Wonderful School

Cerita fiksi berikut merupakan karya siswa SMP Ar-rohmah yang bernama Hanif Abdurrahman

“Hoaaaahm…!” Aku menguap untuk ke-73 kalinya. Matematika memang sangat membosankan. Terlalu rumit, memusingkan, membosankan, Dan Bla… bla… bla… lainnya. Mungkin ada tujuh ratus julukan buruk untuk matematika. Plus, gurunya adalah Pak Fadel, yang sama sekali tidak killer dan suaranya lemes bikin ngantuk. Wah, tidak heran bahwa 73% seisi kelas pada ngiler semua, 21% seisi kelas tidur gak pake ngiler, dan 5% seisi kelas terkantuk-kantuk sakaratul maut. Sisanya pada duduk manis, telinga terangkat, dan rajin mendengarkan gurunya Pak Fadel sampai Nyantol-tol-tol! Paling yang berhasil melakukan itu cuma lalat-lalat doang.

“Aljabar itu… bla… bla… bla… kalo y ketemu y… bla… bla… bla… dan hasilnya adalah… bla…” Cerocos Pak Fadel panjang lebar sama dengan luas gak peduli suasana.

“Hoaaaahm…!” Akhirnya setelah menguap untuk ke-77 kalinya, kepalaku sukses mendarat di atas meja. Mission mempertahankan kepala ngangkat, Failed. Lalat-lalat di mejaku kabur tunggang langgang dari mejaku seraya berteriak “Mayday!!! Mayday!!!” dan akhirnya aku tertidur pulas dengan secuil iler.

“Teng! Teng!” Suara lonceng berbunyi keras tanda tidur siangku sudah selesai. Aku memasukkan bukuku ke dalam tas lalu aku melangkah keluar kelas.

“Rey, Tunggu dong!!!” Suara Rio sahabatku tertangkap oleh telingaku. Aku menoleh ke belakang. Sahabatku berlari terengah-engah di belakangku 20 Meter. Aku tersenyum tipis lantas menengadah ke langit. Rio ikut-ikutan menengadah ke langit.

“Ada apa sih?” Rio bertanya-tanya.                                                                                                                                                                                                                                                              “Tidak ada apa-apa kok.”                                                                                                                     “Lalu kamu ngapain?”                                                                                                                             “Melihat langit!”                                                                                                                                          “Ya, aku tahu!” Rio mulai kesal oleh ketidak-fokusanku.

“Kamu ngapain melihat langit?”

“Aku memikirkan sesuatu.”                                                                                                                “Apa pikiranmu?!” Rio mencak-mencak karena jawabanku sama sekali tidak detail.                        “Aku malas sekolah.”

Di rumah aku memikirkan omonganku tadi. Aku malas sekolah… aku malas sekolah… aku malas sekolah… kata-kata itu terus menempel di kepalaku bagaikan Lem Rajawali (eh?). Aku sendiri tidak habis pikir, Why??? Mengapa aku berbicara seperti itu. Kata-kata itu spontan terlontar tanpa disengaja dari mulutku sendiri dan itupun dari kata hatiku sendiri. Aku malas sekolah… Aha! Sebuah gagasan muncul dari kepalaku bagaikan burung Rajawali (nah, lho?). Gagasan itu muncul ketika aku menggoreng Rajawali (hm?). Gak lah, gagasan itu muncul saat aku makan malam. Mungkin aku terlalu rajin, terlalu baik, serta rajin menabung. Jangan-jangan ini memang ilham dari setan agar aku mau mencoba untuk melanggar peraturan dan berbuat nakal hingga di-Black List. Kayaknya sih menarik. Aku sudah bosan sekolah terus. Aku butuh hiburan. Aku langsung bersemangat 45 untuk makan malam dan tidur dengan nyenyak…

