Cerpen: Sidang Kelas (1)

oleh : Sleeper Biyos*

Kalo aku adalah seorang detektif sebenarnya, aku akan menuliskannya seperti ini.

# No. Kasus : X-File
# Kasus : Pencurian HP Pak Jauhari, Kepala Asosiasi Wali Kelas 11
# Barang yang dicuri : Smartphone warna putih, 5.5 inch, merek Oppa
# Waktu Kejadian : Jum’at, ##-##-20##. Sekitar pukul 14.20-15.00
# Tempat Kejadian : Kantor Wali Kelas 11
# Tersangka : Seluruh murid Kelas 11
# Perkiraan Motif : Penggeladahan hari Kamis yang memakan korban 135 HP
# Orang-orang yang terlibat :
1. Pak Jauhari (Korban) : Meninggalkan HP-nya di kantor wali kelas untuk charging baterainya. Saat kembali, beliau menemukan HP tersebut raib; hilang dari posisinya.
2. Pak Andi (Saksi) : Pemegang kunci kantor wali kelas saat itu. Melihat Pak Jauhari meninggalkan HP-nya. Ia mengaku meninggalkan kantor wali kelas sekitar 10 menit setelah Pak Jauhari keluar kantor.
3. Pak Hari (Saksi) : Memasuki kantor entah jam berapa untuk mengambil beberapa majalah.
4. Odi (Tersangka) : Melihat Pak Hari masuk kantor wali kelas 11.
5. Sudip (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
6. Riko (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
7. Arif (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
8. Ridho (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
9. Rafi (Tersangka) : Mengaku sedang ngumpul dengan teman-temannya di dekat kantor wali kelas sebelum Ashar. Tidak ingat siapa saja yang memasuki kantor wali kelas 11 saat itu.
# Kronologis Kejadian:
1. Pada jam 14.00, seluruh murid kelas 11 kembali dari perpustakaan untuk mengikuti pelajaran terakhir di kelas masing-masing. HP Pak Jauhari kehabisan baterai.
2. Sekitar pukul 14.10, Pak Jauhari memasuki kantor wali kelas 11 dan meletakkan HP tersebut di mejanya dengan kabel charger yang masih terhubung dengan stop kontak. Saat itu, di ruangan wali kelas 11 ada Pak Andi, Wali Kelas 11-C.
3. Sekitar pukul 14.20, Pak Andi keluar dari kantor wali kelas 11 dan lupa menguncinya kembali.
4. Sekitar pukul 14.25, Pak Hari, Wali Kelas 10-C memasuki kantor wali kelas 11 untuk mengambil majalah yang rencananya akan dibagikan kepada seluruh wali kelas 10-12.
5. Pukul 14.30, pelajaran berakhir dan semua murid keluar dari kelas dan berangkat sholat Ashar.
6. Sekitar pukul 14.50, Sholat Ashar berakhir. Pak Jauhari yang ingat akan HP-nya yang ia tinggalkan di kantor wali kelas 11 pun masuk ke kantor tersebut dan mendapati HP-nya telah hilang.
7. Pukul 15.00, seluruh murid kelas 11 berniat pulang namun dicegat oleh Pak Jauhari dan seluruh wali kelas 11.

***

Sebelum membaca laporanku, ada baiknya kalian mengetahui beberapa hal.

Pertama, sekolah kami sangatlah besar. Setiap tingkat kelas, kelas 11 contohnya, memiliki kurang lebih 26 kelas yang diurutkan dari 11-A sampai 11-Z. Masing-masing kelas memiliki seorang wali kelas dan 30 orang murid, kurang lebih. Setiap tingkatnya, memiliki kantor wali kelasnya sendiri, kantor wali kelas 11 contohnya, dan kedua puluh enam wali kelas tersebut memiliki ketua, yaitu Kepala Asosiasi Wali Kelas 11 yang saat ini dipegang oleh Pak Jauhari.

Maka kasus kali ini sangatlah besar.

Melibatkan sekitar 780 siswa dan 27 guru. Hanya karena seorang anak yang begitu nekatnya membalas dendam kepada pria yang jelas-jelas adalah gurunya dan hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang guru, yaitu mendidik muridnya, meskipun dengan menyita HP murid-muridnya.

