Ibu, karenamu Aku…

Cerita fiksi berikut merupakan karya siswa SMP Ar-rohmah yang bernama Muh. Iqbal Rizki Sya’bani

Namaku Muhammad Zulfikar Pringgodani, umurku 14 tahun, aku adalah seorang siswa kelas 2 SMP, Ibuku bernama Andini Aulia Asri, ia adalah seorang ibu yang baik hati, ia selalu memberikan apa yang aku minta, padahal aku tahu bahwa apa yang kuinginkan adalah barang yang cukup mahal, sedangkan bapakku hanyalah seorang pegawai LSM(Lembaga Swadaya Masyarakat) yang tidak terlalu terkenal di kotaku, Gresik, yakni APNG(Asosiasi Perlindungan Nelayan ), namanya Bechtiar Boby Biswantoro.

Hari-hari ku adalah hari-hari yang biasa, seperti biasanya aku sekolah pada pagi hari dan pulang pada sore hari. Oh iya, nama sekolahku adalah SMP Eureka 13 Gresik, sebuah sekolah yang tidak cukup terkenal, karena menipisnya prestasi, fasilitas, maupun akhlak para siswanya, untung saja akhlakku termasuk cukup baik, karena tidak ada masalah yang manimpa diriku, aku juga bisa dibilang anak yang baik-baik saja.Pada saat pulang aku langsung terjerembab di kasur dan tidur hingga maghrib, setelah itu aku menonton TV, lalu sholat isya’, dan akhirnya tidur hingga pagi.

“Fikaaarrr!! Zulfikar!!!  bangun!! Sudah jam 4, ayo shalat shubuh!” bentak ibuku.

Aku merasakan bahwa apa yang dilakukan ibuku sedikit berbeda dengan yang biasanya, biasanya ibuku membangunkanku dengan halus lembut, tapi tiba-tiba sekarang ibuku membentaki aku, anaknya sendiri, tapi langsung kubuang jauh-jauh pikiran buruk itu, aku ingat kata ustadz-ku “ jangan pernah berpikiran buruk tentang seseorang, karena belum tentu orang itu melakukan seperti apa yang kamu pikirkan, dan menjelek-jelekkan seseorang atau ghibah itu akan menghasilkan dosa yang cukup banyak”.Aku pun tidak memperdulikan sifat ibuku itu, aku langsung melakukan apa yang diperintahkan ibuku, sedangkan bapakku sedang dinas di malaysia, memperjuangkan hak nelayan di ambalat.

Sekarang diriku baru saja menyadari bahwasanya ibuku merubah sikap, perilaku, maupun kebiasannnya dulu, ia menyuruhku untuk melakukan segala sesuatu dengan sendiri tanpa bantuan orang lain, seperti berangkat ke sekolah sendiri, memasak sendiri, mencuci baju sendiri, bahkan jadwal tidurku pun dirubah sehuingga aku tidak bisa menonton acara TV kesukaanku, yakni ‘Si Kancil Shippuden”, aku pun tetap tidak berpikiran buruk akan sikap ibuku, aku pun meyakini bahwa apa yang aku rasakan hari ini tidak akan berlanjut pada esok harinya, walaupun hati-ku merasakan sedikit kekesalan terhadap sikap ibu-ku, tak terasa air mataku menetes, hati-ku bingung antara memilih untuk tidak berpikiran buruk atau berpikiran buruk tentang ibuku, tanpa kuasa dari aku tertidur di kasurku.

Aku tertegun, semua tidak seperti yang ku bayangkan, aku baru saja mengetahui bahwa apa yang terjadi kemarin, terulang kembali, awalnya aku merasakan bahwa semua ini hanyalah mimpi, namun perlahan-lahan aku baru menyadari bahwa ini bukan mimpi, ini adalah sebuah kenyataan maupun fakta bahwa ibuku masih belum berubah, hatiku bercampur aduk antara perasaan kesal, marah, sedih, maupun penasaran akan apa yang terjadi pada perempuan yan berdiri di hadapanku sekarang ini, hati kecilku terus bertanya-tanya “Kapan ibu-ku kembali ke dekapanku?”, tiba-tiba air mataku menetes untuk yang kedua kalinya, aku mulai berpikir apakah ibuku dirasuki oleh sesuatu yang berbeda, ataukah mungkin seekor alien telah memakan ibuku dan menggunakan jasadnya untuk menghancurkan dunia ini, langsung kubuang semua pikiran burukku itu, aku pun tetap berharap akan perubahan ibuku ini, untuk kedua kalinya aku tertidur sembari berharap akan kembalinya ibu-ku yang dulu.