Hmm… dimana ya? Aku melihat-lihat isi rak buku. Ini bukan… lalu disini… tidak ada… kok gak ketemu ya? Lirik sana lirik situ, aku mencari-cari buku yang sedang aku cari. Kemudian aku menggaruk-garuk kepala. Kok gak ada? lalu tanganku mencoba ikut nimbrung. Masa sudah kubuang? Sekali lagi aku mencari. Dimana ya? Eh, itu dia!! Aku terlonjak gembira sambil nari Hula-Hula. Seperti di film-film aku mengangkat buku itu dan buku itu seperti bersinar! Salah ding, buku itu full debu yang bikin aku bersin sekian puluh kali. Judul buku itu “Tips and Trick how to become BANDEL Boy”. Aku membuka buku itu, Halamannya sudah banyak yang robek aku agak kecewa melihat buku itu langsung melompat ke Bab dua puluh dua

Bab 22 : Merokok

Di sekolah aku sering penasaran apa sih nikmatnya rokok? Perasaan merokok itu cuma menyedot dan menghembuskan asap doang. Tapi sisi negatifnya buanyaaaaaak banget!! Batuk-batuklah,kanker paru-paru lah, sesak napas-lah, gangguan janin-lah, impotensi-lah, dan lah-lah yang lainnya. Tapi kan ini cuma sekali-sekali, pikirku. Gak setiap hari. Kalo setiap hari aku bisa mati. “ Seorang Siswa dari SMP Bla..bla..bla.. ditemukan tewas di kamar mandi gara-gara keselek rokok!” Gak lucu kan? Apa kata orangtuaku nanti? Apa kata dunia? Dunia berkata, “Mati aja Lo!” Lalu apa kata Rajawali? Ah…! Sudah-sudah…!! Kok malah ngelantur kayak gini, sih? Yang jelas, aku mau merokok!

Aku bergegas pergi ke kamar mandi sekolah. Satu pack rokok merk “Gudang Merica” bersembunyi di kantung celanaku. Dengan berdebar-debar aku membuka pintu kamar mandi. Kok semuanya terasa lambat ya? “Kriiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeeeet………!” Di depanku ada manusia-manusia tidak bertanggung jawab,  Hendri dan Koko. Mereka memasang muka setegang mungkin dengan tangan kiri sebisa mungkin disembunyikan di punggung mereka sendiri. Aku maju sedikit lalu berkacak pinggang                                                                            “Kalian ngapain di sini?!” Tanyaku se-Killer mungkin.                                                           “Mmmh…” mereka pasti bingung mau jawab apa                                                                       “Ck…ck….ck…ck…ck…ck…ck…ck…ck…ck…ck…ck…ck…” Aku berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Eh, kok lidahku pegel ya?                                                                 “Kalian sedang merokok, ya…?” Ucapku sinis sambil memicingkan mata, mengejek.        Mereka membisu bagaikan orang bisu.

“PINJEM KOREK DOOOONG!!!” Aku tersenyum nakal sambil menunjukkan rokokku            “HUUUUUUUUUU!!!” Aku langsung ditimpuk pake batu-bata. “Kirain beneran!” Kami tertawa terbahak-bahak.

Setelah berbincang-bincang hangat agak asem-asem dikit, aku mengeluarkan benda yang menjadi kunci untuk pelajaran ini. Dengan pelan aku menyulut ujung rokok itu.                “Wooi, Rey! Terbaliiiik!!!” Ups, salah bakar! Malu-malu aku menyulut ujung rokok yang satunya. Untung aja diingetin, kalo enggak aku bisa beneran tewas! Setelah itu…                “SSSSSSSPPPH…!” beberapa detik kemudian…                                                                       “Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku terbatuk-batuk hebat. GAK ENAK!!! Hendri dan Koko tertawa terbahak-bahak. Kapok deh…

Bab 24 : Mencuri                                                                                                                    Males, ah! Nanti takutnya aku dikeroyok warga, setelah itu dibakar hidup-hidup, kasih bumbu, disate, setelah itu dikubur! Lalu di kuburan aku masuk neraka, dipotong-potong, dibaluti tepung, dinyalakan kompor terus digoreng!!! Entah apa yang terjadi selanjutnya…

