An Adventure in the Wallet

Cerita fiksi berikut merupakan karya siswa SMP Ar-rohmah yang bernama Hanif Abdurahman

TIDAAAAAAAK! JANGAN, BODOOOOOOOH!!!” Bersamaan dengan itu, sahabatku sejatiku menghilang dalam kegelapan. Tidak… Jangan… Aku terduduk lemas. Mukaku memucat. Tidak, jangan dia…! Seharusnya yang mati itu aku!! Aku yang menyebabkan kejadian ini. Aku BODOH!!! Akulah yang membuatnya seperti INI! Aku sahabat yang sangat buruk. Aku…                            “DUAAAAAAAK!!!”

Hitam.

 

“Hoaaahm…!” Aku menguap untuk ke tujuh ratus-tiga puluh-lima kalinya. Pelajaran Fisika terasa sangat membosankan. Sejuta rumus yang ribet dan bikin stres terbungkus rapi dengan kedok buku bertulisan “FISIKA.” Sebenarnya pengin sih, langsung tidur begitu saja. Masalahnya… “Cplaaaaasssh!!!” dan, “Adoooh!” itu menghantuiku. Rasanya pasti sangat panas! Soalnya guru Fisika itu adalah Pak Ryan yang terkenal sangat Killer meskipun suka ngiler. Tanpa aba-aba dan tanpa ampun orang ini langsung menyamblek punggung bagi siapa saja yang ngiler disaat mata pelajarannya. Rotanpun sudah menjadi sahabat sejatinya. Samblekannya itu lho, Extra hot! Bisa membuat korban seperti ayam klepek-klepek saat disembelih. Aku sendiri penasaran, jangan-jangan nih orang sebenarnya adalah seorang Kriminal berkedok Guru Fisika. Karena itu, wahai Calon-calon samblekan Pak Ryan, jangan coba-coba tidur disaat pelajaran Fisika. Apalagi kalau ngiler! Menurut P. Ryan Siregar S.Pd : Banyak iler = Kerasnya Samblekan. Jadi semakin banyak iler yang kamu produksi, semakin hot-lah  samblekan Pak Ryan. Maka, jangan berpikir bahwa siswa-siswa Pak Ryan itu rajin karena anak sekelas tidak ada satupun yang tidur! Karena menurut hasil riset Prof. Dok. H. Ir. Rio Saputra SP.d (Nama saya!), 99% dari seluruh isi kelas dimana gurunya Pak Ryan, semuanya tidak fokus. Sedangkan 1% dari seluruh isi kelas dimana gurunya Pak Ryan, terdiri dari lalat-lalat yang berseliweran tak tahu diri. Numpang meja seenaknya sendiri. Sok pintar sekali. Dan… Entah kenapa… Aku… Kok… merasa… Zzzzz…

“Siuuung…” aku mendengar suara berkelabat yang mencurigakan. Mataku terbuka sedikit. Sesuatu bayangan yang nyatas, tegak, lurus dengan cepat dan tepat mengarah kepadaku. Aku mulai mengantuk lagi. Tapi…

“CPLAAAAAAAAAASSSSSSSSSSH!!!!!” Mataku langsung melotot hingga bola mataku hampir keluar. Mukaku memucat menjadi putih seputih kain kafan. Ada jeda panjang setelah terdengar suara itu.

“ADAAAAAOOOOOOOOOW!!!!” SuperUltraMegaExtraHotBangetTiadaTandingannya membara tiada tara!!! Aku langsung terjungkal dari kursi klepek-klepek di lantai kayak orang kesurupan. Punggungku SuperSangatSakit banget sudah serasa seperti kebakaran. Samblekan itu sangat-sangat keras tanpa halangan yang berarti. Air mataku mengalir deras layaknya air terjun saking panasnya. Teman-temanku bukannya membantu malah ketawa-ketiwi terbahak-bahak dengan sangat tidak berperasaan! Uuuurgh!! Aku kesal banget sama Pak Ryan Sang Kriminal biang kerok penyamblekan ini. Sebegitu gampangnya mempermalukanku! Kurang Ajaaar! Lihat saja pembalasanku seribu tahun lagi!

“Teng! Teng!” Apaaaaaaaaa?!! Gak dari tadi aja bunyi belnya! Kalau bunyi belnya dari tadi mungkin gak seperti ini kejadiannya! Kok aku apes banget ya? Mana setelah ini mau Liburan Semester lagi! Sialaaaaaaaan!!! Hhh… Whatever.

Dengan pucat sepucat Zombie di Resident Evil karena samblekan puanas Pak Ryan tadi, aku langsung hendak keluar dari kelas. “Awwww!” Aku meringis berkat sakitnya punggungku ketika kuluruskan. Langaung saja kumasukkan bukuku cepat-cepat gak pake lama. Lantas keluar dari kelas dengan malas ingin dendamku terbalas. Eh, itu orangnya!

“Rey, tunggu dong!” Rey sahabatku sudah berada di gerbang sekolah. Rey menoleh kepadaku lantas tersenyum  tipis tapi misterius lalu menoleh ke jalan raya. Aku penasaran dan ikut-ikutan memperhatikan jalan raya.

“Ada apa sih?” Aku bertanya-tanya. Masak dia tidak pernah mengamati jalan raya?

“Ada mobil!” Bingo! Tebakanku benar. Tapi aku masih penasaran. Apa dia gak konsen?

“Emangnya kamu gak pernah lihat mobil?” Pertanyaanku terdengar sangat melecehkan!

“Ya, pernahlaaaah!!” Ujarnya gak terima.

“Lalu kamu ngapain lihat mobil?” Oke, dia tahu mobil. Tapi kira-kira dia tahu yang namanya becak tidak?

“Tidak ada apa-apa kok, nothing important!” Ketahuan bo’ongnya nih.

“Kamu tahu yang namanya becak, tidak?” Buaaaak!!! Aku langsung dihantam Rey pakai tiang listrik sama sepeda motor!

“Ya tahulah, dodol!!!” Rey ngamuk-ngamuk karena dianggap tidak tahu yang namanya becak!

“Kalau  andong, tahu tidak?”

“#*@&#@&$^@%$^&#!!!!” Rey positive 100% kalau dia sekarang pingin memusnahkan semua kendaraan yang ada di muka bumi ini. Yang bermotor maupun yang tidak bermotor.

“Sori, sori…! Kalau begitu kamu sekarang ngapain?” Tanyaku menginterogasi bak Detektif Kogoro.

“Menatap jalan raya!” Ya, iyalah!

“Ya, aku tahu!” Gantian aku yang mulai kesal. Dianggap tidak bisa melihat dia lagi ngapain. “Kamu ngapain menatap jalan raya?”

“Makan kelinci bakar!” Aku semakin kesal mendengar ketidak-nyambungannya

“Masak di jalan raya makan kelinci bakar?!!” Aku menumpahkan kekesalanku biar Rey sadar aku nanya apa.

“Eh, oh. Ada apa? Kok kamu tiba-tiba di sini?” Nah, baru sadar!! Berarti dari tadi aku dicuekin! Melamun kok sampai ngelantur segala!!

“Oke, sekarang aku tes. Kamu tahu sepeda ontel tidak?” Tiang listrik melayang…

“#%$@!$$&@$^##%#$@!$#%&#^*$^&%^@%#&^#@%#&@%#^*&$@!!!” dia kembali ngamuk-ngamuk.

“Tadi kamu mikirin apa sih?” Aku bangkit lagi dengan muka lebam berwarna biru. Sudah mirip Avatar aja!

“Oalaaaah…! Aku cuma membayangkan bagaimana kalau kita bertualang…”

Beberapa puluh menit dan beberapa detik kemudian…

“Ayo, masuk!” Rey mengajak aku ke rumahnya. Aku dan Rey meletakkan tas di kursi yang ada diatas loteng. Fiuuuh… untung aku membawa baju ganti. Langsung saja kuganti bajuku. Rey tampak terkejut melihat bekas samblekan karya Pak Ryan. Aku langsung menjelaskan apa yang terjadi tadi saat detik-detik sebelum bel berbunyi. Dia juga ganti baju. Lalu kami melaksanakan rencana kami.

