Memaknai Idul Fitri

Ucapan selamat lebaran, maaf lahir bathin, taqobbalallahu minna wa minkum, atau minal ‘aidin wal faaizin, sering menghiasi bibir kaum Muslim pada 1 Syawal. Ucapan itu keluar bagai burung yang lepas dari sangkarnya.

Para shoimin dan shoimat melepas Ramadhan dengan perasaan suka cita. Mereka berharap segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat selama ini terampuni saat Ramadhan. Terbebasnya diri dari dosa akan membukakan pintu hati kita untuk memberi maaf kepada semua manusia. Dendam dalam lubuk hati tak tersisa lagi. Itulah hakikat idul fitri, yakni kembali kepada nilai dasar manusia yang bersih dari noda.

Pada hari itu kita tidak akan melihat ada orang berperangai muram. Yang tampak adalah wajah berseri dan saling melempar senyum. Suasana itu telah membudaya di negeri ini sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau.

Di antara mereka, ada yang mencapai hasil puasa secara khusus. Menurut Imam Ghazali, mereka ini telah mencapai tingkatan khususul khusus. Setiap orang akan memberi tafsir sendiri-sendiri tentang makna khususul khusus, tergantung latar belakangnya. Namun, apa pun tafsirnya, semua pasti terkait dengan manifestasi imandalam semua aspek hidup dan kehidupan. Itulah peradaban Islam.

Jika demikian, alangkah sedikitnya orang yang tergolong dalam tingkatan puasa khususul khusus. Jika dipiramidakan, tingkatan itu berada pada posisi puncak. Sedikit sekali. Orang yang mencapai tingkatan ini akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap kebangkitan umat Islam. Mereka akan mengerahkan dirinya dan sekelilingnya ke jalan yang benar menurut ajaran Islam. Mereka inilah para pewaris Nabi yang berkewajiban menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dalam semua aspek kehidupan.

Lalu, adakah manusia yang mencapai tingkatan puasa khususul khusus ini? Jika sementara ini belum ada berarti sedang berproses kita tunggu saja, kelak akan muncul. Jika sama sekali tidak ada berarti sudah berlalu misi kenabian. Dan jika ada, maka pertanyaannya adalah di mana mereka berada?

Mari kita asumsikan bahwa telah ada orang yang telahmencapai puasa tingkatan khususul khusus tadi. Indikatornya, kebangkitan umat Islam di seluruh dunia sudah dapat kita rasakan. Mungkin saja kebangkitan ini adalah buah dari upaya Jamaah Tabligh yang selalu melakukan ekpansi dakwah. Mungkin juga Hamas yang menempuh jalur senjata. Atau kelompok Salafy yang selalu mencerahkan umat dengan menghidupkan sunnah anti bid’ah.

Peran Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, dan Hidayatullah yang berkiprah di dunia sosial dan pendidikan juga tidak sedikit. Demikian pula andil Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menempuh jalur politik praktis, pastilah banyak.

Satu hal yang pasti, semua organisasi Islam tersebut memiliki himmah untuk menegakkan peradaban Islam. Wilayah garapan mereka beraneka ragam, namun arahnya menuju satu tujuan, yaitu egaknya syari’at Islam. Jika demikian, maka potensi berkompetisi untuk menuju kebaikan (fastabiqul khoirot) sangat terbuka, baik secara individu maupun kolektif.

Akhirnya, kita masih terus menunggu munculnya tingkatan puasa super khusus, yaitu lahirnya pemimpin umat. Kita berharap akan muncul sosok yang mampu mengantar kita menuju ridha Ilahi. Itulah pesan Allah SWT yang tertera dalam Al Qur’an Surah as Sajadah (32) ayat 24.

“dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami”

Wallahu a’lam bi showab.

Oleh Ust. Dr. Abdul Manan (Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah)