Ramadhanku

Cerita fiksi berikut merupakan karya siswa SMP Ar-rohmah yang bernama Fadel Muhammad Irfan

Pagi ini adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Sebagai seorang santri pagi ini aku piket bersama Renggi untuk membangunkan teman – temanku sekamar agar Shalat Tahajjud berjama’ah. Namaku Rico aku berasal dari Palembang, Sumatera Selatan aku masuk Pondok Pesantren karena pilihanku sendiri, tetapi aku sangat menyukai pondok ini karena pondok ini berbasis Internasional. Di sini kami akan diajarkan enam bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Prancis, dan Bahasa Spanyol.

Tentu masing – masing bahasa memiliki Toefl, ya… seperti bahasa Inggris lah. Dan juga semua santri diwajibkan dapat menguasai salah satu dari keenam bahasa tersebut, contohnya bila aku menguasai bahasa Inggris keseluruhan maka aku dapat meneruskan pendidikan kuliah di London, Inggris tetapi dengan syarat aku harus menempuh pendidikan SMP – SMA di sini. Dan sekarang aku sudah menguasai tiga bahasa yakni: bahasa Inggris, Arab, dan Jerman sekarang aku setara dengan kelas dua SMP. Sealin itu pondoku terletak di Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Pondoku bernama “Az – Zahra” dan tentunya di sini sama sekali tidak terdapat perempuan karena antara pondok putra dan putrinya dipisah. Selain itu pondoku ini juga Multietnis, tidak hanya dari Pulau Jawa saja tetapi ada yang dari luar pulau bahkan ada yang berasal dari luar negeri! seperti Madrid, Berlin, dll.

 

Pondoku juga menoreh banyak prestasi di dalam ataupun luar negeri. Dan seperti layaknya pondok pesantren tentu di sini juga ada pelajaran agama atau diniyahnya dan itu juga menoreh banyak prestasi. Kalau sudah di area pondok berbicara bahasa asing sudah menjadi kewajiban di sini, tetapi anehnya di sini tidak terbilang ketat tidak seperti Gontor yang super ketat itu. Di sini kami diberi kebebasan untuk berkreasi dan tidak seperti Pondok Pesantren pada umumnya di pondoku pimpinanya bukanlah seorang Kyai melainkan seorang Direktur dia lulusan Universitas Al – Azhar, Mesir bernama DR. Mahmud Saleh, M.ag. Jika waktu Khutbah Jum’at beliau selalu membuat kami ternganga, menurut kami dia adalah seorang yang Kharismatik bagi kami. Sedangkan Renggi berasal dari Sidoarjo, Fauzi berasal dari Jeddah, Hendra berasal dari Probolinggo dan masih banyak lagi. Setelah aku dan Renggi membangunkan teman – teman kami pun langsung mengambil Air Wudlu, saat kami menata sajadah tiba – tiba pengasuhku datang, dia bernama Ustadz Hasyim.  Dia berasal dari Sulawesi.

“Assalamualaikum!”

“Wa’alaikum salam!”, jawab kami.

Kemudian shalat pun dimulai, shalat dimulai sangat khusyuk. Setelah itu barulah beliau memberikan kultumnya:

“Baiklah anak – anaku sekarang adalah bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah oleh karena itu perbanyaklah Tadarrus, dan mentadaburri isi Al – Qur’an dengan mengaplikasikan tujuan masing – masing ayat di kehidupan sehari – hari. Maka setelah selesai member nasehat kami pun segera menuju dapur.

“Wah, sudah jam tiga ini pasti dapur sudah buka” kata Rengii.

“Ya! Mari kita kesana sebelum antrianya panjang” kata Izzat.

Segera kami berlari menuju dapur dan ternyata sudah menjadi kebiasaan bahkan membudaya kami sekali lagi harus mengantri.

“Hei, lauk sahurnya apa?” tanya Fauzi.

“Lauknya adalah Ikan Tongkol dan Sayur Bening” jawabku.

“Wah, mantep tuh tungguin ya!” kata Fauzi.

Maka kami pun makan di satu meja, setelah itu kami pun segera pergi ke masjid untuk  shalat Subuh berjama’ah. Kami pun duduk manis membaca Al – Qur’an, tetapi ada Ta’mir yang sedang berjaga di setiap sisi kalu saja kami bergerak sedikit bahkan berbicara atau tidur maka siap – siap tubuhmu menerima pukulan keras rotan, maka benar apa yang terjadi pada Abid “Awwww…., sakit mas!”