“Hatchiuuu!!!” Debu-debu berterbangan dimana-mana tanpa komando. Di mana ya? Di sini… mmm… kok tidak ada? kalau di situ… “Ha… Ha… Hatchiuuu!!!” Aku bersin dengan keras sampai terduduk. Alamak! Debunya ada ribuan! Rey masih asyik mencarinya. Kok dia tidak bersin ya? Apa dia punya mantra biar gak bersin? “Akudus Tidakus Bersinculus!!” Bayanganku…

“Aha, Ketemu!!!” Aku terbelalak tidak percaya. Rey langsung jingkrak-jingkrak kesetanan campur goyang dangdut sambil mengangkat sebuah buku yang bersinar terang. Silaaaaauuuu!!! Ehm, gak usah ngayal deh. Dia cuma tersenyum senang sambil Break Dance gaya Jabbawookiez dengan mengangkat buku yang lusuh, jelek, berdebu, dan banyak sarang laba-labanya. Aku melihat judul buku itu. “How to Suprival in the Noneness island.” Bahasa inggrisnya kok hancur banget ya? Suprival? Noneness? Apa itu?! Lalu kulihat penulisnya siapa. Oalaaah… Rupanya penulisnya adalah Bang Thoyib… Pantesan…! Nulis tentang Survival di Pulau Kosong soalnya itu orang tidak pulang-pulang!! Tapi aku sangat kecewa melihat buku itu. Isinya :

Tamat

Grrrrr…! Tamat?!!! APA ITU?!!! Kriiiiuuuuk… Perutku memainkan musik My Chemical Romance dengan Volume Full.

“Nyari isinya nanti saja, deh… Perutku lapar.” Ujarku sambil memegang perutku. “Aku pulang dulu ya!”

“Aku ikut! Aku agak malas di rumah sendirian. Lagipula perutku masih belum lapar.”

Kami pergi bersama-sama kerumahku. Rumahku tidak jauh kok, Cuma tiga kilometer doang. Saking dekatnya kami numpang mikrolet segala. Lalu jalan kaki 500 meter. Setelah aku menyerahkan uang kepada sopir mikrolet, kami pergi lagi bersama-sama. Aku menoleh kesamping. Pelabuhan yang biasanya aku lewati entah kenapa membuatku tertarik. Padahal biasanya aku biasa-biasa saja melihat pelabuhan itu. Nothing Special. Masih seperti biasa, sepiii banget. lalu…

Duk…! “Aduh!!” Aku tersandung sesuatu hingga jatuh. Uuuuh! Punggungku sakit banget. Setelah aku dibantu Rey berdiri dan aku meluruskan lagi punggungku dengan susah payah, aku menoleh ke benda yang hampir membuatku cilaka tersebut. Hmm… Ada dompet. Eh, biar kuulangi. Ada dompet!! Rey dan aku mengambilnya dan melihat isi dompet itu. Pemiliknya bernama Muhammad Ryan Siregar S.Pd titik gak pake’ koma. Kami serempak melotot. PAK RYAN!!! Ini miliknya Pak Ryan yang pasti setelah ini Pak Ryan hendak kembali ke kampung halamannya di hutan Amazon sana. Rey tersenyum menyeringai kayak setan yang sudah pasti memikirkan hal yang setan pula. Aku celingukan mencari Pak Ryan dimana beliau sekarang. Yaaah… bagaimanapun juga, ini dompet Pak Ryan yang pasti dicarinya di mana-mana. Ciiieeeeeeeeh…! Sok bijaksana banget sih, aku. Pokoknya aku berniat mengembalikannya meskipun tadi aku disamblek dengan kekuatan Nightmare!!! karena meskipun begitu, dompet ini masih punya majikan. Kasihan dompetnya… Kok aku kayak kurang kerjaan ya? Kok kasihan kepada dompetnya? Aaaah, Sudahlah! Kok malah ngelantur gini sih!!!

