Adab-adab bepergian dan tujuan bersantai

Berlibur dan bersantai merupakan kebutuhan setiap manusia tak terkecuali bagi seorang muslim, saat musim liburan tiba maka bagi seorang suami inilah waktu yang tepat untuk lebih mendekatkan diri kepada anak dan isteri ,saat liburan tiba bagi seorang anak,  inilah saat yang tepat untuk birrul walidaini (berbakti kepada kedua  orang tua). Saat liburan tiba bagi perantau inilah saat yang tepat untuk bersilturrahim kepada kerabat ,saudara dan kawan, yang telah ditinggal dalam waktu yang lama demi mengais rizky ditanah rantau.

Berlibur dalam Islam tidak dilarang namun demikian tetap dalam koridor syari’at. Banyak hal positif yang bisa dilakukan pada saat liburan seperti contoh yang ditulis diatas, dalam sebuah kesempatan pembekalan yang pulang yang diadakan oleh LPI Ar Rohmah bagi para santri, salah seorang ustadz yang tampil sebagai pemateri menguncapkan sebuah ungkapan yang menarik untuk kita renungkan, beliau mengucapkan beberapa kalimat yang mungkin saja tidak akan pernah dilupakan oleh para santri, beliau senantiasa mengakhiri materi dengan ucapan “ selamat berlibur dan berliburlah dengan selamat”. Ungkapan ini beliau ucapkan sebagai peringatan agar dalam setiap liburan dan kesempatan apapun jangan lupa melaksanakan perintah Allah berupa shalat lima waktu meskipun dalam suasana liburan. Dari ungkapan inilah penulis mendapat ide untuk coba menuliskan beberapa hal yang perlu kita ingat bersama saat menikmati liburan, tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan penulis dan pembaca akan pentingnya tetap menjaga syari’at Allah dalam situsai apapun.

Liburan kadang akrab dengan bepergian bagi keluarga yang diberi kelebihan rizky untuk melakukannya, bahkan akhir-akhir ini traveling menjadi trend yang jamak dilakukan oleh keluarga, berikut ini adab-adab yang perlu diperhatikan pada saat shafar atau bepergian :

1. Disunnahkan berpamitan lebih dulu bagi orang yang hendak pergi.

Disunnahkan untuk berpamitan  kepada keluarga, kerabat dan saudara-saudaranya. Berkata Ibnu Abdil Barr –rahimahullah-: “Jika salah seorang dari kalian keluar bersafar maka hendaklah  ia berpamitan kepada saudaranya, karena Allah swt menjadikan pada doa mereka barakah.”

Berkata Asy-Sya`bi –rahimahullah-: “Sunnahnya jika seseorang datang dari safar untuk mengunjungi saudaranya dan menyalaminya, kemudian jika ia hendak bersafar adalah mendatangi mereka dan berpamitan serta mengharapkan doa mereka.”

Menurut penulis orang yang paling utama untuk kita berpamitan adalah tetangga, berdasarkan pengalaman, tetangga adalah orang yang paling dekat dengan  rumah kita sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka tetanggalah yang paling pertama tahu dan mungkin saja mereka yang akan segera melakukan tindakan yang dibutuhkan pada saat kejadian.

2. Dibencinya safar sendirian & dilarang bagi wanita safar tanpa ada mahram

Ini tentang perjalanan jauh atau bepergian dimalam hari. Keharusan wanita safar disertai mahram malah dianggap mengekang kebebasan wanita. Padahal jika kita mau menyadari, aturan ini justru hendak menjaga serta melindungi kehormatan wanita. Lebih-lebih di masa sekarang.

Artinya : Dari Abu Hurairah ra.,ia berkata: Rasululloh SAW.,bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk bepergian yang memakan waktu sehari semalam kecuali bersama mahramnya.”(mutafaqun’alaih).

Artinya : Dari Ibnu Abbas ra.,bahwasannya ia mendengar Rasulullah SAW. bersabda : “Janganlah sekali-kali seorang pria melepas seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” Ada seorang pria bertanya: “Wahai Rasululloh, sesungguhnya istriku pergi untuk berhaji, aku telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.” Beliau bersabda : “Pergilah kamu dan berhajilah bersama istrimu.” (mutafaqun ‘alaih).

Jika menyimak hadits diatas  , hingga  berangkat jihadpun bisa dibatalkan jika seorang suami harus menemani isterinya beprgian. Maka hal ini hendaknya diperhatikan bagi setiap wanita muslimah sehingga tidak gambapang untuk bepergian tanpa mahram, munculnya kasus-kasus TKW, perkosaan dijalanan barangkali karena semakin sedikitnya kita memperhatikan pentingya seorang mahram ketika bepergian.

3. Berdoa ketika bersafar

Ibnu Umar ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw jika telah di atas unta untuk pergi safar, beliau bertakbir sebanyak 3x. kemudian berdoa:

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnyalah kepada Rabb kami, kami akan kembali,” ( QS. Az-Zukhruf: 13-14).

Ya Allah, sungguh kami memohon kepada Engkau dalam safar ini kebaikan dan ketaqwaan, dan amalan-amalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, berilah kemudahan bagi kami dalam safar kami ini, dekatkanlah jaraknya bagi kami sesudahnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam safarku dan pemandangan yang menyedihkan, dan dari kembalian yang buruk pada harta dan keluargaku”

Dan apabila beliau kembali dari safar beliau mengucapkan kembali doa tersebut dan menambahkannya dengan ucapan:

“ Sebagai orang-orang yang kembali, bertaubat dan beribadah, lalu kepada Rabb kami, kami memuji”.

Itulah tiga adab yang bisa kami tuliskan ketika bepergian dan sebagaimana kegiatan yang lain bersantai dan berlibur juga bisa dimaksudkan untuk beberapa tujuan. Inilah tujuan bersantai yang mungkin juga anda sepakat dengan apa yang saya tuliskan

}  #1 Untuk Menghidupkan Sunnah dan Mengharap Ridho Allah ( Umroh, Khitan, Birul walidain, Silaturahim)

}  #2 Mengenalkan Ajaran Islam yang Indah

}  #3 Membahagiakan  dan Mengikat Hati Anggota Keluarga

}  #4 Menguatkan Semangat dan Menghilangkan Penat

}  #5 Mengambil Pelajaran dan Budaya dalam Perjalanan

}  #6 Mempelajari Sesuatu Yang Baru

}  #7 Memahami betapa Allah SWT. Maha Rahman dan Rahim kepada kita semua

}  #8 Memahami bahwa bersantai itu juga bagian dari nikmat yang wajib kita syukuri

Refrensi :

–          Islampos.com

–          Indonesiaopitimis.com

Selamat berlibur semoga Allah melindungi kita semua dalam perjalanan dan menjadikan kita sebagai seorang muslim yang senantiasa bsersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepada kita.