Hatiku hancur, sekeping hatiku telah terjatuh, ku menyadari bahwa ibuku benar-benar bukan ibuku yang dulu, pikiran-pikiran burukku yang dulu telah kubuang jauh-jauh dari otakku, mulai kembali datang dan meracuni pikiranku, sehingga aku tidak bisa konsen di sekolah, dan akhirnya aku mendapatkan nilai 6 , dan karena itu pula bertambahlah kemarahan ibuku, aku pun mulai membenci ibuku sendiri, setiap kupikirkan dirinya, hatiku bergetar, jantungku berdetak kencang, serta urat nadiku menggigil, aku suka ibuku yang dulu, aku suka ibuku yang mengantarkanku sekolah setiap pagi, aku suka ibuku yang membuatkanku bekal makan siang untukku, aku mulai menyesal akan sikapku selama ini, aku menyadari betapa berharganya seorang ibu, sehingga untuk kedua kalinya air mataku menetes.

Malam harinya aku pun mulai menjadi nakal, aku mencoa untuk menonton film favoritku “Si Kancil Shippuden the movie” yang telah ditayangkan oleh suatu saluran TV swasta, TV Two. Aku sangat menyukainya, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, mataku telah tertutup, kelopak mataku menghitam, aku pun langsung terjermbab di sofa, aku pun tertidur pulas.

Tamparan ini tak pernah kurasakan dalam hidupku, ketika ia, ibuku sendiri, yang dulu kucintai, sekarang ia telah menamparku.

” Apa yang kau lakukan tadi malam!,berani sekali tidur malam-malam, TV tidak dimatikan, tidur di sofa lagi!” bentak ibuku “Plaak!, Plaak!, Plakk!” 3 tamparan sekaligus menghujam ke arah pipi kanan maupun kiriku.

Aku merasakan kekesalan yang bergejolak dalam hatiku, aku marah, jengkel, maupun kesal kepada perempuan yang dulu kuanggap sebagai ibuku itu, tanpa sadar aku berdiri, mengacungkan jari telunjukku ke arah perempuan itu, sembari berkata

“ Aku akan bahagia jika ibu tidak pernah ada mendampingi kehidupanku ini!”

Kurasakan untuk yang ketiga kalinya, ya aku menangis untuk ibuku, untuk ibuku yang dulu, kulihat rona wajahnya berbeda ia kelihatan menyesal, aku tidak memperdulikan itu, aku langsung lari keluar rumah menyusuri jalanan, ya, aku kabur, kabur meninggalkan ibuku, meninggalkan rumahku, mainanku, ps-ku, dan ku- ku- yang lainnya, ya, aku telah kabur dari rumah.

Aku berlari, berlari menyusuri jalanan, tak terasa kulitku sudah tak mampu menghasilkan keringat lagi, tubuhku sudah tak mampu menahan gerakan kakiku, aku pun menyandarkan tubuhku di depan pos satpam di seberang jalan, kubaringkan kepalaku, aku pun tertidur dengan lelap.

Esoknya, ku dibangunkan oleh lelaki tua, belakangan ini ku tahu namanya Ust.Badaruddin, seorang profesor yang memiliki gelar terbanyak se-Indonesia.Dia tertegun melihat keadaanku dan mengajakku pergi ke rumahnya, rumah itu cukup kecil untuk ukuran rumah seorang profesor, ia menyuruhku untuk sementara tinggal disini, lalu ia meninggalkanku, ia masih harus mengajar di salah satu universitas terkenal di Indonesia, aku pun berbaring di kasur, bajuku sudah kotor, noda keringat membasahinya, aku ingat akan apa yang telah diajarkan ibuku, tentang bagaimana mencuci baju, ku coba melakukannya, alhamdulillah aku melaksanakannya dengan sempurna, pikiranku langsung terbayang akan ibuku, aku mulai merindukannya, namun kubuang jauh-jauh pikiranku itu, ya, ibuku telah berubah, ia bukan ibuku yang dulu, setelah memasak, aku pun tidur di kasur yang telah disediakan oleh om Badaruddin, yah, kulakukan semua itu seperti ajaran ibuku.

Keesokan harinya, Om Badaruddin kembali ke rumah, aku menyambutnya dengan membuatkan secangkir teh untuknya, tiba-tiba ia bertanya “Bagaimana kamu bisa sampai disini?”, setelah memikirkannya, aku pun menceritakan tentang kehidupanku yang dulu, ibuku yang berubah sikap, hingga kata-kataku, hingga sampai aku kabur dari rumah, aku menceritakannya dengan sedikit tersedu-sedu, Apakah aku merindukannya? Ah! Nggak mungkin, ia bukan ibuku. Lalu Om Badaruddin menceritakan tentang kisah hidupnya.

