Terdampar di Pulau Terpencil

Cerita fiksi berikut merupakan karya siswa SMP Ar-rohmah yang bernama Rudi Khoirul Azwar

Pagi ini aku membaca koran sambil menikmati secangkir teh hangat di depan rumah. Tiba-tiba pak pos datang dan aku mendapat sebuah surat yang isinya sebagai berikut,

“Kepada saudara Haize, kami pihak sekolah berterima kasih sekali karena Saudara telah mengharumkan nama sekolah kita tercinta dan itu semua membuat sekolah kita mendapat juara umum dalam menciptakan murid-murid berkelas. Jadi kami pihak sekolah memutuskan untuk memberikan hadiah berupa paket wisata ke Washington DC. Mungkin ini yang bisa kami sampaikan lewat sepucuk surat ini. Terima kasih”.

Hatiku sangat bahagia sekali setelah membaca surat itu, karena cita-citaku untuk berkeliling dunia telah tercapai dan mungkin ini adalah hari hari yang paling indah sepanjang hidupku. Aku meminta ibu untuk membaca isi surat itu. Seketika itu pula ibu langsung memelukku dan menangis. “Ibu bersyukur sekali mempunyai anak seperti kamu”, ibu berbicara sambil memeluk aku. Dan tidak hanya aku saja yang senang kala itu. Ketiga temanku juga senang dan kaget, sampai-sampai Garte nangis di rumah karena orang tuanya waktu itu tidak ada di rumah. Jadi dia nangis sendirian di kamar sampai-sampai suaranya terdengar keras sampai rumahku.

” Kenapa sih, anak itu menangis? Padahal dia mendapat tiket liburan ke, tapi gak usah dipikirin ah yang penting aku bisa enjoy dan ceria menikmati liburan bersama ketiga temanku”. Aku bergumam didalam hati sambil tersenyum bangga.

Pagi hari ini aku bersiap-siap dengan mengemasi baju-bajuku karena besok sudah pergi ke dengan sebuah kapal pesiar yang besar. Setelah mengemasi baju-baju dan perlengkapan lainnya. Aku bermain bersama Danze, Tamage dan Garte ke rumah teman-temanku dengan maksud berpamitan dan meminta do’a agar dimudahkan dan diberi keselamatan dalam perjalanan. Hari pun semakin gelap aku memutuskan untuk kembali ke rumah agar orang tuaku tidak mencari aku.

Dalam perjalanan aku terus memikirkan kota Washington itu seperti apa ya? sampai aku hampir menubruk tiang listrik yang berada di pinggir jalan. Untungnya aku cepat membelokkan setang sepedaku kalau tidak mungkin aku sudah menubruk dan hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi dan bukan mustahil lagi aku tidak bisa mengikuti perjalanan yang menyenangkan itu. Sekitar pukul 17.00 aku sampai di rumah dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhku dan rasa takut karena aku datang kemalaman.

“Hai, Tama ke sini!”, Tama adalah panggilanku rumah.  Ibu memanggilku dengan wajah yang kesal.

“Ada apa bu?”, aku berbicara dengan tegang.

“Kamu habis dari mana saja dan dengan siapa?”, ibu mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku.

“Aku habis bermain kerumah temanku untuk berpamitan dengan Tamage, Danzo dan Garte”, aku jujur kepada ibuku.

“Tidak apa-apa, tapi kau jangan mengulanginya lagi ya, mandi dan tidur agar besok tidak kecapean!”, ibu menasehati dengan suara rendah.

“iya bu”, aku menjawab dengan lega.

Setelah mandi dan ganti pakaian aku langsung tidur dan berharap mimpi dengan indah. Tetapi saat aku tidur aku bermimpi buruk sekali tentang perjalananku. Saat itu aku pergi ke sekolah. Aku bertemu dengan seorang kakek tua lalu dia berbicara denganku, kau jangan pergi ke sana karena kau akan celaka di perjalanankmu nanti.  Belum sempat menanyakan namanya, aku sudah terbangun dari tidurku. Kira-kira pukul 03.30 aku duduk dan merenung sebentar, kemudian tertidur lagi hingga pukul 05.30. Aku terbangun mendengar suara ibu yang sudah biasanya aku dengar.

“sekarang sudah pukul 05.30 ayo bangun dan mandi, nanti akan di antar kepelabuhan oleh kakakmu”, ibu menyuruhku dengan suara khasnya.