Aku bisa merasakanya itu pasti sakit. Terlepas dari itu semua maka adzan pun dikumandangkan dan aku pun meratapi masa laluku di pondok waktu kelas satu dulu, aku mengingat bagaimana sewaktu aku ditinggal orang tua dulu, sewaktu aku liburan, dan aku juga masih ingat ketika aku dimarahi pengasuhku, suka – duka meliputi perasaanku dan ternyata Iqomah pun dikumandangkan dan aku pun segera bangun untuk menuju shof satu. Ternyata, tiba-tiba pengasuhku mendorongku untuk mengimami shalat itu aku pun terkejut di tempat imam maka aku pun setengah gugup segera mengimaminya sebisa mungkin. Setelah perjalanan gugup itu kami pun langsung menuju kelas masing-masing untuk Halaqoh alias mengaji bersama dan Alhamdulillah di kelas dua SMP ini aku sudah hafal tiga juz sesuai dengan target di pondoku, maka tugasku sekarang adalah untuk membantu pengasuhku untuk menerima setoran hafalan.

Ting…….. ting……… ting………. bel pun berbunyi.

Maka segeralah aku berlari menuju asrama agar aku dapat mendapat  giliran mandi yang pertama, dan disetiap kamar disediakan empat buah kamar mandi dan di setiap kamar ada delapan orang serta kami hanya diberi waktu tiga puluh menit saja untuk persiapan piket, mandi, dll. Maka tanpa berpikir panjang aku segera lari sekencang-kencangnya dan ternyata, aku disuruh kembali lagi oleh Abid ke kelas dan aku baru sadar.

“Ya Allah, Oh ya, setelah bel berdering kan harus kumpul dulu untuk mendapatkan nasihat wah siap – siap menerima hukuman nih!”

Maka aku pun dihukum untuk jalan ala Gagak mengelilingi lapangan selama sepuluh kali, uhhhh! sungguh mengesalkan maunya mandi giliran pertama eh ternyata, mandi giliran terakhir deh. Dan setelah pagi yang menyakitkan itu aku segera memerintah anak buahku untuk piket mengingat aku adalah seorang ketua kamar di asrama. Setelah semua telah piket, pas waktu menunjukan jam enam lewat dua puluh lima menit, maka aku segera ambil sepatu dan tas. Setelah itu aku melapor kepada pengasuhku, sebagai ketua kamar sudah menjadi rutinitas bagi kami untuk melaporkan kondisi kamar di setiap pagi kepada masing – masing pengasuh.

“Ustadz! semua sudah bersih yang belakang lantainya mengkilat dan kamar mandinya saya pastikan lampu, kran airnya sudah mati, lalu jemuran sudah tertata rapi di tempatnya, di bagian tengah saya sudah periksa lampu sudah mati lantainya sudah dipel harum dan untuk ranjangnya rapi tidak ada barang yang berceceran serta semua kasur berstandart hotel yaitu bantal guling di tengah dan selimut di bawah bantal seta seprainya tidak ada yang kusut, dan yang terakhir adalah bagian depan untuk noda membandel di lantainya sudah kami sikat dan dipel dan saya pastikan harum semerbak dan semua anggota kamar sudah keluar dan kamar siap untuk dikunci.

Maka beliau hanya berkata, “Oke kamu boleh berangkat!”

Segeralah aku berangkat ke sekolah dan untuk seragam sekolah karena hari ini adalah Senin maka seragamnya adalah baju putih dan celana panjang berwarna biru, sabuk harus dikencangkan, dasi sisi – sisinya harus simetris, sepatu harus hitam full tanpa ada debu sedikitpun, dan yang terakhir adalah songok yang diletakan diatas kepala. Dan mengingat hari ini adalah puasa maka jam sekolah dimajukan menjadi jam tujuh tepat. Dan aku pun sampai di sekolah, untuk pendidikan  di pondoku terbilang sangat ketat. Nilai, Psikologi, serta adab terhadap guru juga diperhatikan. Selain itu di sini juga terdapat tujuh kelas sesuai dengan bahasa asing yang diterapkan di pondoku ini, yaitu:

  1. Internasional: Pengantar Bahasa Inggris
  2. Medina: Pengantar Bahasa Arab
  3. Hamburg: Pengantar Bahasa Jerman
  4. Malmedy: Pengantar Bahasa Prancis
  5. Kordoba: Pengantar Bahasa Spanyol
  6. Tokyo: Pengantar Bahasa Jepang
  7. Firdaus: Pengantar Bahasa Indonesia

Di sinilah kami bersaing secara ketat untuk memperebutkan kelas terbaik dan nantinya akan bersaing di tiap-tiap kelas untuk mejadi yang terbaik, dan sudah menjadi kebiasaan di setiap pagi pukul tujuh sampai tujuh lebih tiga puluh menit semua penggerak bahasa asing berkumpul di tengah lapangan untuk mendapatkan dekripsi dari ketua, dan pelajaran hari ini adalah bahasa Inggris alias “English Morning”.

