Semarak Idul Adha 1436 H; Dari Potong Qurban Hingga Festival Sate

Setelah prosesi ibadah ‘id selesai, acara selanjutnya yang dinanti santri adalah pemotongan hewan qurban. Tentunya pemotongan ini dilakukan setelah santri menyelesaikan sarapan di ruang makan.

Bagi santri yang memilih berqurban di Ar-Rohmah Putra, ada pengalaman tersendiri yang tidak akan didapatkan oleh santri lain. Pengalaman itu adalah menyembelih sendiri hewan qurbannya yang di-atasnama-kan dirinya, atau ayahnya. Tentu ini adalah pengalaman berharga yang hanya bisa dilakukan sekali setahun saja.

Aufar Nubli Enmulia, misalnya. Santi kelas X yang sedang menjalani tahun pertamanya di Ar-Rohmah ini merasa bangga dan beruntung bisa diberi kesempatan menyembelih kurbannya sendiri. Walau di awal terlihat ragu dan canggung, tapi akhirnya ia menuntaskan pemotongan kambingnya dengan baik dan sukses.

IMG-20150924-WA0095
(Foto: Tampak Nubli berusaha menyembelih kambing kurbannya)

Dalam Islam, merupakan sunnah ketika berqurban adalah memotong sendiri hewan yang diqurbankan. Walaupun juga bisa diwakilkan ke panitia jika tidak bisa atau banyak kesibukan.

Pagi itu, pemotongan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dihentikan sementara ketika hewan yang telah dipotong mencapai angka 36, dengan rincian 35 ekor kambing dan 1 ekor sapi.

Festival Sate

Agar qurban lebih terasa manfaatnya, oleh panitia, setiap kelas diberi 1 ekor kambing untuk diolah. Kambing-kambing yang mereka potong sendiri itu akan diolah sesuai selera masing-masing kelas. Walaupun memotong sendiri, panitia tetap mendampingi di tempat yang dikhususkan untuk pemotongan. Setelah pemotongan, barulah para santri akan menguliti dan mencari tempat ternyaman untuk berekperimen dengan bumbu-bumbu yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Di SMA sendiri, OPH SMA Ar-Rohmah Putra Malang mengadakan lomba sate untuk semua kelas di unit SMA. Total ada 8 kelas yang mengikuti kompetisi ini. Acara tahunan ini diadakan untuk memotivasi santri menghasilkan olahan dan kreasi bumbu sate yang terbaik.

“Biasanya kelas SMP juga ikut. Tapi tahun ini mereka tidak ikut festival sate. Entah kenapa,” ungkap Ghozi Naufal Qois, ketua OPH SMA Ar-Rohmah periode 2015-2016.

Dengan berbekal 1 ekor kambing di tiap kelas, para santri sesegera mungkin membuat dan berkreasi dengan sate. Walaupun mereka semua adalah santri putra, ternyata hasil olahan mereka terasa nikmat dan bervariasi.

Kelas XI MIA 2, misalnya. Dikomandoi oleh Ihza Nugroho, tim mereka membawakan racikan unik untuk dinilai dewan juri.
“Namanya Sate Bumbu Kuah Gulai,” ungkap Ihza ketika ditanya salah satu dewan juri.

Sajiannya memang sedikit beda dari sisi penampilan. Sebuah paprika besar menjadi wadah untuk kuah gulai. Sedang beberapa tusuk sate yang telah dilumuri bumbu kacang direndam di kuah tersebut.

“Tampilannya unik, rasanya menggingit,” komentar Ustadz Abdul Aziz yang turut mencicipi pertama kali.

“Kalau menurut saya, ini calon kuat untuk juara,” tambahnya.

DSC_0022
(Foto: Ihza memberikan sentuhan akhir sebelum dinilai dewan juri)

Dewan juri yang menilai sajian sate-sate tersebut akan menilai dari 3 kriteria utama. Yang pertama dan utama, tentu soal cita rasa. Ini yang penting dari soal makan memakan. Yang kedua adalah kreatifitas; soal penampilan luar masakan, cara peyajian, dsb. Kemudian, juga akan dinilai kebersihan dan kerapian. Ini juga penting sebab putra biasanya mengabaikan soal ini.

Bertindak sebagai dewan juri adalah ustadz Fahmi Ahmad, M.M, selaku kepala sekolah SMA Ar-Rohmah. Juga hadir ustadz Jayadi, S.E, Kaur Kurikulum SMA Ar-Rohmah Malang. Dua lainnya adalah ustadz Purnomo dan ustadz Anton. Keduanya juga merupakan guru di SMA Ar-Rohmah Putra.

Menurut panitia, hanya dua sate terbaik yang akan diberi hadiah.

“Kemungkinan Senin akan diumumkan siapa yang menjadi juara,” jawab Ghozi ketika ditanya soal bocoran pemenang.