WARISAN ISLAM TERHADAP DUNIA 2

[vc_row full_width=”stretch_row” parallax=”content-moving” css=”.vc_custom_1590589658033{padding-top: 150px !important;padding-bottom: 150px !important;background: #eaeaea url(https://www.arrohmahputra.com/wp-content/uploads/2020/05/camera-baground-scaled.jpg?id=9867);}”][vc_column width=”2/3″][vc_custom_heading text=”Warisan Islam Terhadap Dunia 2″ font_container=”tag:h2|font_size:50|text_align:left|color:%23ffffff” google_fonts=”font_family:Allerta%3Aregular|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vc_column_text]Kalau sebelumnya kita mengenal ibnu sina sebagai bapak kedokteran modern dengan karyanya yang fenomenal yakni Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang menjadi panduan kedokteran modern hingga saat ini. Dan juga Al-khawarizmi, sang penemu angka 0 dan algoritma yang menjadi kunci ditemukannya komputer dan perangkat-perangkatnya, serta sebuah system komputer yang sekarang kita gunakan. Sekarang kita akan mengenal 2 ilmuwan islam lainnya yang tak kalah berjasanya dalam kehidupan kita saat ini.

Ada Abu Nashr Muhammad bin Tasrkhan bin Al-Uzlagh Al-Farabi, atau lebih di kenal dengan sebutan Al-Farabi. Beliau mendapat julukan sebagai second teacher, atau ‘guru kedua setelah aristoteles’. Salah satu keahliannya adalah, beliau ahli dalam bidang musik. Beliau adalah maestro musik dan juga sang penemu no-not dalam musik. Di dalam dunia musik, beliau sangat mahir memainkan alat musik dan menciptakan berbagai instrumen musik dan nada musik arab yang ada sampai saat ini. Temuan ini ia tulis di dalam kitab al-Musiq al-Kabir yaitu buku besar tentang musik. Buku yang membahas ilmu dasar musik yang telah menjadi rujukan musik bagi perkembangan musik klasik barat.

Menurut Al-Farabi, musik dapat menciptakan suatu perasaan tenang dan nyaman. Musik juga mampu mempengaruhi moral, mengendalikan emosi, dan menyembuhkan penyakit. Seperti disaat kita sedih atau hal lainnya, mendengarkan musik adalah hal yang paling menghibur.Karena itu bagi al-Farabi musik bisa menjadi alat terapi. Sebab musik adalah suatu yang muncul dari hati manusia dalam menangkap suara yang indah.

Oleh karenanya buat kita yang suka akan dunia musik, ayolah sekali-kali kita menelusuri sejarah tentang dunia musik, maka kita akan menemukan, ternyata Al-Farabi adalah sang pelopor dalam dunia musik.  jadi pas kita mendengarkan musik, kita jadi ingat Al-Farabi, buka ingat mantan.

Selanjutnya ada Abu Ali Al-Hasan ibnu Al-Hasan ibnu Al-Haytham, atau lebih di kenal dengan sebutan Ibnu Al-haitham, di barat dia di panggil sebagai Alhazen. Buat para fotografer, atau kita yang suka foto-foto, tidak afdhol kalau kita tidak mengenal ilmuwan yang satu ini. Al-Haytham mendapat julukan sebagai ‘bapak optik’, beliau adalah penemu prinsip dasar kamera. salah satu jurnalnya adalah, Kitab al-Manazir atau Buku Optik, yang telah diakui sebagai rujukan ilmu optik. Maka tak mengherankan dia pun dijuluki ‘Bapak Optik’. Dengan jurnalnya yang ternkenal itu, dia menjadi ilmuwan pertama yang mampu menjelaskan bagaimana cara kerja optik dalam mata manusia dalam menangkap dan menerima gambar secara visual secara detil.

“Al-Haytham tak bisa dipungkiri, bahwa dia merupakan figur paling signifikan dalam sejarah optik di masa lalu dan abad ketujuh belas,” kata sejarahwan sains David Lindberg, yang dikutip dari Science News. Lahir di Basra, yang sekarang menjadi Irak, dia menguasai pemikiran-pemikiran dari filsuf dan ilmuwan Yunani seperti Arsitoteles, Plato, Ptotelmy, Archimedes, Galen, dan banyak lainnya.Sehingga dia memang layak disebut filsuf, matematikawan dan astronom. Apalagi diperkiraan lebih dari 200 buku tentang berbagai aspek alam telah dibuatnya. Namun memang ilmu optik yang membuat dirinya menjadi terkenal. Selain komentar diatas, Lindberg juga berkomentar bahwa, “Komitmen al-Haytham untuk teori visi yang menggabungkan fisik, fisiologis dan matematika telah menentukan ruang lingkup dan tujuan teori optik dari zamannya hingga saat ini,” tutur Lindberg.

Oleh karenanya buat kita yang suka jepret sana jepret sini, kita harus menjadikan jepretan kita itu pengingat bahwa semua jepretan kita itu dasarnya di temukan oleh ilmuwan islam. jadi begitu kita jepret, inget Al-Haytha

 

ditulis oleh santri SMA 

– Muslih Shobir santri SMA Ar-Rohmah kelas 10 MIA 1 –[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/3″][/vc_column][/vc_row]

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email