Sekitar pukul 14.20, Pak Andi keluar dari kantor wali kelas 11 dan lupa menguncinya kembali.
4. Sekitar pukul 14.25, Pak Hari, Wali Kelas 10-C memasuki kantor wali kelas 11 untuk mengambil majalah yang rencananya akan dibagikan kepada seluruh wali kelas 10-12.
5. Pukul 14.30, pelajaran berakhir dan semua murid keluar dari kelas dan berangkat sholat Ashar.
6. Sekitar pukul 14.50, Sholat Ashar berakhir. Pak Jauhari yang ingat akan HP-nya yang ia tinggalkan di kantor wali kelas 11 pun masuk ke kantor tersebut dan mendapati HP-nya telah hilang.
7. Pukul 15.00, seluruh murid kelas 11 berniat pulang namun dicegat oleh Pak Jauhari dan seluruh wali kelas 11.

***

Sebelum membaca laporanku, ada baiknya kalian mengetahui beberapa hal.

Pertama, sekolah kami sangatlah besar. Setiap tingkat kelas, kelas 11 contohnya, memiliki kurang lebih 26 kelas yang diurutkan dari 11-A sampai 11-Z. Masing-masing kelas memiliki seorang wali kelas dan 30 orang murid, kurang lebih. Setiap tingkatnya, memiliki kantor wali kelasnya sendiri, kantor wali kelas 11 contohnya, dan kedua puluh enam wali kelas tersebut memiliki ketua, yaitu Kepala Asosiasi Wali Kelas 11 yang saat ini dipegang oleh Pak Jauhari.

Maka kasus kali ini sangatlah besar.

Melibatkan sekitar 780 siswa dan 27 guru. Hanya karena seorang anak yang begitu nekatnya membalas dendam kepada pria yang jelas-jelas adalah gurunya dan hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang guru, yaitu mendidik muridnya, meskipun dengan menyita HP murid-muridnya.

Oke, aku harus mengakui kalo ini berlebihan. Menyita HP memang seharusnya tidak dibenarkan dimanapun, kecuali pada saat-saat tertentu. Aku sendiri kesal melihat HP temanku disita oleh mereka para guru. Bikin susah saja, pikirku.

Kedua, entah sudah berapa kali penyitaan dilakukan tapi biasanya mana ada yang peduli? Beberapa yang punya orangtua kaya, mudah saja untuk membeli HP lagi. Yang lainnya cukup dengan patungan untuk membeli HP baru. Dan ada pula yang meminjam HP kedua golongan tadi dan biasanya mereka juga dipinjamkan. Yang dipikirkan hanyalah hukuman kebotakan sementara yang harus dialami sebagai “hadiah” karena melanggar. Tapi bukankah rambut itu tidak sampai 2 bulan sudah panjang lagi?

Ketiga, apa benar-benar ada murid yang masuk ke kantor wali kelas 11 saat kejadian? Aku mengerti kalau jumlah murid kelas 11 begitu banyak. Sampai-sampai, ada teman satu angkatan yang belum kuhafal betul mukanya. Tapi dari kesaksian mereka yang berkumpul dan mengobrol di dekat kantor tersebut, kemungkinan besar tidak ada murid yang masuk ke kantor wali kelas 11 saat itu. Masuknya seorang murid ke kantor wali kelas adalah tidak lain dan tidak bukan berputar pada 5 hal, yaitu penghargaan, berita duka (yang sangat amat jarang terjadi), hukuman (yang lebih sering terjadi), mengumpulkan tugas, dan memanggil seorang guru.

Dari data-data di atas, aku pun mulai bertanya-tanya…
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apakah HP tersebut benar-benar diambil murid kelas 11?
Ataukah ini hanyalah sebuah konspirasi untuk memecah angkatan kami dan mengetes kekompakan kami?

Maka sidang kelaslah, tempat yang tepat untuk pembuktian.

***

Sidang kelas adalah istilah resmi bagi rapat besar seluruh kelas. Setiap kelas akan mengirimkan 3 orang perwakilannya sebagai bagian dari sidang tersebut, sementara yang lainnya hanya bertindak sebagai penonton. Meskipun disebut sidang, tapi ini tidak seperti sidang pada pengadilan biasa. Yang terjadi hanyalah sebuah musyawarah antar para perwakilan kelas dan 3 orang perwakilan wali kelas. Tapi sekali lagi, ini adalah prosedur jika yang dibahas bukanlah hal kacau seperti ini. Sepanjang sejarah aku belajar selama beberapa tahun di sekolah ini, tidak pernah ada kasus sebesar ini. Maka apa yang terjadi setelah ini tak bisa kujamin. Apakah nasib baik masih berpihak kepada kami ataukah nasib buruk yang akan menghadang? Apakah pelakunya benar-benar ada di antara kami dan bersedia mengaku ataukah ini kasus yang tidak akan pernah terpecahkan?