“Ting…….. ting” bel pun berbunyi maka itu pertanda untuk mulai berbicara bahasa asing dan aku termasuk teman-temanku pun mulai mengajar di tiap-tiap kelas. Setelah itu kami pun bersiap untuk menerima pelajaran pertama yakni “TIK” maka kami pun segera untuk berlari menuju laboratorium komputer untuk mendapat giliran pertama menggunakan komputer. Setelah itu Pak Haryono sang guru TIK kita pun datang

“Today is exam, i give two minutes to study!.

Hatiku pun berdebar mendengar hal itu maka segera kami pun belajar dan Alhamdulillah aku setelah ulangan aku mendapat nilai 84. Ya…  maklum lah karena dadakan. Setelah selesai kami pun segera kembali ke kelas, mengingat bulan Ramadhan jadi jam pelajaran jadi singkat deh. Pelajaran kedua adalah Matematika guru maple ini bernama Pak Andrew, beliau berasal dari Indianapolis Amerika Serikat dan beliau juga termasuk guru baru di sini. Pak Andrew menjelaskan pelajaran ini menggunakan bahasa Inggris dan tentu kami dapat mengerti apa yang ia jelaskan. Setelah itu beliau pun memberikan kami soal latihan Matematika, menurut kami dia adalah orang yang paling mendetail dalam mengajar Matematika karena bila ada satu orang saja di antara kami yang belum paham maka beliau pun akan mengulanginya sampai semua dari kami pun paham.

“Ting…. ting…..”  bel berbunyi

Maka kami pun segera berpisah dan kami tidak lupa untuk mencium tanganya sebagai bentuk penghormatan. Pelajaran ketiga adalah pelajaran yang harus benar-benar diperhatikan yakni Bahasa Arab gurunya bernama Pak Abdul Mughni beliau adalah lulusan Universitas Madinah, Arab Saudi dia selalu memberi kami banyak PR(Pekerjaan Rumah) dan seperti biasa dia memberi kami delapan PR sekaligus! Dalam satu kali mengajar. Dan dikarenakan beliau ada urusan maka beliau pun mengucapkan salam dan mengingatkan kami agar PR tersebut dikumpulkan besok, sembari beliau keluar kami pun mengerjakan PR-nya di waktu kosong seperti saat ini. Dan pelajaran terakhir adalah Fisika, tiba – tiba beliau pun mengejutkan kami

Gurten Muken, boys!”

Sesosok orang muncul dengan berbadan tinggi besar, berambut blondi alias pirang, bermata biru mencolok, dan dengan langkah tegap beliau masuk. Dia adalah guru kami bernama Pak Herman, pernah masuh kemiliteran Jerman, sewaktu konflik Bosnia dia diterjunkan untuk membela pasukan Bosnia tahun 1994 sepatunya hitam mencolok seperti tak ada noda yang memasuki dirinya. Dan setelah itu beliau pun langsung menerangkan kami mengenai Massa dan Gravitasi. Dan beliau juga berprinsip “In time its better than on time” setelah itu beliau langsung menyuruh kami agar pergi ke masjid segera maka kami pun pergi.

Setelah duduk manis di shof pertama bel pun berbunyi, ternyata beliau benar-benar mengaplikasikan prinsipnya. Adzan pun dikumandangkan aku masih mengingat kejadian tahun kemarin ketika aku membatalkan puasaku uh!!!! Sungguh malu rasanya di hatiku.