“Oke, rencananya gini…” Rey mendiskusikan tentang rencana setannya kepadaku.

 

“TIDAK BOLEH! Kita harus mengembalikan dompet ini!!!” Dengan tegas dan melotot aku menolak tidak setuju. Rey kayaknya tidak berani membantah karena pelototanku yang menyala-nyala, dehh…! Langsung saja aku celingukan mencari Pak Ryan. Target Detected! Pak Ryan hendak masuk kedalam sebuah kapal!!! Aku segera menarik Rey yang masih manyun karena aku membantahnya dan segera mengejar Pak Ryan. Terlambat. Kapalnya sudah jalan! Aku dengan cepat mengambil beberapa lembar uang dari dompet Pak Ryan (Maaf ya, Pak…!) dan segera membeli tiket. Untung pelabuhan itu masih sepi! Langsung saja kami masuk kedalam kapal yang hendak berangkat. Tunggu kami Pak Ryaaaaan!!!

Rey mulai antusias karena ia merasa hendak berpetualang seperti keinginannya. Aku sendiri merasakan sesuatu. Firasatku mengatakan ada Adventure in the Wallet yang sedang menunggu kami. Setelah ini kami menjalani petualangan yang seru dan menegangkan. Mungkin Rey juga demikian. Oke, Let’s go for An Adventure!!!

Beberapa puluh menit kemudian…

“Buaaaaaaaaaaak!!” Kapal ini menabrak sesuatu. Aku langsung melotot melihat mesin kapal itu rusak. Pas banget saat awan mulai gelap. Padahal kita baru beberapa puluh menit berlayar di laut. Aku mulai tegang ketika ombak semakin kencang. BADAI!!!

Hujan mengguyur deras. Sangat deras. Awan-awan berwarna kehitaman. Sangat kehitaman. Aku mulai berkeringat dingin. Ombak-ombak yang sangat besar menubruk kapal terus menerus. Angin menghembus sangat kencang. Kami terombang-ambing menunggu badai selesai. Mengerikan. Mimpi buruk. Tapi ini bukan mimpi! “BLAAAAAAR!!!” Suara petir menggelegar. Penumpang-penumpang berteriak ketakutan. Bergoyang-goyang tanpa mengetahui apa yang terjadi. Tidak ada yang bisa dilakukan selain hanya berdo’a. Suara-suara hujan dan ombak sangat mencekam. Mengerikan. Aku mulai menyesal karena perbuatan yang terlanjur kulakukan ini. Seandainya aku tidak membantah Rey! Eh… Rey…!

Aku menoleh ke arah Rey berada. Jantungku masih berdetak keras. Entah kenapa Rey tersenyum lebar. Rambut hitamnya berkibar-kibar menantang bahaya. Ombak datang semakin melimpah dan semakin keras. “Duaaaaaaaaak!!!” Kapal itu menabrak karang. Aku langsung terjatuh. Penumpang semakin panik. Meskipun penumpang itu hanya beberapa orang tapi suara jeritan terdengar sangat keras. Aku menoleh ke Rey untuk mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Aku terkejut. Rey bangkit kembali setelah tadi terjatuh. Bibirnya mengeluarkan darah merah segar . Rey memegang tiang layar untuk mempertahankan keseimbangannya sambil tersenyum. Aku sangat terkejut melihatnya tersenyum. Deru hujan semakin keras ketika… “DUAAAAAAAAAK!!!” Rey terpelanting ke bagian depan kapal dan hampir jatuh ke laut. Kapal mulai tenggelam.

Rey bangkit kembali tanpa memegang apa-apa! Aku seketika melotot melihat Rey malah melebarkan tangannya langsung menghadap laut dengan rambut berkibar-kibar seakan ia menemukan kebebasan. Aku hendak memperingatkan, tapi… “DUAAAAAAAAAAAAK!!!!!”