Oke, aku harus mengakui kalo ini berlebihan. Menyita HP memang seharusnya tidak dibenarkan dimanapun, kecuali pada saat-saat tertentu. Aku sendiri kesal melihat HP temanku disita oleh mereka para guru. Bikin susah saja, pikirku.

Kedua, entah sudah berapa kali penyitaan dilakukan tapi biasanya mana ada yang peduli? Beberapa yang punya orangtua kaya, mudah saja untuk membeli HP lagi. Yang lainnya cukup dengan patungan untuk membeli HP baru. Dan ada pula yang meminjam HP kedua golongan tadi dan biasanya mereka juga dipinjamkan. Yang dipikirkan hanyalah hukuman kebotakan sementara yang harus dialami sebagai “hadiah” karena melanggar. Tapi bukankah rambut itu tidak sampai 2 bulan sudah panjang lagi?

Ketiga, apa benar-benar ada murid yang masuk ke kantor wali kelas 11 saat kejadian? Aku mengerti kalau jumlah murid kelas 11 begitu banyak. Sampai-sampai, ada teman satu angkatan yang belum kuhafal betul mukanya. Tapi dari kesaksian mereka yang berkumpul dan mengobrol di dekat kantor tersebut, kemungkinan besar tidak ada murid yang masuk ke kantor wali kelas 11 saat itu. Masuknya seorang murid ke kantor wali kelas adalah tidak lain dan tidak bukan berputar pada 5 hal, yaitu penghargaan, berita duka (yang sangat amat jarang terjadi), hukuman (yang lebih sering terjadi), mengumpulkan tugas, dan memanggil seorang guru.

Dari data-data di atas, aku pun mulai bertanya-tanya…
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apakah HP tersebut benar-benar diambil murid kelas 11?
Ataukah ini hanyalah sebuah konspirasi untuk memecah angkatan kami dan mengetes kekompakan kami?

Maka sidang kelaslah, tempat yang tepat untuk pembuktian.

***

Sidang kelas adalah istilah resmi bagi rapat besar seluruh kelas. Setiap kelas akan mengirimkan 3 orang perwakilannya sebagai bagian dari sidang tersebut, sementara yang lainnya hanya bertindak sebagai penonton. Meskipun disebut sidang, tapi ini tidak seperti sidang pada pengadilan biasa. Yang terjadi hanyalah sebuah musyawarah antar para perwakilan kelas dan 3 orang perwakilan wali kelas. Tapi sekali lagi, ini adalah prosedur jika yang dibahas bukanlah hal kacau seperti ini. Sepanjang sejarah aku belajar selama beberapa tahun di sekolah ini, tidak pernah ada kasus sebesar ini. Maka apa yang terjadi setelah ini tak bisa kujamin. Apakah nasib baik masih berpihak kepada kami ataukah nasib buruk yang akan menghadang? Apakah pelakunya benar-benar ada di antara kami dan bersedia mengaku ataukah ini kasus yang tidak akan pernah terpecahkan?

Pintu aula terbuka lebar. Dari sana, lautan siswa pun mengalir memasuki ruangan. Ada yang berjalan dengan santai sambil memasukkan tangannya dalam saku seolah tidak peduli apa yang terjadi, namun siapa yang tahu isi hatinya? Bisa saja ia merasa sangat khawatir dan takut. Ada pula mereka yang masuk sambil menatap lantai, entah malu atau takut ekspresinya terbaca oleh teman-temannya. Ada pula yang masuk sambil berbisik-bisik dengan temannya. Bisikan yang mungkin saja mereka lakukan untuk menutupi rasa bersalah mereka.

Ada yang masuk sendiri-sendiri. Ada pula yang masuk berdua dengan sahabat dekatnya. Ada yang masuk bertiga dengan kelompoknya. Ada pula yang masuk berempat, entah dengan siapa saja.

Sekilas, tidak ada kesamaan diantara mereka.

Tapi kita semua tahu, bukan? Sebuah kesamaan mengerikan yang menciptakan atmosfer menekan ini. Sebuah kesamaan yang menjadi bahan pembicaraan mereka yang berbisik-bisik tadi. Sebuah kesamaanyang membuat semuanya harus menanggung rasa malu dicap sebagai angkatan yang nakal. Sebuah kesamaan yang membuat hati semuanya gundah dan diliputi badai ketidakpastian dan kecurigaan

Yaitu, bahwa mereka semua tersangka.

Tepat di sisi yang satunya, pintu aula juga terbuka lebar. Dan dari sanalah, para guru masuk. Ada yang masuk dengan wajah yang tidak peduli. Ada yang masuk sambil menatap layar HP-nya. Dan ada pula yang masuk dengan wajah yang mengeras marah.

Tak terasa, para penonton telah menempati tempat duduknya masing-masing. Termasuk diantaranya, 3 orang perwakilan dari setiap kelas, 3 orang perwakilan wali kelas, serta sang pelaku yang entah dimana sedang duduk, mungkin saja tersenyum karena rencananya yang berjalan dengan sempurna, ataukah gemetaran karena takut aibnya ditemukan oleh teman-temannya yang tidak sedikit ini.

Donggggg … Donggggggggg… Dongggggggg…

Suara menara lonceng terdengar dari kejauhan.

Inilah saat-saat kesukaanku. Ketika semua indera tiba-tiba menajam, meningkatkankewaspadaanya. Ketika waktu tiba-tiba melambat, mengabadikan semua momen yang ada. Ketika bukti dan spekulasi diadu. Ketika kesaksian dan loyalitas dipertanyakan. Ketika kronologis dan ingatan dibuka kembali. Ketika kebenaran dan kesalahan dipertemukan.
Ketika mereka yang menganggap dirinya sebagai penegak hukum dan mereka yang memosisikan dirinya sebagai sang bayangan yang melakukan semua ini bertarung mempertaruhkan segalanya.

Sidang kelas ke-4, resmi dibuka!!!

Lalu tanpa aba-aba apapun, dua sosok berdiri dengan cepatnya.

***

Aula terasa senyap. Seolah semuanya menahan napas, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Suara detak jantung mereka terdengar keras. Ekspresi kekagetan bercampur heran tak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Tentu saja, siapa yang tidak kaget dengan delapan kata yang ia katakan tadi? Ataukah kami yang salah dengar? Tidak mungkin ada orang yang mengaku secepat itu!

Sosok yang pertama berdiri melihat dengan kaget kepada sosok yang kedua berdiri. Dalam benaknya, sosok yang berdiri bersama dengannya itu pastilah orang yang bodoh tapi jujur. Ataukah mungkin aku salah? Mungkin ada sesuatu yang lain yang dipikirkan si sosok pertama.

Ekspresi sosok yang pertama lalu menenang. Namun dibalik ekspresi tenangnya, si sosok pertama menyimpan kegelisahaan akan HP-nya yang hilang dan penasaran akan penuturan si sosok kedua. Ya, dia adalah Pak Jauhari sendiri, sang korban dalam kasus ini.

“Apa yang kau bilang tadi?” tanyanya dengan pelan, berusaha memastikan.

Si sosok kedua hanya tersenyum kepada Pak Jauhari. Senyuman polos yang entah apa artinya. Setelah itu, ia lalu mengulang delapan kata penentuan yang ia katakan beberapa detik lalu.

“Akulah pelakunya. Aku yang mengambil HP Pak Jauhari.”

Aula tiba-tiba berubah ricuh. Teriakan dan umpatan tiba-tiba menyeruak dari kerumunan. Semuanya mengarah kepada si sosok kedua, bagaikan anak panah yang meluncur dari busurnya.
Pak Jauhari lalu berjalan ke arah si sosok kedua dan menarik tangannya.

“Baiklah, nak. Sekarang ikut bapak ke kantor.” Katanya lembut tapi tegas penuh ancaman.

Dengan tujuh kata itu, aula pun kembali senyap.

Mereka berdua pun berjalan cepat menuju pintu aula yang tadinya adalah pintu bagi guru wali kelas. Meninggalkan kerumunan siswa dan guru yang masih manahan napas dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

[Bersambung .…]

*Sleeper Biyos adalah nama pena dari Biyoso Pradnyo Purnomo, santri kelas XI-MIA 1 SMA Ar-Rohmah Putra Malang asal Makassar. Cerpennya berjudul Untukmu, Apapun Itu baru saja memenangi sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan oleh sebuah penerbit.