Setelah semuanya siap ibu, aku dan kakak naik ke mobil. Pukul 06.45 kami langsung pergi ke pelabuhan. Di perjalanan aku menikmati sekali pemandangan kota yang indah. Sekitar pukul 08.00 aku sampai ke pelabuhan. Di sana aku disambut oleh teman-temanku. Mereka memberiku surprize. Oh iya, aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku yang kelima belas.

Saat itu pintu kapal pesiar akan di tutup kira-kira 5 menit lagi. Jadi aku langsung berpamitan kepada ibuku, kakakku, teman sekelasku dan guru-guruku. Setelah berpamitan, aku langsung masuk ke kapal. Oh iya, aku baru ingat kalau aku belum menceritakan mimpiku  ke ibuku. Apakah ini pertanda buruk bagiku? Aku terus memikirkannya. Dan aku naik ke bagian kapal yang paling atas untuk menikmati pemandangan laut yang indah dengan ikan lumba-lumba yang menakjubkan. Setelah termenung lama. Aku dikagetkan oleh ketiga orang temanku. Setelah itu, aku menengritakan mimpiku itu kepada tiga orang temanku tentang mimpiku tadi malam.

Setelah dua hari melakukan perjalanan, kapal yang aku tumpangi masuk ke wilayah GHOSTLAND yang berada di sekitar Samudra Atlantik. Menurut sebagian awak kapal di wilayah ini banyak terjadi keanehan-keanehan yang tak masuk akal. Maka dari itu para awak kapal harus berhati-hati. Aku melamun, apakah hal yang dibicarakan kakek-kakek di dalam mimpiku itu akan terjadi. Aku bertanya-tanya dalam hatiku apakah ini adalah pertanda buruk?. Aku memikirkannya sampai-sampai tidak bisa tidur malam walaupun ketiga temanku menyuruhku tidur. Setelah bosan menyuruhku tidur akhirnya mereka bertiga tidur sendiri.

Aku terus memikirkannya dan tidak bisa tidur walaupun sudah memakai mp3 dan mendengarkan lagu favoritku yang berjudul pieces yang di karang oleh ban membawaku ke uks . Setelah diperiksa oleh dokter, dia memberiku sebungkus obat yang berwarna-warni. Lalu dokter memberiku nasehat agar tidak di ulangi lagi tidur malamnya.

Sore hari tiba-tiba awan menghitam dan hujanpun turun dengan deras. Lautpun mulai bergejolak dan badai pun menghantam kapal kami. Para awak bekerja keras, tapi semua itu tidak ada gunanya karena kapal sudah tertabrak karang besar. Kapal kami terbelah menjadi dua bagian. Semua penumpang termasuk aku terbawa ombak kesana kemari tidak tahu mana arah tujuannya.

Malam yang mengerikan itu sudah berakhir dengan kesedihan yang mendalam bagiku. Pagi ini aku terbangun dari pingsan dan melihat pantai yang indah. Tapi, aku tak tahu di pulau mana aku berada. Karena wilayahnya yang kecil dan masih alami. Dan saat itu pula aku melihat ketiga orang temanku tergeletak lemah di semak-semak yang tempatnya tidak terlalu jauh dari pantai. Untuk kali pertama aku mencoba untuk menyadarkan Tamage dengan member nafas buatan. Aku bersyukur karena aku bisa membuat Tamage sadar. Kedua kalinya aku mencoba untuk menghampiri hanze dan Garte. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam semak-semak. Tiba-tiba dua orang besar, hitam dengan raut mukanya yang mengerikan keluar dari semak belukar dengan membawa tombak berdiri didepanku. Sekejap itu pun aku lari bersama Tamage dengan rasa takut yang menggebu-gebu. Mereka terus mengejar kami sehingga kami memutuskan untuk masuk ke semak belukar untuk bersembunyi dan menghilangkan jejak. Saat itu pula mereka berhenti mengejar kami. Mungkin mereka sudah kehilangan jejak kami. Sekarang aku dan Tamage mencoba untuk berdiskusi sebentar.

“Bagaimana solusinya agar kita dengan bisa menemukan Garte dan Hanze dengan cepat?”. Aku bertanya kepada Tamage dengan nafas yang tersedak-sedak.