“TIDAAAAAAAK! JANGAN, BODOOOOOOOH!!!” Aku berteriak nyaring pas di saat Rey terpelanting langsung ke laut! Aku merasa kosong. Aku tidak akan bisa menyelamatkan Rey. Ini salahku! Ini salahku! Aku yang memaksanya masuk ke kapal! Dasar aku tidak berguna!!! “DUAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

Hitam.

 

Apa yang terjadi? “Uhuk! Uhuk!!!” Aku tersedak air. Di mana ini? Segalanya terasa samar. Aku menajamkan penglihatanku. Ada sebuah sosok hitam berambut pendek. Tiba-tiba ada sesuatu menyentuh mulutku dan meniupnya dengan keras! Tak urung, aku terbatuk-batuk dan mengumpat-umpat. “Sialaaaan! Dasar orang homo gak berperasaan!! Seenaknya sendiri cium-ciuman!!! (Jangan berpikir ini beneran!!)” Kemudian…

“Enak saja!!! Aku sudah membantu memberikan napas buatan! Kamu aja yang gak berperasaan! Wong sudah aku bantu, malah diumpat!!” Eh, sepertinya aku tahu suara ini, deh. Suara ini seperti…

“Rey!! Kamu belum mati!!” Aku langsung teriak kegirangan. Segalanya mulai tampak jelas. Rey tersenyum simpul.

“Siapa dulu doooooong!!!” Kami langsung tertawa terbahak-bahak. Lalu aku mengamati sekeliling. Pantai?!

“Hey, dimana kita sekarang?” Aku bertanya-tanya

“Di neraka!! Udah jelas didepan mata kalau ini pantai!” Jawab Rey ngajak berantem.

“Ya, aku tahu! Tapi, ini di negeri apa?”

“Negeri Seribu Satu Malam!! Ya, Meneketehek dong!!” Aku langsung menghantamnya pakai Pohon Kelapa. Rey membalas hantaman kelapaku dengan hantaman pasir.

“Ya sudah, ayo keliling pulau ini!” Rey mengangguk setuju. Tapi… Kriuuuuuukkk… Perutku mendendangkan Avenged Sevenfold dengan gaya ala Sm*sh Volume 10.000%.

“Makan dulu, yuk! Aku lapar!!” Rengekku kayak anak ABG. Rey mengangguk setuju. Aku mulai masuk ke dalam hutan yang tidak jauh dari pantai. Tak lama kemudian…

“Mau nangkep kelinci kok gak dapet-dapet ya?” Ujar Rey terengah-engah kecapekan sambil berlari-lari dengan mengangkat Pancingan ikan. Ya, gak mungkin dapetlah!!                    Mau nangkep kelinci kok pakai pancing ikan. Aku aja nangkep kelinci pakai sumpit! Yaaah… meskipun gak dapet sih. Kurang beruntung aja kali…

Lapaaaaaaar…! Sekarang perutku sudah berganti lagu dengan lagu yang lebih seru. Sangat seru! Lagunya Seven Icons kesukaanku!! “Gak, gak, gak kuat!!!”. Akhirnya aku merasakan kalau jadi Bang Thoyib itu gak enak!! Baru sebentar saja aku sudah kebelet pulang. Gimana ya kalo jadi Bang Thoyib yang tidak pulang-pulang? Wah, ke laut saja deh…

Rey sudah berganti profesi dari pemburu kelinci dengan pancing ikan dengan pemanjat pohon kelapa yang tidak sampai-sampai. Aku menunggu Rey berhasil sambil ngemil kepiting bakar yang kutusuk pakai sumpit beribu-ribu kali. Aku sebenarnya pengin membagi Cemilanku itu tapi masalahnya kepiting itu sudah hancur berkeping-keping dengan tragis. Nanti dia malah gak sengaja memakan capitnya. Terus keselek lalu entar mati. “Buuuk!” Akhirnya dia berhasil menjatuhkan kelapa untuk pertama dan terakhir kalinya. Tapi kelapa itu dia minum sendiri gak bagi-bagi! Well, sekarang perutku sudah agak ceria dengan menyanyi lagu Doraemon versi keroncong setelah makan kepiting tadi.