Bab 67 : Ngonsumsi Narkoba                                                                                                            Gak mau!!! Aku gak mau mati Overdosis! Soalnya aku pernah tahu bahwa sekali nyoba Narkoba bisa ketagihan. So, beli-beli terus, uang terkuras, perilaku menyimpang, Sakaw karena gak sanggup beli lagi, Orangtua nangis guling-guling, dan akhirnya “Rest In ‘Not’ Peace” Mati kejang-kejang di kuburan sambil teriak “Aduh!! Sakit!!! TOOOOLOOOOOOONG!!!!!” udah kayak neraka aja. Yang jelas, Say No To Narkoba!!

Bab 33 : Bolos

Kalo bolos ini kayaknya seru! Soalnya tidak terlalu beresiko dan tidak menyebabkan Kematian, Penderitaan, Penyakitan, Pendarahan, Pembusukan, Jerawatan, Dan lain-lain.  Tapi Resiko yang Fatal adalah : Aku bisa turun nilainya, turun rangkingnya, turun reputasinya, turun kelasnya, turun sekolahnya, turun kesehatannya, kemudian baru naik ke atas untuk menemui Tuhan YME. Tapi sekali lagi, ini cuma sekali-sekali! Kemudian aku memikirkan tempat membolos yang enak. Di Taman bunga tapi aku gak punya pacar. Di Taman Rekreasi tapi kayaknya itu bukan tempat  membolos yang seru. Di Taman Kanak-Kanak tapi umurku melebihi batas. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Pembolos Town Square (PeTS)

Setelah menyalami orangtuaku sebelum berangkat ke sekolah, aku pergi ke Jalan Raya. So, aku nyetop Taxi bertulisan ‘The Incredibles’ lalu aku masuk ke dalamnya.                    “Mau ke mana, Dik?” Tanya sopir itu. Aku hendak berkata mau ke PeTS tapi urung, sebab takut Sopirnya melapor ke Jendral TNI AU. Bisa-bisa aku dirudal terus mati dengan Tragic.

“Mau ke SMP Supervolos 29 Pak!” Aku garuk-garuk kepala, rasanya ada yang salah deh. “SMP Supervolos?! Mikir Mas! SMP Supervolos 29 itu adanya di Planet Merkurius!” Aku langsung teringat saat aku Studi tour ke SMP itu. Rasanya seperti Digoreng!!!

“Sorry, pak. Maksud saya ke SMP Superbolos 29!” Aku tersenyum malu. Hanya beda BV saja sih! SMP Superbolos sama sekali Tidak Favorit soalnya kebanyakan siswa dari  sana suka membolos di PeTS. Sekolah itu ada di puncak gunung yang aku lupa namanya. Mall Pembolos tepat di bawahnya. Jadi, Tinggal loncat deh! Paling yang ada badanku remuk doang.                “OK, Mas!” Sopir itu langsung ngebut tanpa ijin. Aku langsung jungkir balik sendiri di mobil taksi. Habis, Sopir itu punya bakat nyetir denga kecepatan Formula 1. Bisa kamu bayangkan dengan bermain Crazy Taxi dengan kecepatan 5X lipat!                                          Taksi itu tiba-tiba mengerem tanpa aba-aba membuat penumpangnya jantungan            “Ada apa, Pak? Kok berhenti?”                                                                                               “Sudah sampai!”                                                                                                                     “HAAAAAAH?!!!” aku menoleh ke jendela. Mulutku menganga lebar. Di depanku Pembolos Mall. Cepatnyaaaaa! Tapi aku merasa ada yang janggal.                                                  “Lho, saya kan mintanya ke Pembol… Eh! Ke SMP Superbolos, Pak?” Tanyaku heran.      “Saya bisa membaca pikiran adik. Di pikiran adik terbayang Pembolos Mall kan?” Aku jadi merinding. Gimana kalau tiba-tiba dia berkata seperti ini ,“Tatap Mata Sayaaaaa…!” Tapi aku menebak pasti sopir ini sudah masuk nominasi sopir taksi teladan tingkat Galaksi Andromeda. Sudah cepat, bisa membaca pikiran orang lagi! Aku pasti akan mendukungnya di Nominasi itu.