“Kita tidak bisa menemukan garte dan Hanze dengan cepat dan semua itu butuh proses apabila kita ingin mencapainya kita harus disiplin, hati-hati dan tetap berdoa”, Tamage menasehatiku.

“Oh iya, bagamana kalau kita membuat jebakan dan sebagai umpannya adalah kau”, aku tertawa terkaka-kakak.

“Ya itu bagus tapi, kalau mereka tahu dan menangkapku, bagaimana denganmu”, dia menjawab dengan santai”.

“Oh iya, aku punya ide. Bagaimana kalau umpannya di ganti dengan sebuah hewan buruan”, tambahnya.

Selanjutnya kami langsung menyiapkan peralatan untuk membuat jebakan. Setelah membuat jebakan. Kami memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah semakin gelap. Agar besok bisa bersiap-siap untuk menjalankan ide tersebut dengan maksimal. Walaupun saat tidur aku kedinginan. Tapi ini adalah pengalaman berharga dan ini adalah sebuah perjuangan.

Matahari sudah muncul dari timur itu menandakan hari sudah terang. Aku terbangun dari tidurku dan selanjutnya aku membangunkan Tamage.  Lalu kami langsung menyiapkan diri untuk menuju ke jebakan tersebut. Setelah kami tunggu-tunggu sampai aku sempat tertidur tapi untungnya Tamage mengingatkanku agar tidak tidur dan selalu was-was terhadap musuh. Hari semakin gelap tapi belum satupun orang-orang besar itu tertarik untuk mengambil makanan ini.

Setelah bosan menunggu, aku dan tamage memutuskan untuk beristirahat. Tapi sebelum itu kami memutuskan untuk membuat gubuk kecil agar tidur malem tidak kedinginan. Setelah selesai membuat gubuk, kami langsung menempatinya untuk tidur. Dan hasilnya sih lumayan. Kami bisa tidur sedikit nyenyak. Pagi harinya aku memutuskan untuk mencari makanan di hutan, karena perut kami keroncongan karena tidak makan selama dua hari. Kami langsung pergi ke hutan dengan haus dan lapar. Setelah sampai dan akan masuk aku kaget, karena melihat banyak jebakan di dalam hutan.

“Bagaimana kita bisa masuk ke hutan untuk mencari makan dan minum kalau di penuhi jebakan seperti ini. Bagaimana solusinya?. Aku bertanya ke Tamage.

“Kita pasti bisa, karena di setiap jebakan ini pasti anda kelemahannya”, dia menjawab dengan lagak sok pinter”.

“Ok kalau begitu kita langsung masuk saja”, aku langsung nylonong masuk.

Untungnya Tamage menahanku masuk. Dia mengajakku untuk berdiskusi tentang bagaimana cara menerobos jebakan tersebut dengan  selamat. Tiba-tiba Tamage menarikku dan menyuruhku berlari dengan mode zig-zag dan dia melarangku menoleh kebelakang. Dan rupanya cara ini berhasil. Sehingga kami bisa melewati jebakan ini dengan selamat.

“Wah, Tamage hebat juga ya!”, aku berkata dalam hati.

Belum sempat melewati jebakan lainnya tiba-tiba kami terperosok kedalam lubang yang dalam dan gelap.

“Aaaaaaa…… tolong……..”, aku dan Tamage berteriak. Berharap keajaiban datang dan menolong kami. Aku bersyukur karena masih bisa hidup.

Tiba-tiba seorang kakek tua menghampiri kami dengan ber jalan di sebauh lorong yang sangat gelap. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya karena cahaya yang bisa menerobos masuk ke lubang ini hanya sedikit. Suara gemuruh membuat aku dan Tamage kaget dan takut akan terjadi gempa. Tapi ternyata dugaan kami salah. Sebuah pintu ruang bawah tanah terbuka secara otomatis.

“Silahkan kalian masuk dan makanlah sepuas kalian”, kakek itu munyuruh kami masuk dan makan.

“Betulkah kek kami boleh makan”, Tanya ku.

“Ya silahkan”, kakek itu mengiyakan.

Setelah selesai makan. Dia sempat bertanya kepadaku bagaimana asal-usul kami bisa tersesat.

“Kenapa kau mengunjungi pulau ini”, kakek bertanya kepadaku.