“Ayolah, kita masuk ke pulau itu!” Rengekku seperti anak ABG. Rey mengangguk setuju. Beberapa menit kemudian…

“Kok gak ada tanda-tanda kehidupan, ya?” Aku penasaran. Habis, aku tidak melihat bangunan sebutir pun dan manusia seekor pun. Rey mengangguk setuju. Aku dan Rey memutuskan bahwa pulau ini pulau kosong. Di mana-mana adanya hutan demi hutan.

“Grrrrrr…!” Tiba-tiba ada suara yang terdengar nakal dan sarat oleh dosa. Apa itu? Aku menoleh ke belakang. Pandanganku menuju ke semak-semak. Bulu romaku merinding. Bukan, bukan ada sebiji kuntilanak yang genit nari-nari tarian bali dengan melayang-layang di atas awan. Yang ada di semak-semak itu seorang cewek centil yang menatap sayang kepadaku dengan sikap agresif banget. Masalahnya, ini bukan cewek biasa. Ini hanya cewek serigala yang centil pingin segera menyantapku. Menatap sayang kepadaku. Sayang kalau manusia yang dagingnya banyak ini tidak disantap. Ia sangat agresif saking pinginnya menikmati dagingku. Huwaaaa! Aku mau lari tapi Rey menarikku tetap di tempat… grak!

“Aku punya ide…!” Tukas Rey lalu dengan cepat menyambar sumpitku. Ia menggoyang-goyangkan sumpit itu. Srigala itu menatap sumpitku. Lalu Rey melempar sumpit itu sejauh mungkin. Srigala itu tidak bereaksi. Ya iyalah, dodol!! Emang kirain anjing Chihuahua yang mengejar batang kayu yang dilempar tuannya?! Dasar miring! Aku menatap sayang kepada sumpit yang sia-sia itu. Yaaah… Mubazir banget. Padahal sumpit itu mau kupakai buat garuk-garuk kepalaku yang banyak ketombenya. Dasar sial… Serigala itu mulai berlari ke arah kami! Rey hanya melongo plonga-plongo gak tahu harus ngapain. Aku langsung menariknya dan lari.

“LARI! BODOH!!!” Aku teriak-teriak sebel banget sama nih anak. Sejak naik kapal dia sudah Lola alias loading lambat. Jangan-jangan anak ini sudah stres akut. Semoga saja tidak permanen. Aku dan Rey pun berlari menerobos semak-semak. Serigala itu juga mengejar. Malahan dia bawa-bawa teman buat ngejar kami berdua. Sialan! Dasar tukang ngadu!!

“Sssssh!” Suara semak-semak yang kami terobos memberi petunjuk bagi serigala-serigala yang kelaparan. Kami terus berlari tidak pantang menyerah. Kami berlari Zig-Zag kesana kemari. Kiri, kanan, kiri, kiri, lurus, kanan, kanan, teruuuus…! sampai deh! Sampai di tempat kami terkepung serigala-serigala sialan itu tentunya. Kok aku pintar banget sih, milih jalan. Milih jalan sampai ke tempat musuh. Dasar!

“Ceplas!” Sebuah batang kayu yang tadi ketarik lenganku tiba-tiba mengenaiku. Tidak keras, sih. Tapi…  “JLAAAAAR!!!” Bagiku, rasanya seperti tersambar petir!! Aku terkapar lemas. Punggungku… Segalanya menjadi samar.