“Berapa pak?” Tanyaku                                                                                                          “Murah Kok! Cuma 67 Juta Rupiah saja, Dik!”

Gubrax! Dalam sekejap aku menarik ucapanku kembali.                                                      “Maaf pak, saya tidak punya uang sebanyak itu!” sesalku.                                                      “Wah, Cemen!!!” Sopir itu langsung melaju secepat kilat. Aku agak sebal mendengar ejekan itu. Tapi aku enak, gak usah bayar! Beberapa saat kemudian…                                         “Reyhan! Kamu ngapain di sini!” Bu Rini, tetangga sebelah rumahku berkacak pinggang. Ketahuan deh… belum sempat masuk PeTS.  Bu Rini pakai belanja disini segala. Aku menepuk dahi. Wadooooh!! Di dunia ini memang tidak ada yang gratis!

Bab 11 : Menjahili Teman                                                                                                      …………………………………………… (Silakan Berpikir sesukamu!)

Lambat laun aku pun menjadi anak yang sangat nakal. Otomatis nilaiku turun drastis dan Rangkingku jeblok langsung dalam hitungan hari. Bahkan aku masuk Blacklist hanya dalam beberapa hari. Aku juga bergaul sama anak-anak yang nakal. Rio sudah tidak masuk hitunganku lagi. Ngomong-ngomong di halaman terakhir ada lembar yang terselip!

Bab 43 : Berantem                                                                                                                              Aku melangkah ke kelasku dengan malas. Seperti biasanya, aku mengambil duduk paling belakang. Secara tidak sengaja aku menoleh ke samping. Ada Rio, bekas sahabatku. Aku dengan pongahnya mendekati ke anak itu dan mendorongnya hingga Rio terjatuh. “Woi…, Bagi duit!” Ujarku dengan sombong. Aku melihat muka Rio memerah. Tidak disangka dia bangkit dan balas mendorongku.                                                                                    “Rey! Kamu kenapa sih, kok bisa sejahat ini! Kamu tidak seperti dulu lagi! Kamu sudah sangat berubah sekarang!!” Teriaknya geram. Aku merasa mukaku memanas. Aku langsung berlari ke arahnya dan hendak memukulnya. Tapi Rio menghindar dan mendorongku kuat-kuat. “Braak!” Punggungku ngilu terhantam meja. aku semakin marah dan memukul kepalanya. Kena! Hantamanku kena di pipinya. Rio semakin marah. Ia berlari kearahku dan menendangku. Aku menghindar dan balas menendangnya. Teman sekelasku mulai berkerumun dan menyorakiku dan Rio. Aku semakin bersemangat memukul Rio. Tapi ia menghindar, membalikkan badan dan menungkai perutku! “Ohok!” Perutku sangat sakit hingga aku terbungkuk. Rio memanfaatkan momen ini dengan menendang kepalaku! Pusing tiada tara, aku mulai panik sehingga aku merasa harus memakai suatu senjata. Aha! Aku langsung mengambil kamus besar Jerman-Prancis-Arab tanpa berpikir panjang dan menghantamkannya ke kepala Rio! “Buaaak!” dia terjatuh sambil meringis kesakitan. Aku hendak mendekatinya ketika… “Cukup!!!” Aku menoleh ke pintu. Suasana menjadi hening. Kepala Sekolah ada di ambang pintu kelas!                                                                                          “Reyhan Pratama dan Rio Saputra, ikut Bapak sekarang juga!!!”                                        “O’ow…!!!”

Aku tidak bisa percaya baru kali ini dalam seumur hidup aku berada di Ruang Kepala Sekolah. Apalagi itu karena Kasus, bukan Prestasi. Sangat memalukan Reyhan Pratama harus sampai dipanggil ke Ruang Sekolah segala karena suatu kasus. Kalau bisa, aku pasti akan melipat mukaku dan memasukkannya ke tas. MEMALUKAN!!!

