Jabbar: Siswa SMP Peraih Juara MTQ Kabupaten

Muhammad Muslich Al Jabbar raih juara 2 MTQ tingkat se kabupaten bulungan. Jabbar “nama sapaanya” merupakan siswa Ar-Rohmah putra Malang yang masih duduk di kelas 8 tahfidz membawa tropi kemenangan yang di gelar Pada tanggal 17 bulan maret 2017 kemaren.

Salah satu motivasi Jabbar sebagai peserta MTQ 5 Juz se kab. bulungan umur 14 tahun anak pertama dari dua bersaudara terpilih sebagai juara 2 “MUSABAQAH TILAWATIL QURAN” simak kisahnya berikut.

Jabbar merupakan anak pertama, ketika dia masih se usia anak SD sudah memiliki hafalan 2 juz yaitu 29 dan 30 semenjak dia menjadi siswa SMP Ar-Rohmah dia memiliki tambahan hafalan 1 juz hingga 13 juz selama ± 2 tahun menjadi siswa smp, pada umumnya se usia beliu dalam waktu yang sama masih hafal 1-7 dan 8 juz atau kurang dari itu, jadi jabbar termasuk siswa yang sangat luar biasa !

Kebiasaan sehari hari jabbar seorang siswa smp sama dengan siswa yang lainnya yaitu sama sama memiliki beban hafalan 1-8 juz, namun ritme waktunya dalam beriteraksi dengan Al-Qur’an agak sedikit berbeda dengan yang lainya ,dia mampu menciptakan momen kekosongan waktu belajar dengan cara membaca al Qur’an serta memoroja’ah hafalan yang sudah dihafal kepada temanya yang sudah di kenal salah satunya adalah Hamdani anak kamar B25 dimanapun berada terutama di Masjid pada saat menjelang dhuhur berlangsung walaupun dia sebenarnya punya keinginan yang sama dengan yang lain untuk bermain,begitu juga di asrama sehingga dalam waktu yang singkat dia bisa meraih hafalan sebanyak itu.

Disisi yang lain ternyata jabbar “sapaanya” memiliki attitud yang malu bila ia ditanya terkait ketidak tuntasanya hafalan yang sudah menjadi target , yang mana pada saat berkomonikasi orang tuanya sering menanyakan terkait hafalan al qur’anya. Begitu ungkapnya

Waktu masih kelas 7 smp dia memiliki keberatan dan rasa takut pada gurunya yaitu ust AGUS “ungkapnya” karna ustadnya selalu memberikan penekanan yaitu ketika mau setoran baru hafalan moroja’ahnya harus 2 lembar ½ tiap hari dan setelah setoran di suruh mengaji kembali,berbeda dengan ust yang satunya yaitu ust Suhendri dianggap lebih ringan dari ust Agus karna ust suhendri membebani hafalan morja’ah 1 lembar ½ “begitu katanya”

Menjalani kebiasaan aturan seperti itu menjengkelkan “katanya” sehingga mau tidak mau ya harus di kerjakan , namun adanya penekanan seperti itu seolah olah sudah menjadi kebiasaan membaca al Qur’an yang tak terasa” imbuhnya” baik di halaqah al qur’an di asrama maupun di sekolah.

Menghafal satu hafalan sudah menjadi target sendiri waktu menambah hafalan barunya yaitu setiap waktu maghrib menempuh waktu 1 jam atau ½ jam sesuai dengan tingkat kesulitan surahnya dan di ulang ulang ketika selasai waktu shalat subuh pada saat halaqah berlangsung.

Menurut jabbar peran guru aktif itu penting dia mencontohkan ust Agus karna beliu sering menagih hafalan kepada siswanya berbeda dengan guru yang mengatakan kalao mau setor silahkan seperti ini kayak tidak ada beban untuk setoran walaupun masih setoran, sederhananya frekuensi setorannya jauh sangat berbeda di tagih dengan yang tidak karna dengan di tagih untuk setoran saya punya rasa tangung jawab “imbuhnya”

Begitu kisah cerita dari seorang jabbar yang meraih juara 2 MTQ se kab bulungan ,semuga Allah senantiasa menanmbahkan motivasi semangat untuk slalu berinterkasi dengan Al-Quran. Aminnn. (Roni)