Rey terkejut melihat keadaanku. “Rioooooo!!!” teriaknya cemas oleh keadaanku. Aku tak berdaya hanya karena punggungku mengenai batang pohon. Tapi sedetik kemudian Rey teringat saat aku berganti baju di rumah. Bekas samblekan punggung itu… Jangan-jangan…     Rey langsung bertindak cepat. Ia mengangkat tubuhku dan menyangkutkan tanganku di pundaknya. Sambil terus memanggulku ia kembali berlari dengan dikejar serigala-serigala yang buas. Ia terus berlari, dan berlari tidak tentu arah. Kanan, kiri, kanan, lurus, kanan, kiri… Dia terus berlari hingga lambat laun ia kecapekan karena berat badanku. Ia terduduk lemas dan memasrahkan segala yang akan terjadi. Serigala-serigala itu mendekatinya hingga jarak beberapa meter. Aku mulai agak panic.Tiba-tiba…

“Siuuung…” aku mendengar suara berkelabat yang mencurigakan. Mataku terbuka sedikit. Sesuatu bayangan yang nyata, tegak, lurus dengan cepat dan tepat mengarah kepada seekor serigala yang paling dekat denganku. Kesadaranku mulai memudar lagi. Tapi…

“CPLAAAAAAAAAASSSSSSSSSSH!!!!!” Mata seekor serigala itu melotot hingga bola matanya hampir keluar. Mukanya memucat menjadi putih seputih kain kafan. Ada jeda panjang setelah terdengar suara itu.

“KAING! KAING!!!!!” Serigala itu pasti merasakan sesuatu  yang tidak lain dan tidak bukan adalah SuperUltraMegaExtraHot BangetTiadaTandingannya yang membara tiada tara!!! Aku tahu itu karena aku pernah merasakannya. Serigala itu langsung klepek-klepek sakaratul maut. Kesadaranku mulai pulih dan aku teringat sesuatu. Eh, Bukannya… Pemilik jurus itu… Cuma… Orang itu… Aku terpana. Rey juga terpana karena melihat sosok itu. Sosok itu adalah pemilik dompet yang ada di sakuku sekarang ini.

 

 

“PAK RYAN!!” Rey berteriak kencang banget tiada tandingannya karena melihat Pak Ryan menolongku. Pak Ryan tersenyum tipis sambil mengibas-kibaskan rotan andalannya. Kini rotan itu penyelamatku setelah sebelumnya ia menjadi musuhku yang terbesar sejagat raya. Serigala-serigala itu mulai takut-takut melihat rekannya sudah mendekati ajal dengan siksaan yang sangat beraaaat banget. Pasti sangat panas, pikir serigala-serigala itu dalam bayanganku. Punggungku berdenyut-denyut dan aku mengernyit kepanasan. Yaaaah… Segera saja Pak Ryan menyambar korban-korban lain yang sangat berdosa alih-alih mencambuk anak-anak yang sama sekali tidak berdosa (Kayaknya sih…). Tak heran jika sekarang banyak serigala yang sekarat gara-gara sebilah rotan Pak Ryan sang guru fisika. Untung saja Pak Ryan mencambuk itu tanpa perhitungan-perhitungan fisika yang bisa menjadikan Cricital Hit atau Head Shot. Bisa jadi akan mempercepat kematian serigala-serigala atau mempertambah penderitaan serigala-serigala tak tahu untung tersebut.

“CPLAAAAAAASSSSSSSSSSH!!!!!” “CPLAAAAAAAAASSSSSSSH!!!!!” “CPLAAAAAAAASSSSSH!!!!!” “CPLAAAAAAASSSSSSSSSH!!!!!” “CPLAAAAAAAAAASSSSSSSSSSH!!!!!” “CPLAAAAASSSSSSH!!!!!”

Aduh, jadi gak tega melihat serigala itu mati membiru saking cepat, tepat, dan kerasnya samblekan dari Pak Ryan. At Last and The Last… Serigala-serigala itu banyak yang dijemput mautnya dan banyak juga yang menciut jadi segede semut terus lari tunggang-langgang. Serigala betina yang tadi kutemui sudah tewas tercabik-cabik dengan Horror. Kami pun berterima kasih kepada Pak Ryan karena penyelematannya yang penuh dengan bahaya dan kematian tersebut. Kemudian…

“Oh iya, Pak. Kami mau ngembaliin dompet bapak yang tadi terjatuh saat di pelabuhan tempat bapak berangkat. Ini pak, dompetnya…” Aku merogoh sakuku dan mengambil dompet yang masih ada di sakuku. Apalah artinya uang kalau di sini tidak ada angkringan. Pak Ryan tersenyum girang sambil nari Break Dance untuk semenit. Akhirnya beliau membuka mulut.