Kepala sekolahku yang bernama Pak Agus memberi wejangan kepadaku dan Rio. Pak Agus adalah orang yang bijaksana dan sabar menghadapi semua masalah. Beliau juga bukan orang yang fanatik dengan ketegasan. Semua dihadapinya dengan senyuman. Untung buatku, kemungkinan aku tidak perlu di Skorsing. Setelah memberi wejangan Pak Agus mempersilakan Rio keluar tapi aku diminta tetap di ruangannya. Aku semakin takut. Bisa saja aku dikeluarkan dari sekolah ini, bisa saja kan?                                                                                “Sebenarnya Bapak kasihan sama kamu, Nak. Kamu sebenarnya anak yang baik, bapak tahu. Dan pengaruh teman-temanmulah yang membuatmu seperti ini…” aku terkejut. Benar!

“Tapi, coba kamu pikirkan. Orang tua kamu sudah susah payah membiayaimu masuk ke sekolah ini. Buatlah mereka bahagia,Nak. Mereka menyekolahkanmu bukan untuk bersenang-senang. Sekolah itu untuk menuntut ilmu, bukan hanya mencari teman, bukan hanya mencari kesenangan”. Perkataan itu membuatku termenung.                                         “Sekolah itu membuatmu meraih cita-cita. Orang tuamu ingin kamu berhasil mencapai cita-citamu dengan sukses. Masalah ini tidak seharusnya terjadi. Kamu adalah siswa yang sebenarnya mempunyai potensi. Jangan ulangi kejadian ini, Nak.” Aku mengusap air mataku cepat-cepat. Masak Laki-laki nangis? Setelah itu Pak Agus mempersilahan untuk kembali ke kelas.                                                                                                                                 Aku keluar dari ruang kepsek kembali ke kelasku. Mataku kelihatan merah habis nangis. Teman-temanku bertanya-tanya apa yang sudah terjadi. Banyak yang berasumsi aneh-aneh. Aku di skorsinglah, Aku di DO-lah, Aku diusir-lah. Whatever

“Teng! Teng!” Entah kenapa, aku tidak bergairah lagi untuk melakukan apa-apa selain pulang dan tidur. Aku segera memasukkan bukuku kedalam tas dan melangkah keluar dengan lesu. Di depan sekolah aku melihat Pak Agus menyeberang jalan. Lalu aku terkesima melihat ada mobil jip mengebut dengan jarak beberapa meter dari tempat Pak Agus. Pak Agus terbelalak melihat jip itu. Kakinya seperti tertancap kuat sehingga tidak dapat digerakkan. Lalu otakku bereaksi. Aku harus menolongnya! Aku berlari langsung ke jalan raya. Lalu mendorong Pak Agus tanpa banyak berpikir. Terdengar suara orang-orang menjerit. Aku menoleh. Astaga! Mobil itu sudah sangat dekat! Aku takkan sempat menghindar. Aku tanpa berpikir langsung melompat ke jok depan mobil itu dan mendarat di atasnya. “Aaaaa…!” Aku terpeleset. “Buuk!!” Lengan kiriku dengan keras membentur ujung atap mobil. Sakitnya bukan main. Sementara itu aku bergulingan ke belakang dan…gelap.

