I’dad al-Quwwah V; Sparring ala Ar-Rohmah

SORAK-SORAI suara saling sahut membahana memecah sore yang sepi. Ruang Serba Guna itu tiba-tiba ramai tidak seperti biasanya. Bukan tanpa alasan. Sorakan tersebut adalah sorakan memberi dukungan. Teriakan untuk memberi semangat dan kekuatan. Layaknya sebuah pertandingan di stadion besar, setiap pemain memiliki pendukung tersendiri.

Ya, bukan tanpa alasan. Sore itu santri-santri Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur mendapat suguhan menarik. Jika biasanya yang mereka saksikan adalah pertandingan futsal antar lima pemain lawan lima pemain dengan sistem kalah ganti, maka sore itu yang ada satu lawan satu. Tetapi pertandingan kali ini bukan tentang bola yang sekedar tendang menendang, melainkan saling tinju dan saling tendang dalam sebuah arena seluas 5 x 5 meter.

Seorang pemain yang berasal dari ‘sudut biru’ menggunakan safety (pengaman) lengkap berwarna biru. Pemain satunya dari ‘sudut merah’ menggunakan pengaman warna merah. Seorang wasit pengadil jalannya pertandingan terlihat mondar-mandir di arena pertandingan. Sedang tiga juri di setiap sisi arena mengamati dan menentukan kemenangan berada pada pihak merah atau biru. Inilah sparring (tarung, biasa disebut tajadul) ala Ar-Rohmah.

Dikemas dengan nama I’dad Al-Quwwah, acara ini mendapat sambutan positif dari ratusan santri SMP – SMA Ar-Rohmah Putra Malang. Acara tahunan yang diadakan atas kerjasama ISTH (Imarotu Syu’uni at-Tholabah Hidayatullah, organisasi kesantrian semacam OSIS dengan ruang lingkup kegiatan keasramaan) SMP – SMA Ar-Rohmah ini merupakan yang kelima kalinya digelar. Pertama kali digelar pada 2007. Seharusnya tahun ini sudah ketujuh kalinya digelar, tetapi gagal diadakan pada 2008 dan 2011 karena beberapa sebab.

Acara yang menjadi salah satu program andalan ISTH ini selalu ditunggu dan dinanti. Pasalnya acara ini berbeda dengan acara-acara lainnya yang sering digelar seperti futsal dan basket. Selain itu, i’dad (persiapan) lebih mengedepankan pada kemampuan pribadi, bukan pada kelompok. Jadi peserta ikut mewakili diri sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain dan bukan mewakili kelompok manapun. Peserta yang ikut berarti memiliki mental dan keberanian yang lebih. Walaupun mereka kalah tak jadi soal, sebab mereka sudah bangga berani ikut i’dad dibanding santri yang lain.

I’dad kali ini dibuka secara resmi oleh Kepala Asrama SMA Ar-Rohmah Putra, Ustadz Jumari S.Pd. pada Jum’at, 26 April 2013 pukul 20.30 WIB. Dalam sambutannya, beliau berpesan kepada para santri untuk tetap menjaga sportivitas dan kejujuran. Dalam seremonial pembukaan ini hadir seluruh peserta i’dad yang berjumlah 151 orang. Walau digelar malam hari, para pengasuh yang mendapat undangan sebagai dewan juri tak ketinggalan hadir memberi support (dukungan). Semangat peserta sudah mulai terasa pada acara pembukaan ini. Terbukti dari teriakan takbir mereka yang sangat keras dan semangat.

Sayembara Push UP

Mengambil tema “Reach Our Glory Through the Spirit of Jihad”, acara ini mulai terasa ‘panas’ sejak pertandingan pertama pada sore Sabtu, 27 April 2013 itu. Hingga ketika peringatan waktu shalat Maghrib dari masjid terdengar, pertandingan baru diselesaikan. Dari ba’da (usai) Ashar hingga menjelang Maghrib sore itu, beberapa ‘pendekar’ sudah banyak yang berguguran. Pertandingan dilanjutkan kembali setelah ‘Isya hingga pukul 22.00 WIB.