Ia adalah seorang yatim piatu, bapaknya meninggal setelah melihat kelahirannya, sedangkan ibunya meninggal karena tertabrak bis kota yang ugal-ugalan 20 tahun yang lalu, ia pun tinggal bersama pamannya yang seorang ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) senior, ia adalah seorang tegas, ia memperlakukan Om Badaruddin dengan kasar “ Semua harus dilakukan sendiri dan secara mandiri!”, ia pun kesal dengan pamannya itu, namun lama-kelamaan, perlakuan pamannya itu dapat ia rasakan manfaatnya saat pamannya meninggal dalam suatu medan perang saat ia masih memasuki jenjang SMA, ia dapat sekolah dengan baik serta berprestasi, dengan nyambi menjadi pembantu di rumah seorang perwira ABRI kenalan pamannya, dengan modal kedisiplinannya itu ia mendapatkan beasiswa di UI (Universitas Indonesia) di jakarta, lalu melanjutkan s-2 di Oxford University, USA, dan s-3 di Universitas Al-Azhar, Cairo , Mesir. Ia menyadari bahwa pamannya sangat sayang padanya, namun dengan cara yang berbeda.

Air mataku menetes, aku menangis, menyesali semua yang kulakukan, kekasaranku kepada ibuku, pikiran-pikiran buruk tentang ibuku, aku menyesal atas kaburnya diriku serta kata-kataku waktu itu, tanpa memikirkan maupun melihat hati ibu yang sebenarnya, aku menyesal………..

Aku berlari menuju ke rumahku, walau sempat  kulihat tetangga-tetanggaku menangis tersedu-sedu bertebaran di sepanjang jalan menuju ke rumahku, tapi itu semua tak kuhiraukan, aku hanya ingin meminta maaf kepada ibuku, namun apa yang terjadi, kulihat sebuah banner yang terpampang di sebelah rumahku yang bertuliskan “Kami dari PT Mbakpion Indonesia turut berduka cita atas meninggalnya : Andini Aulia Asri, semoga tuhan memasukannya sebagai jajaran-jajaran wanita surga,Amin”, seketika itu aku terjatuh, tersungkur, tepatnya, aku menangis, menangisi ibuku, menangisi kekaburanku, menangisi kata-kataku,serta menangisi kesalahpahamanku tentang ibuku sendiri.

Kulihat di sana bapakku menangis, lalu kami pun shalat jenazah bersama di depan mayat ibuku, setelah salam, bapakku memberikanku selembar kertas, ia berkata “Bacalah nak, ini pesan terakhir ibumu kepadamu”, aku mengambilnya lalu membaca:

“ Wahai anakku, maafkan ibumu yang berdosa ini, ibu tidak bermaksud menyiksa dirimu, ibu hanya ingin membuat kamu siap dalam mengarungi samudera kehidupan ini, agar kamu dapat menghalau badai yang menerjang, dan akhirnya dapat sampai di pulai kesuksesan abadi, ibu melakukan ini untukmu, karena ibu merasa bahwa umur ibu sudah tidak panjang lagi, jika engkau membaca tulisan ini, ibu harap engkau dapat memaafkan ibu, agar kita sekeluarga dapat berkumpul bersama di surga yang abadi.”

Seketika itu aku menyadari tiga hal yang terjadi dalam kehidupanku, yang pertama sesuatu akan terasa berguna dan bermanfaat jika sesuatu itu telah menghilang ataupun lenyap, yang kedua yakni cinta seorang ibu tidak hanya selalu dalam bentuk kasih sayang dan kemanjaan, namun dapat juga dalam bentuk mendisplinkan anaknya demi mengantarkan anaknya menuju gerbang kesuksesan, dan yang terakhir bahwa menyesal dia akhir tidak ada gunanya dan manfaatnya, dan tidak pernah terjadi di awal-awal/pertama, karena itu menyayangi dan menjaga orangtua adalah hal terhebat yang dapat kita lakukan dalam hidup ini, jika membandingkan dengan apa yang telah orang tua berikan kepada kita.

Dua puluh tahun kemudian, terdengar berita terbesar yang mengguncang seluruh dunia, aku, Prof.Dr.KH.Muhammad Zulfikar Pringgodani M.si.M.pd.M.lc dan Prof.Drs.KH Badaruddin St.Mpd.Msi, dua orang yang telah menemukan obat yang paling ampuh dalam menangani penyakit-penyakit berbahaya, yakni dengan menyuntikkan sejumlah bakteri-bakteri yang akan menyerap virus-virus itu dan mengeluarkannya melalui anus.

Aku juga membangun pondok pesantren (Ponpes) berbasis internasional, yakni ponpes Iqbal yang berdiri sejak tahun 1971, dan mempelopori berdirinya pesantren di Indonesia, disana terdapat sekolah mulai dari jenjang TK hingga Universitas.Aku juga membangun organisasi OPII (Organisasi penyanyang Ibu Indonesia) yang telah menyalurkan dana sebanyak Rp.365.789.657 milyar untuk seluruh ibu-ibu di seluruh dunia.

Aku pun mendapat sebuah penghargaan yang diberikan oleh presiden Indonesia Muhammad Iqbal Rizki Syakban, karena jasaku yang sangat besar kepada seluruh ibu-ibu dan anak-anak di seluruh dunia, aku juga masuk dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Times peringkat 2 setelah Rasulullah Muhammad saw, sebagai seorang motivator, pemilik ponpes terbesar se-Indonesia, dan orang yang telah mengubah dunia ini.