Pintu aula terbuka lebar. Dari sana, lautan siswa pun mengalir memasuki ruangan. Ada yang berjalan dengan santai sambil memasukkan tangannya dalam saku seolah tidak peduli apa yang terjadi, namun siapa yang tahu isi hatinya? Bisa saja ia merasa sangat khawatir dan takut. Ada pula mereka yang masuk sambil menatap lantai, entah malu atau takut ekspresinya terbaca oleh teman-temannya. Ada pula yang masuk sambil berbisik-bisik dengan temannya. Bisikan yang mungkin saja mereka lakukan untuk menutupi rasa bersalah mereka.

Ada yang masuk sendiri-sendiri. Ada pula yang masuk berdua dengan sahabat dekatnya. Ada yang masuk bertiga dengan kelompoknya. Ada pula yang masuk berempat, entah dengan siapa saja.

Sekilas, tidak ada kesamaan diantara mereka.

Tapi kita semua tahu, bukan? Sebuah kesamaan mengerikan yang menciptakan atmosfer menekan ini. Sebuah kesamaan yang menjadi bahan pembicaraan mereka yang berbisik-bisik tadi. Sebuah kesamaanyang membuat semuanya harus menanggung rasa malu dicap sebagai angkatan yang nakal. Sebuah kesamaan yang membuat hati semuanya gundah dan diliputi badai ketidakpastian dan kecurigaan

Yaitu, bahwa mereka semua tersangka.

Tepat di sisi yang satunya, pintu aula juga terbuka lebar. Dan dari sanalah, para guru masuk. Ada yang masuk dengan wajah yang tidak peduli. Ada yang masuk sambil menatap layar HP-nya. Dan ada pula yang masuk dengan wajah yang mengeras marah.

Tak terasa, para penonton telah menempati tempat duduknya masing-masing. Termasuk diantaranya, 3 orang perwakilan dari setiap kelas, 3 orang perwakilan wali kelas, serta sang pelaku yang entah dimana sedang duduk, mungkin saja tersenyum karena rencananya yang berjalan dengan sempurna, ataukah gemetaran karena takut aibnya ditemukan oleh teman-temannya yang tidak sedikit ini.

Donggggg … Donggggggggg… Dongggggggg…

Suara menara lonceng terdengar dari kejauhan.

Inilah saat-saat kesukaanku. Ketika semua indera tiba-tiba menajam, meningkatkankewaspadaanya. Ketika waktu tiba-tiba melambat, mengabadikan semua momen yang ada. Ketika bukti dan spekulasi diadu. Ketika kesaksian dan loyalitas dipertanyakan. Ketika kronologis dan ingatan dibuka kembali. Ketika kebenaran dan kesalahan dipertemukan.
Ketika mereka yang menganggap dirinya sebagai penegak hukum dan mereka yang memosisikan dirinya sebagai sang bayangan yang melakukan semua ini bertarung mempertaruhkan segalanya.

Sidang kelas ke-4, resmi dibuka!!!

Lalu tanpa aba-aba apapun, dua sosok berdiri dengan cepatnya.

***

Aula terasa senyap. Seolah semuanya menahan napas, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Suara detak jantung mereka terdengar keras. Ekspresi kekagetan bercampur heran tak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Tentu saja, siapa yang tidak kaget dengan delapan kata yang ia katakan tadi? Ataukah kami yang salah dengar? Tidak mungkin ada orang yang mengaku secepat itu!

Sosok yang pertama berdiri melihat dengan kaget kepada sosok yang kedua berdiri. Dalam benaknya, sosok yang berdiri bersama dengannya itu pastilah orang yang bodoh tapi jujur. Ataukah mungkin aku salah? Mungkin ada sesuatu yang lain yang dipikirkan si sosok pertama.

Ekspresi sosok yang pertama lalu menenang. Namun dibalik ekspresi tenangnya, si sosok pertama menyimpan kegelisahaan akan HP-nya yang hilang dan penasaran akan penuturan si sosok kedua. Ya, dia adalah Pak Jauhari sendiri, sang korban dalam kasus ini.

“Apa yang kau bilang tadi?” tanyanya dengan pelan, berusaha memastikan.

Si sosok kedua hanya tersenyum kepada Pak Jauhari. Senyuman polos yang entah apa artinya. Setelah itu, ia lalu mengulang delapan kata penentuan yang ia katakan beberapa detik lalu.

“Akulah pelakunya. Aku yang mengambil HP Pak Jauhari.”

Aula tiba-tiba berubah ricuh. Teriakan dan umpatan tiba-tiba menyeruak dari kerumunan. Semuanya mengarah kepada si sosok kedua, bagaikan anak panah yang meluncur dari busurnya.
Pak Jauhari lalu berjalan ke arah si sosok kedua dan menarik tangannya.

“Baiklah, nak. Sekarang ikut bapak ke kantor.” Katanya lembut tapi tegas penuh ancaman.

Dengan tujuh kata itu, aula pun kembali senyap.

Mereka berdua pun berjalan cepat menuju pintu aula yang tadinya adalah pintu bagi guru wali kelas. Meninggalkan kerumunan siswa dan guru yang masih manahan napas dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

[Bersambung .…]

*Sleeper Biyos adalah nama pena dari Biyoso Pradnyo Purnomo, santri kelas XI-MIA 1 SMA Ar-Rohmah Putra Malang asal Makassar. Cerpennya berjudul Untukmu, Apapun Itu baru saja memenangi sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan oleh sebuah penerbit.

Read more...

Cerpen; Engkau yang Terpilih

oleh Sleeper Biyoso

Selamat pagi, wahai engkau yang terpilih.

Saat kau membaca pesan ini, kau pasti mendapati dirimu terbangun tanpa ingatan sedikit pun. Kau tidak mengenal siapa dirimu, dimana engkau berada sekarang, dan mengapa serta bagaimana engkau bisa ada di sini. Tidak usah khawatir. Hal itu hanya akan berlangsung sementara atau selamanya; itu terserah padamu. Tapi kalau itu kau, kau pasti akan melakukan apapun untuk mengembalikan ingatanmu, kan? Tenang dulu, aku tahu kau pasti bingung. Tapi, selama kau menuruti apa yang kami tuliskan di pesan ini, ingatanmu akan perlahan-lahan kembali. Kau mengerti?

Sekarang, mari kita bahas apa yang harus kau lakukan pertama. Jika kau membaca pesan ini, artinya Proyek 13-Delta —kemungkinan terburuk kita semua— telah dijalankan. Hal-hal mengenai Proyek 13-Delta akan kami jelaskan nanti. Tapi perlu kami tekankan bahwa hal tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak boleh dibicarakan di depan umum, sehingga kami tak bisa menjelaskannya jika kau tidak berjanji untuk melenyapkan surat ini setelah membacanya. Berjanjilah bahwa jika kau menolak untuk melakukan apa yang kami minta untuk kau lakukan, kau akan melakukan hal ini. Hanya satu hal ini saja, oke?

Saat kau sudah sampai di baris ini, kami anggap kau sudah berjanji akan melenyapkan surat ini nanti. Jadi, kami tidak akan ragu lagi memberitahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan juga, kami minta kau untuk tidak menyalin apa yang kami tulis selanjutnya.

Kami yakin, wahai engkau yang terpilih, bahwa ketika kau telah sampai pada baris ini, ingatanmu akan tertuju pada suatu visi. Jika kau berhasil menyibakkan kabut yang mengaburkan visi tersebut, maka salah satu ingatan terpentingmu akan muncul. Ingatan tersebut merupakan sebuah nama yang kamu rasa familiar. Ketahuilah, nama itu adalah namamu.

Sekarang, kami ingin bertanya untuk terakhir kalinya. Apakah kau benar-benar ingin mengingat masa lalumu? Jika kau memilih untuk berhenti membaca, maka ingatanmu yang kembali hanya sebatas ini saja. Tapi ini cukup, bukan? Setidaknya kau tidak perlu khawatir jika ditanya tentang nama. Kau juga tidak perlu mengingat ingatan-ingatan menyakitkanmu dari masa lalu. Jika kau memilih pilihan ini, berbaliklah dan kau akan menemui sebuah pintu kayu. Bukalah pintu tersebut dan keluarlah. Kemudian penuhilah janjimu untuk melenyapkan surat ini, oke?

Namun jika kau memutuskan untuk lanjut seperti yang kami harapkan, teruslah membaca. Teruslah membaca dan ingatlah semua yang telah kau lakukan. Teruslah membaca dan kami mohon, jangan sampai engkau, wahai yang terpilih, mengulang kembali kesalahan yang telah kami perbuat dahulu. Jangan sampai kau membuat kesalahan yang membuat Proyek 13-Delta dijalankan kembali.

Ah, maafkan kami. Kau yang baru saja bangun dan masih bingung sudah disulitkan dengan semua hal yang membingungkan ini. Tapi seperti janji kami di awal, selama kau mengikuti apa yang kami perintahkan, amnesia yang kau derita ini akan perlahan-lahan menghilang.

Saat kau sampai pada baris ini, kami yakin angin akan mulai bertiup di sekitarmu. Ketahuilah, angin tersebut membawa selembar foto tua yang akan mendarat tepat di hadapanmu. Ambillah foto tua tersebut dan perhatikan gambarnya baik-baik. Jika kau penasaran bagaimana muka kami, ketahuilah bahwa mereka yang ada di foto itu adalah kami. Kamu lihat anak yang di tengah itu? Itu adalah aku yang menulis surat ini.
Sekarang tarik napasmu dalam-dalam. Tenangkanlah dirimu. Apa yang akan aku beritahukan kepadamu mungkin akan mengguncangkanmu. Tapi dari sini, apa yang aku tuliskan adalah kebenaran.

Alasan kau berada di sini adalah karena kesalahan kami, atau lebih tepatnya kesalahanku. Aku adalah seorang peneliti di lembaga penelitian terkemuka. Apa yang kami teliti adalah mengenai apa yang disebut partikel penciptaan. Dengan mesin super besar, kami berkutat siang malam demi menemukannya. Bayangkan, hanya untuk mengaktifkan mesin tersebut, perlu daya sebesar 700 juta volt. Sedangkan daya yang dihasilkan dari setiap percobaan mencapai 1,4 trilliun volt dan melepaskan hampir sekitar 600 juta partikel tak stabil ke segala penjuru.

Sungguh saat-saat yang hebat. Ketika berpikir bahwa kami masih bisa mengendalikan semuanya. Ketika kami masih dengan sombongnya berpikir bahwa penciptaan di dunia ini terjadi karena partikel penciptaan tersebut dan kami bisa menciptakan partikel penciptaan tersebut. Kami sudah diperingatkan sebelumnya akan bahaya bermain dengan sesuatu seperti ini. Tapi kami tidak peduli, bahkan cenderung meremehkan, dan terus melanjutkannya. Terus hingga hal itu terjadi.

Saat itu, sebuah kesalahan kecil terjadi. Hanya sebuah kesalahan kecil. Salah satu pipa di mesin mengalami kebocoran. Dan apakah kau tahu? Saat itu pula kami ditakdirkan berhasil sekaligus gagal. Andaikan saja kesalahan itu tidak terjadi, maka kami yakin partikel penciptaan telah kami temukan. Tapi karena kebocoran tersebut, reaksi yang terjadi adalah reaksi pemusnahan. Reaksi ini sama seperti reaksi berantai nuklir dan menimbulkan energi yang sangat besar dalam sekejap mata. Energi yang ditimbulkan itu cukup untuk menghancurkan bumi dalam waktu 12 jam. Ya, setiap peradaban, kebudayaan, dan apa saja yang menjadi bukti bahwa manusia pernah ada akan lenyap di tangan kami.

Kau tahu? Saat kami menganalisis keadaan dengan komputer super kami, kami hanya bisa terdiam. Kami hanya bisa terdiam, memikirkan, dan menyesali apa yang telah kami lakukan. Apa yang kami lakukan sebenarnya?!! Untuk apa kami melakukan ini?!! Sebodoh apakah kami sebenarnya?!! Apa tidak ada yang kami bisa lakukan selain menyerah?!!

Ternyata, kami masih memiliki satu harapan terakhir. Masih ada Proyek 13-Delta –sebuah proyek yang disiapkan sebagai bentuk jaga-jaga-. Proyek ini adalah proyek mengirimkan manusia ke luar angkasa untuk beberapa waktu. Proyek ini ditinggalkan karena penelitian bahwa batas waktu manusia tinggal di luar angkasa tidak lebih dari beberapa tahun, juga karena manusia yang dikirim hanya terbatas 10 orang. Tapi, apa boleh buat. Pilihannya hanyalah menyelamatkan 10 orang atau tidak sama sekali.

Jadilah aku dan 9 anak lainnya disiapkan demi kelangsungan manusia selanjutnya. Aku terpilih menjadi salah satu dari mereka. Setelah itu, mudah saja. Kami menggunakan roket untuk terbang dan mempersiapkan segalanya untuk hidup di luar angkasa. Dan begitulah sampai aku bisa berada di sini. Aku memutuskan untuk menulis surat ini, agar jika terjadi apa-apa dengan diriku di masa depan, aku akan mengingat semuanya.
Ya, engkau adalah aku, dan aku adalah engkau. Kita ini satu.

*Sleeper Biyos adalah nama pena dari Biyoso Pradnyo Purnomo, santri kelas XI-MIA 1 SMA Ar-Rohmah Putra Malang asal Makassar. Cerpen ini merupakan salah satu naskah yang mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi bertema “Amnesia” yang diadakan oleh Ellunar Publisher. Dan, Alhamdulillah, pada 12 Desember 2015 lalu terpilih menjadi salah satu dari 168 naskah yang diseleksi dari 495 naskah yang akan diterbitkan menjadi buku antologi cerpen. Buku ini akan dibagi menjadi 4 volume. Dan naskah ini yang aslinya berjudul Untukmu, Apapun Itu akan diterbitkan di volume 4.

Read more...