Dimana ini? Apakah aku sudah mati? Apa yang terjadi? Kegelapan. Di sekitarku hanya ada kegelapan. Sunyi. Kesunyian melingkupi tempat ini. Aku mulai berkeringat dingin dan berlari, dan berlari. Yang ada hanyalah kegelapan demi kegelapan.                                         “Tolong!!” Tolong… tolong… Suaraku menggema berkali-kali. Satu-satunya tanda kehidupan adalah aku sendiri. Aku berlari lagi, dan lagi. Kegelapan ini tiada ujungnya. Aku tak berdaya. Aku sendirian. Aku kesepian. Aku terus berlari hingga letih menghampiriku. Aku terjatuh ditengah kegelapan. Aku kalah. Game Over…                                                                     Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hancur. Aku menghancurkan diriku sendiri. Menghancurkan masa depanku sendiri. Dan aku menghancurkan harapan orangtuaku. Tanpa sadar, aku mendongak ke depan. Ada sepasang kaki. Aku mendongak lebih tinggi untuk mengetahui siapa pemilik kaki itu. Aku terpana melihat sosok itu. Sosok itu Rio Saputra.Lidahku terasa kelu. Badanku menggigil. Rio! Pasti dia ingin balas dendam gara-gara masalah tadi. Aku hendak bangkit, tapi terjatuh lagi. Mataku terpejam pasrah. Menunggu hukuman  pembalasan atas kelakuanku kepadanya.                                                      Rio masih belum membalasku. Rio menunggu seolah-olah ingin aku bicara. Aku mulai membuka mata. “Rio, maafkan aku…  Aku salah. Aku bersalah terhadap apa yang pernah kulakukan kepadamu. Mohon maafkan aku…” Sunyi. Aku menatapnya penuh penyesalan. Beberapa menit kemudian Rio tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku memandang tidak percaya. Kemudian aku memegang tangannya dan Rio membantuku bangkit kembali. Aku menyadari. Inilah yang namanya sahabat sejati. Tanpa berkata-kata Rio menunjuk sesuatu. Setitik cahaya harapan terlihat dari sana. Rio mendorongku seakan menyuruhku ke sana sendiri aku mengangguk lalu berlari menuju Cahaya. Kebebasan, Aku Datang!!!

Pintu Kebebasan di depan mata. Mentari menyinariku. Terang. Di mana-mana kembali bersinar. Aku kembali melihat dunia. Dengan bahagia aku menatap pohon-pohon yang rindang. Tapi aku merasa ada yang janggal. Tidak ada aspal. Tidak ada rumah-rumah bertingkat. Tidak ada gedung pencakar langit. Di mana-mana hanya ada kesederhanaan. Alam masih hijau dengan pohon-pohon yang lebat. Sangat Indah. Aku berpaling ke kanan dan terkejut. Seorang anak kecil digandeng orangtuanya masuk ke sebuah Sekolah. Anak itu terlihat familiar. Ia sangat mirip denganku. Ia adalah Reyhan Pratama.                                          “Kubuka album biru.. Penuh noda dan kusam…” Lagu “Bunda”  karya Melly Goeslaw mengalun di telingaku.Aku melihat Reyhan kecil menangis terisak-isak sedangkan orangtuaku menghiburnya. Aku menyesal melihatnya, betapa susahnya ibu mengasuhku!  “Kata… mereka diriku selalu dimanja… kata mereka diriku selalu ditimang…”  Tempat ini berangsur-angsur berubah. Rumahku. Masih terbuat dari kayu. Persis rumahku dulu. Aku melihat Reyhan kecil berseragam lengkap. Reyhan mau sekolah.                                                  “Dik Reyhan masuk sekolah biar pintar ya, Nak? Jadilah anak yang Pintar…” Ibu menciumnya dengan penuh rasa kasih sayang. Mataku berkaca-kaca. Ibu, maafkan anakmu yang tidak taat ini. Andai aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Suasana mulai berubah lagi. Reyhan kecil belajar di kamarnya. Ibuku mengajarinya disertai dengan senyuman kebanggaan.                                                                                                   “Jadi anak yang pintar ya! Jadilah anak yang pintar…” Ibu berkali-kali mengucapkan kata itu. Suasana cepat berganti. Kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5… dan kelas 8. Aku melihat Reyhan terakhir kali menyalami orang tuaku. Ibuku terus tersenyum seakan mengatakan “Jadi anak yang pintar, ya!” itu terjadi hari ini sebelum tragedi antara aku dan Rio.                     “Oh Bunda, ada dan tiada dirimu akan selalu ada di… dalam hatiku…” Dadaku terasa sesak. Andai saja pikiran untuk nakal itu tak pernah ada. Nasi sudah menjadi bubur, aku pun menangis tersedu-sedu. Perlahan-lahan segalanya menghilang berubah kembali menjadi hitam. Ibu tersenyum dan perlahan-lahan menghilang. Ibu…