Setelah shalat Dhuhur aku pun segera ke kamarku untuk ganti baju dan mengambil buku dan mengerjakan PR di kelas, jarak antara kelas dan asrama tidak jauh, mungkin hanya 600 meter lah. Mula-mula aku pun semangat untuk mengerjakan tetapi jam 14:00 pas aku pun mulai terlelap. Tiba – tiba Pak Andrew pun membangunkanku dan aku pun segera lari, karena pengalamanku sewaktu aku telat shalat Shubuh aku awalnya dibangunkan tetapi tiba-tiba pengasuhku langsung menyiramku dengar seember penuh air. Shalat Ashar pun kulaksanakan dengan berada padsa shof terakhir. Setelah itu karena aku mengantuk berat, aku pun tertidur di masjid mulai pukul 15:00 – 17:00. Setelah aku bangun, maka aku segera berjalan perlahan-lahan untuk menuju dapur. Setelah mengambil ta’jil aku duduk bersama teman-teman sekamarku, dan tiba-tiba Renggi pun mengambil ta’jilku.

“Hey, apa yang kamu lakukan! Kamu kan sudah dapat jatah?” elakku.

“Biarin, kamu kan hanya pembantu dan orang kampungan yang kumuh di sini!” ejek Renggi.

Maka aku segera lari sekencang-kencangnya untuk pergi ke kelasku tadi, aku menangis berkaca – kaca, aku tak bisa percaya bila temanku sendiri menghinaku separah itu!. Adzan pun dikumandangkan, tetapi lauk masih belum bersedia maka aku putuskan untuk mengambil makanan yang berada di meja itu, aku tak peduli milik siapa. Tiba – tiba Pak Andrew mengejutkanku “Rico… kamu boleh ambil itu kalau kamu mau dan setelah Maghrib nanti kamu saya ajak untuk makan bersama diluar, mau ya!”

Mendengar hal itu aku langsung senang, aku tak percaya guru yang baru mengajar di sini sudah luar biasa baik padaku. Maka, setelah Maghrib aku langsung pergi keluar bersama dengan Pak Andrew menaiki Taksi. Maka beliau membawaku ke rumahnya, aku sangat senang sekali dia menyambutku dengan hangat dan menyediakan banyak sekali makanan di rumahnya.

Setelah shalat Tarawih Pak Andrew membawaku kembali aku melihat arlojiku ternyata tepat pukul 22:00 maka aku pun memutuskan dengan berat hati untuk pergi ke kamarku. Aku menyalakan lampu, kulihat barangku sungguh berserakan dan rusak bahkan lemariku pun dijebol dan foto orang tuaku pun dibakar hangus, Aku berdoa “Ya Allah, aku harap semoga yang melakukan ini semua mendapatkan akibatnya. Setelah itu aku segera mengambil beberapa helai baju,  uang, dan peralatan secukupnya. Maka aku pun segera pergi ke kelas untuk menginap di kelas.

Keesokan harinya sewaktu di sekolah semua murid dikejutkan oleh teriakan Renggi

“Aduh… aduh….. aduh!, perutku sakit toloooooong!.

Lalu datanglah wali kelasnya, bernama Pak Badaruddin “Ada apa Renggi?”

“Itu ustadz, saya merasakan perutku sakit seperti jarum – jarum kecil!”

Maka segeralah beliau dan petugas kesehatan bernama Pak Rozi”

“Ini penyakit sangat aneh, tidak ada penyebab, dll. Mungkin ada yang adik alami kemarin atau kapan lah…”

Maka segeralah Renggi berighstifar sangat keras “Astgafirullah…… Astgafirullah… Astgafirullah!, aku selalu menggunjing dia, aku merebut ta’jilnya kemarin tolong panggil dia, panggil dia… . Tiba – tiba Pak Herman mengejutkan mereka “Siapa yang kau maksudkan dia!”

“Ricooo…. ya ustadz, Ricooooooo!” teriak Renggi

Maka segera Pak Herman pun memanggilku dengan berteriak melewati tiga kelas sekaligus.

“Rico!!! Cepat ke sini”

“Ya ustadz”  maka aku pun langsung lari tunggang-langgang menghampiri beliau.

“Maafkan aku sobat… aku sungguh malu karena ini, aku selalu menggunjingmu, mengejekmu, menyinisimu, bahkan mengambil ta’jilmu kemarin maukah kau memaafkanku sobar?” Renggi pun merengek”

Maka dengan segera hatiku pun langsung luluh.

“Ya sobat aku maafkan kau, jangan kau ulangi lagi ya saudaraku?”

akhirnya sejak saat itu aku mulai mengerti kenapa aku dimusuhi ternyata aku selalu tidak berasa si kamar sebagai ketua kamar, dan aku terlalu egois sehingga hubungan serta interaksi antar sesama tidak terjalin baik dan sejak saat itu, aku pun mulai bertoleransi.