“Ceritanya panjang sekali dan aku sedikit lupa kejadiannya”, aku menjawab.

“ ya, aku sudah tahu semua ceritanya dan bagaimana kejadiannya”, kekek itu menjawab dengan lagak sok tahu.

“ sebenarnya kekek ini siapa ya”, aku bertanya kepadanya dengan hati yang penasaran.

Kekek itu hanya terdiam. Setelah kutunggu jawabannya, ternyata dia tidak menjawab. Akhirnya aku dan Tamage memutuskan untuk pergi.

“Jangan!”, dia melarangku pergi.

Lalu dia memberi tahuku namanyan dan dia segera membalikkan badannya serta menghidupkan lampu ruang tamu karena gelap. Seketika itu pula aku kaget karena kakek itu adalah kakek yang ada dalam mimipiku itu.

Ka..ka… kau adalah kekek yang ada di dalam mimpiku itu. Aku bertanya sambil terputus-putus. Dia membenarkan soal mimipiku itu.

“Tapi kenapa kau bisa masuk ke dalam mimpiku”, aku bertanya dengan penasaran.

“Mungkin itu hanya kebetulan saja dan saat tidur aku juga bertemu denganmu sedang tersesat di pulau ini”, dia menjawab.

“Dan bagaimana kakek bisa tersesat di pulau ini” aku bertanya dengan penasaran.

“ Saat itu aku masih berumur 49 tahun. Aku sedang mencari ikan di sekitar pulau ini dengan saudaraku yang bernama John Carlos. Tiba-tiba hujan deras dan badai menghampiri kami. Pada saat itu pula kami terhempas badai yang sangat besar itu. Kami memang selamat dalam peristiwa itu. Tapi, naas nasib saudaraku. Dia terkena oleh panah beracun lalu dia tertangkap oleh orang besar itu sementara itu dia menyuruhku untuk turus lari jangan berhenti dan cari bantuan dangan cepat dia menyuruhku meninggalkannya. Mendengar perkataannya aku langsung berlari tanpa berhenti melewati semak belukar, rawa berlintah dan rerumputan berduri. Sampai akhirnya aku sampai ke hutan dan langsung membuat rumah bawah tanah sambil menunggu halikopter penyelamat datang menolongku. Dua bulan berlalu, tapi tidak ada satupun halikopter yang datang untuk menyelamatkan kami. Jadi aku memutuskan untuk tinggal di rymah bawah tanah ini untuk waktu yang lama”, kakek menceritakan dengan raut muka sedih.

“Lalu siapa yang membuat jebakan di hutan ini”, aku bertanya.

“Kakek sendiri yang membuatnya dengan segenap pengalaman yang ada”, kakek menjawab.

“Wah, ternyata kakek memang hebat ya!”, Tamage memujinya.

Kakek bisa seperti ini karena dia memang aktif dalam kegiatan-kegiatan pramuka sewaktu masih sekolah. Alasan kakek membuat jebakan itu untuk melindungi rumahnya dari orang-orang jahat. Selama 4 tahun ini suku pedalaman itu tidak ada yang berani masuk dan baru kamilah yang bisa melewati jebakan itu. Tidak terasa hari sudah gelap. Maka kakaek menyuruh kami untuk tidur. Tapi kenapa tiba-tiba aku memikirkan Garte dan Danzo.

“Bagaimana ya sekarang keadaan mereka berdua”, aku bertanya penasaran dalam hati.

Jadi tengah malam aku mencoba untuk keluar rumah untuk menyelamatkan mereka berdua. Setelah berjalan lama. Akhirnya aku sampai pula ke kampung tapi, aku tidak begitu saja masuk karena ada dua orang penjaga yang bejaga-jaga di sebelah utara, selatan, timur tapi saat aku melihat gerbang sebelah barat tidak berpenjaga maka dengan langkah pelan-pelan aku masuk dan mencari kedua orang temanku itu. Alhasil aku tidak bisa menemukannya karena mereka karena mereka tidak di ada di desa. Aku baru tahu kalau mereka sedang diikat disebuah kayu besar dengan berlumuran darah saat aku mencari mereka disebelah barat laut. Aku langsug melepaskan ikatan demi ikatan yang melilit tubuh mereka dengan cepat agar aku tidak ketahuan. Tiba-tiba anak panah melesat hampir mengenai kepalaku. Ternyata penjaga desa itu mengetahuku akan menyelamatkan kedua orang temanku. Untungnya kakek Sam bersama Tamage cepat datang untuk menyelamatkanku kalau tidak mungkin aku sudah mati terkrna busur panah yang beracun itu. Senang sekali karena kakek dan Tamage mau datang untuk  membantuku menyelamatkan Garte dan Danzo. Aku, kakek Sam dan Tamage memutuskan untuk membopong mereka berdua kembali ke rumah. Setelah sampai aku langsung beristirahat nggun menuagar besok pagi tidak kecapean.