Suasana menjadi putih benderang. Aku kaget dan merasa silau. Kemudian segalanya berubah menjadi hitam. Kemudian kembali benderang. Lalu hitam lagi. Kabut tebal menyelimuti mataku. Perlahan-lahan mataku terbuka. Masih gelap.                                               “Dimana ini?” Tanyaku sengau. Kepalaku terasa sangat pusing. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang terjadi di lenganku. “Apakah ini surga?”                                     “Hus, ngawur! Anak ibu satu-satunya ini harus rajin belajar dulu, tidak berantem dengan sahabatnya lagi, masuk SMA yang tertinggi, dan rajin beribadah!”                                        “Mana bisa masuk surga kalau begitu caranya…” Suara ini… aku tidak percaya. Perlahan-lahan mataku lebih terbuka. Ini pasti mimpi!! Kok buram banget ya? Aku hendak mengucek-ucek mata. Tapi sebuah tangan menahanku.                                                                “Eits! Lenganmu masih patah, jangan digerakkan dulu!”

Aku menatap lenganku. Kok warnanya merah? Lalu mataku mulai lebih tajam dan aku bisa melihat kalau lenganku diperban. Lalu aku meluruskan leherku. Aku tidak percaya. Orangtuaku di sisiku sedang tersenyum. Benarkah? Lalu beberapa saat kemudian aku ikut tersenyum. Mereka berdua langsung memelukku. Aku membalas pelukan mereka lebih erat. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia. Aku masih diberi kesempatan untuk kembali meraih cita-citaku. Beberapa detik kemudian aku melepaskan pelukanku. Lalu aku menoleh ke samping. Rio! Rio langsung menghampiriku. Lalu ia merangkulku.                                                       “ Rio… Maafkan aku!”                                                                                                                        “Aku juga!” Aku berjanji untuk tidak lagi mencari masalah dengan sahabat sejatiku ini.

Lengan kiriku retak gara-gara membentur atap mobil tadi. Tapi alhamdulillah saja deh, aku selamat. Kalau aku mati karena kejadian tadi, apa kata dunia? Dunia berkata “Masuk neraka aja loh!” Ya, mampus aja kalau aku kalau masuk neraka. Masuk surga aku juga tidak yakin. Pokoknya hanya Tuhan yang tahu. Tapi aku Bersyukur banget karena aku masih diberi kesempatan.

Orangtuaku sekarang ke ruang perawat dan Rio menungguiku. Aku usil-usil saja menggapai-gapai isi bawah bantalku. Eh, ada kertas! Aku mengeluarkannya. Hmm, ada surat! Aku langsung membacanya. Langsung saja to the Point!                                                         “Nak Reyhan. Terima kasih karena telah menyelamatkan bapak dari musibah mobil empat hari yang lalu. Selama empat hari itu bapak dan Rio tak bisa berhenti bersedih. Nak Reyhan menyelamatkan bapak lalu melompat ke mobil itu. Lalu berguling dan jatuh bersimbah darah. Bapak minta maaf tidak hati-hati sehingga malah Nak Reyhan yang celaka. Semoga cepat sembuh! Sekolah menunggumu!!!” Aku tersenyum bahagia.

Berlarilah dan terus tertawa…

Walau dunia tak seindah surga…

bersyukurlah pada yang kuasa…

cinta kita di dunia…

selamanya….

 

Aku teringat lagu Laskar Pelangi. Mereka mempunyai tekad yang kuat untuk berusaha meskipun mereka sederhana. Aku tidak boleh kalah! Aku harus lebih baik dari mereka!! Aku bertekad akan belajar dan meraih cita-citaku setinggi-tingginya seperti burung Rajawali! (Ini lagi!!!)         Dan akhirnya…

 

The End