Selama dua pekan, setiap Sabtu dan Ahad, dari 27 April – 4 Mei 2013, banyak ‘korban’ berjatuhan. Begitu pula sebaliknya, banyak ‘pendekar’ yang bermunculan. Hingga pada partai puncak yang digelar Ahad sore, 4 Mei 2013, pertandingan tinggal menyisakan 6 pendekar yang memperebutkan juara I dan II pada masing-masing kelas pertandingan; A, B, C dan kelas Bebas.

Di Kelas A, keluar sebagai juara I adalah Muhammad Arif Furqon (VIII Internasional, asal Malang) yang mengalahkan Achmad Ma’mun Murod (VIII Al-Azhar, asal Pasuruan). Pada partai penentu di kelas B, Amirul Imam Mustofa (XI IPS, asal Bima) menang tipis atas Adhitya Mohammad (VIII Al-Azhar, asal Batam) yang harus bersabar di juara II. Di kelas C, Mohammad Adib (VIII Robbany, asal Palu) menang tanpa bertanding atas Fahim Irfan Robbani (XI IPS, asal Bojonegoro) yang cedera pada partai semifinal.

Pertandingan tak kalah serunya terlihat pada partai final kelas Bebas antara Ilyasa Fahrur Riza (XI IPS, asal Situbondo) melawan Fahmi Ervinuddin (X-A, asal Gresik). Pada game terakhir ini, permainan tenang Ilyasa mampu meredam permainan agresif Fahmi. Pada akhirnya, Ilyasa menang telak dan keluar sebagai juara I.

I’dad kali ini terasa berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Pasalnya, jajaran dewan juri berasal dari berbagai daerah di tanah air. Ustadz Muhammad Iqbal misalnya, alumni Pondok Al-Mukmin Ngruki, Solo dan sekarang tercatat masih kuliah di Yaman. Tak ketinggalan perwakilan dari Ma’had Darus Syahadah Solo, Ustadz Musthafa. Dari Malang sendiri ada Ustadz Gatut Sultan (pembina dan pelatih Wushu Malang), Wildan Maulana (alumni Ar-Rohmah asal Pasuruan dan mahasiswa Universitas Negeri Malang).

Turut ambil bagian pula Ustadz Hidayat Rosyidi (mahasiswa tingkat akhir di Brawijaya University asal NTT) dan Ustadz Muhammad Hasbi (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang asal NTT). Dari Balikpapan, Ustadz Tafdhil Umam –sekarang sedang kuliah semestear akhir di UMM- dan Ustadz Abdul Aziz Basyier –alumni STIS Hidayatullah Balikpapan- juga masuk dalam jajaran dewan juri I’dad Al-Quwwah V ini. Dua juri terakhir dari Ma’had ‘Isy Karima Solo, Ustadz Muslim Al-Hafidz dan Ustadz Arif Al-Hafidz.

Sambil menunggu penyerahan hadiah, panitia mengadakan sayembara berhadiah. Sayembara Push Up dengan satu tangan ini berhadiah voucher makan bakso selama seminggu. Banyak peserta yang ikut dalam sayembara. Namun panitia hanya menyediakan 3 voucher yang dimenangkan oleh Muh. Sina (XII IPS, Malang, Fahim Irfan (XI IPS, Bojonegoro) dan Barock (VIII Robbany, Malang).

Penyerahan hadiah kepada 6 pemenang I’dad Al-Quwwah V ini berlangsung khidmat. Walaupun banyak kekurangannya, semua peserta dan penonton merasa puas. Tanggapan positif juga berdatangan dari para wali santri yang ketika itu datang menjenguk anaknya. “Tahun depan harus lebih baik dari i’dad kali ini,” ujar Barkah, salah seorang panitia, optimis.

Acara ini digelar ISTH dalam rangka membekali fisik dan mental para santri dalam menyongsong masa depan Islam. Bukan sebagai ajang balas dendam, pamer kekuatan, dan sebagainya yang tidak seirama dengan ajaran agama.

“Seperti yang kita tau. Saat ini posisi Islam selalu dijadikan kambing hitam dan sangat terpuruk. Karena itu, sebagai generasi muda Islam, kita harus mempersiapkan diri secara mental maupun fisik untuk meraih kejayaan Islam,” tulis ISTH dalam akun TwitterIQ @isthboarschar belum lama ini.