Pagi hari ini aku dan kakek mencoba untuk mengobati luka-luka mereka agar tidak infeksi.   daSelama sepuluh hari mengobati mereka. Akhirnya mereka pun sadar. sejak saat itu kami berlima menunggu dan menunggu sampai halikopter datang menyelamatkan kami. Tapi tak ada satupun halikopter yang datang.

Tepatnya hari kesebelas kami memutuskan untuk pergi kepantai dengan harapan ada kapal penyelamat datang untuk mencari korban. Saat berjalan tiba-tiba ada suara minta tolong dari sebelah timur. Seorang laki-laki tua seumuran kakek keluar dari semak-semak dengan berlari tergopo-gopo yang sedang di kejar oleh penduduk suku.

“Kamu adalah Sam kan?”, kakek bertanya.

“Ya, aku adalah Sam”, jawabku cepat.

“Kamu mau pergi ke mana sedangkan di daerah ini sangat berbahaya”,lelaki itu bingung.

“Sssssssst, jangan berisik nanti akan kuceritakan semuanya di rumah. Untuk sekarang kita bersembunyi dulu sampai mereka pergi”, kakek menasehati kami.

Setelah lama menunggu di semak belukar yang gatal. Akhirnya mereka pergi dan inilah saatnya kami kembali kerumah kakek Sam. Setelah sampai, kakek mempersilahkan saudaranya untuk duduk. Setelah itu kakek baru menceritakan semuanya. Setelah bosan berbincang-bincang. Aku dan Tamage memutuskan untuk tidur duluan. Pagi harinya tepatnya hari ke-12 dan bagi kakek Sam dan kakek John ini adalah hari yang ke-730 hari.

Siang hari saat aku, Tamage, kakek Sam dan John, Danzo, Garte berdiskusi. Terdengar suara halikopter dan tembakan laras panjang di wilayah desa. Lalu aku langsung memberitahukan kepada kakek Sam dan teman-temanku tentan kejadian tersebut.

“Mungkin itu halikopter penyelamat”, kakek Sam berdalih.

Sekejap itu pula kami semua keluar berharap meminta bantuan kepada mereka dan melaporkan semua kejadian yang telah kami alami. Dengan menunujukkan identitas dan berbagai alasan. Akhirnya kami langsung di bawa oleh helikopter kembali ke Jepang. Di sana ibuku dan semua orang temanku serta guru-guruku dengan meneteskan air mata saat menjengukku. Aku dan ketiga orang temanku serta kedua kakek itu mengikuti pemeriksaan medis di rumah sakit Jepang. Setelah dua hari menjalani pemeriksaan. Aku dan ketiga orang temanku diperbolehkan pulang. Sementara kedua kakek itu di pulangkan ke negara asalnya. Sebelum itu aku menjenguk mereka di bandara.

“Kek terima kasih karena telah menyelamatkanku dari mereka”, aku menangis.

“Ya, sama-sama tapi yang tepenting lagi adalah kita mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan ini harus kita jadikan untuk pelajaran dan disiplin dalam segala hal”, kakek menasehatiku.

Drrrrrrrngggg!!!!!. Bunyi bel sudah berbunyi yang menandakan jam pemberangkatan sudah dimulai. Aku bersalaman dengannya serta memberinya sebuah bingkisan kenangan.

Dia telah pergi dan aku akan menjalani kehidupanku dengan ibuku serta bermain bersama kedua temanku seperti biasanya. Dua bulan sudah berlalu dan ini adalah hari liburan sekolah. Aku memutuskan untuk belibur ke Hawaii besama kakakku dan aku berharap ini adalah pejalanan yang menyenangkan.

Pesanku adalah jangan pernah menyerah untuk menggapai cita-cita. Tetap disiplin dalam segala medan.