“Di dompet ini sebenarnya ada tersimpan nilai-nilai fisika kalian yang bapak lipat di dalam salah satu bagian dompet yang tersembunyi ini. Bapak mau merekap nilai-nilai ini di kapal tadi. Tapi tak tahunya kapalnya karam. Yaaa… Laptopnya ilang deh. Tapi ini mau bapak ketik di sekolah saja!” Aku dan Rey langsung menganga lebar. Rey melirik kesal kepadaku. Aduh, sayang banget… Nilai fisikaku kan jeblok-jeblok. Seharusnya tadi dompetnya gak usah dikembalikan biar nilainya ilang tak berbekas! Mungkin itu pikiran setan Rey sekarang. Aku juga kecewa gara-gara nilai itu. Bisa-bisanya aku tidak tahu bagian dompet yang tersembunyi itu. Dasar miring!!! Pak Ryanpun mengambil dompet itu dan membuka isinya. Lalu ia membuka zipper yang tersembunyi di dalam dompet terkutuk itu. Lalu ia terbelalak. Kami juga terbelalak. Apa yang terjadi saudara-saudara??? Yak, betul! Lihat baliknya doooong…!

“HUURAAAAAAAAAAAAYY!!!!!!!!!!!!!!” Aku dan Rey bersorak keras sambil nari hula-hula serempak. Sedangkan Pak Ryan mukanya keruh sekeruh danau yang kotor dengan sejuta sampah di danau tersebut. Apa itu?? Coba tebak…

“KERTAS NILAINYA UDAH HANCUR BANGET BAGAIKAN BUBUR!!! HOREEEE! HOREEEE!!” Kami tertawa terbahak-bahak dengan tangan di pinggang dan kepala ngangkat dan serempak “HUAHAHAHAHAHAHAHA!!!!” Seolah kami sudah masuk surga. Pak Ryan tersenyum tipis lantas kembali ke pantai dengan menenteng rotan sahabatnya. Kami juga ikut Pak Ryan kembali ke pantai, tentunya sambil ketawa-ketiwi.

Yaaah… begitulah kejadiannya. Kami dan Pak Ryan mengambil batu-batu yang lumayan gede dan berat-berat untuk disatukan membentuk huruf “SOS” Agak cape’ sih, memang. Tapi kami lumayan senang karena petualangan yang seru dan menegangkan hari ini dan tentunya juga gembira karena kertas nilai Fisika yang hancur-hancur gak karuan telah menjadi bubur dan tidak terbaca lagi. Kami tertawa lepas mengingat kejadian-kejadian tadi dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Beberapa belas hari kemudian kami dijemput helikopter dengan nyengir lebar sambil menatap pulau tak berpenghuni yang kami tinggali tersebut. Sebenarnya masih banyak pangalaman yang kami jumpai di Pulau kosong ini. Mulai dari mancing ikan pakai rotan, manjat pohon dengan bulu mata, dan berburu kepiting dengan sumpit. Ada juga petualangan berburu babon liar untuk dijadikan dendeng. Sayangnya penulisnya terlalu pelit saking hematnya tidak bisa menceritakan pengalaman-pengalamanku dengan alasan halamannya tidak cukup. Dasar penulis sinting!! Pengalaman ini tidak akan pernah aku lupakan. Sampai-sampai kami hampir dijemput oleh maut karena bahayanya yang fatal. Sekali lagi aku bersyukur karena masih hidup. Well, akhir liburan masih lama sehingga kami kembali ke rumah masing-masing. Pak Ryan kembali naik kapal menuju ke kampung halamannya di hutan Amazon dengan selamat dan sehat sentosa. Malam ini aku tersenyum di kamarku sambil tiduran dan menatap langit-langit. Petualangan ini sangat seru. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku.

The Adventure in the Wallet…

TAMAT