LIBURAN Adalah UJIAN

Libur telah tiba, semua santri riang gembira, begitu juga kedua orang tua dan keluarga, semua  merasakan suka cita karena akan berkumpul dengan keluarga yang tak berkumpul sekian lama. Namun, jangan lupa bahwa liburan bukan untuk memjadikan waktu kita sia-sia, sebaliknya, bagi orang yang bijak akan menjadikan waktu liburan menjadi sangat berguna dengan mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang berguna.

Libur bukan berarti menonaktifkan semua aktifitas positif, dan bukan pula menjadi ajang untuk menuruti segala keinginan yang selama ini serba terbatas. Jika liburan dijadikan ajang balas dendam dengan menggunakan aji mumpung, sehingga melakukan apa saja yang sia-sia yang menyebabakan kebiasaan positif seperti tilawah dan menghafal Al-Qur’an, berjama’ah lima waktu menjadi terabaikan,  maka pembinaan diri yang kita lakukan selama ini di pesantren dikhawatirkan menjadi sia-sia. Dampaknya, usai liburan akan berat kembali kepesantren dan berat pula mengawali aktifitas di pesantren.

Perlu selalu kita ingat bahwa waktu senggang sering membuat orang terlena. saat liburan banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya telah mengalami kerugian yang sangat besar. Demi memuaskan hasrat memenuhi kebutuhan refresing kadang seseorang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga waktu dan harta titipan Allah SWT yang seharusnya digunakan untuk beribadah hilang dan berlalu begitu saja tanpa pahala. Pada hal semuanya kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Rosulullah SAW bersabda:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ بِهِ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اِكْتَسَبَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

”Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatk kanya.” (HR. at-Tirmidzi, dan menurut beliau derajatnya hasan shahih)

Maka hati-hati dengan liburan, semua pihak harus memiliki kesadaran untuk saling mengingatkan, agar disaat liburan tidak mengalami kerugian baik di dunia maupun di akherat, semua harus dipertimbangkan sebaik mungkin kemanfaatan dari setiap agenda. Maka jadikan liburan sebagai ajang ujian dan pembuktian bahwa disaat liburan pun tetap berusaha istiqomah menjaga ibadah, berjama’ah, menjaga tilawah dan selalu beraklqul karimah. Selamat mengikuti “ujian liburan..!”