ORANG “MALANG” DI KOTA MALANG

Jika kita coba bertanya pada seseorang yang pernah berkunjung ke kota Malang atau bertanya pada orang Malang dengan sebuah pertanyaan “ada apa di kota Malang?” Pasti sepakat mereka akan menjawab, dikota malang ada MATOS, banyak kampus, ada MOG, pegunungan yang indah, tempat wisatanya bagus dan modern, kota pendidikan, kota industri, club AREMA dan sporter Aremanianya yang trekenal atraktif serta jawaban-jawaban lain tentang keunggulan dan keindahan kota malang pasti akan anda terima sebagai jawabannya. Tapi perlu anda tahu bahwa itu adalah jawaban orang-orang yang pernah ke Malang di siang hari dan melihat realita kehidupan Malang disiang hari. Coba sesekali anda bertanya, ada apa di kota malang saat malam menyelimuti siang ? atau coba sesekali anda berwisata malam ditengah malam? lihat apa yang anda temukan di alun-alun dan di pertokoan kota malang yang saat siang sibuk dengan berbagai aktivitas dan orang-orang yang lalu lalang hingga petang. Niscaya kita akan menemukan pemandangan yang sangat memilukan dan akan menjadi kenangan yang tidak pernah kita lupakan jika kita pernah peduli dan punya kepedulian pada mereka kaum terpinggirkan.

Suatu malam saat perjalanan pulang dari ta’lim di jalan kayu tangan menuju pesantren Nurul Ulum, sengaja ku lewat alun-alun kota malang, saat itu dinginnya malam menusuk tulang, dan angin malam bertiup sedikit kencang. Malang malam itu benar-benar sunyi bak kota tak berpenghuni. Motor ku laju perlahan memecah kesunyian. Gemerlap lampu tak mampu menghilangkan keheningan kala itu. ku terus melaju berpacu dengan udara dingin bak salju. Sayup-sayup ku memandang dari kejauhan deretan benda menutup emperan jalan di depan pertokoan. hatiku bertanya apa itu gerangan? Perlahan ku mendekatinya, saat kusorot dengan lampu motor, jiwaku terperanjat, lidahku kaku tak mampu berucap sesuatu saat melihat deretan manusia tidur pulas dengan alas terbatas, ada yang berselimut kardus dan koran bekas dan ada pula yang berselimut kain tipis yang tak cukup menutup sekujur badan.

Ku terus berjalan perlahan dengan hati penuh pilu dan kesedihan, air mataku tak tertahan saat ku memandang beberapa balita dan bocah-bocah lelap kedinginan dalam dekapan penuh sayang sang bunda berselimut kain tipis dan koran, berbantal kain usang seakan tak peduli dengan kesehatan mereka yang terancam. Terdengar pula olehku suara batuk yang bersahutan dari beberapa orang lanjut usia yang seharusnya menikmati sisa-sisa usianya dengan tidur nyaman dan nyenyak di rumah dalam kehangatan selimut dan perhatian anak cucunya dan bukan di emperan pertokoan.

Ya Rob mengapa hidup mereka seperti ini? Andai sayyidina Umar ibnu Khottob hidup disaat ini pasti beliau tidak akan pernah bisa tidur sebelum melihat sendiri rakyatnya telah tenang dalam buayan mimpi. Namun pemimpin saat ini tak pernah keluar malam, sehinga tak tahu rakyatnya sedang berselimut kabut dan dinginnya malam. Mungkin mereka bilang mereka pendatang dan bukan orang malang, namun ingat Islam tak pernah memandang dari daerah mana mereka datang. Fenomena ini tak hanya kita temukan di kota Malang, namun kita akan temukan juga di kota-kota besar lainnya. Dan hal itu menjadi indikator betapa rakyat pribumi masih menjadi kaum terpinggirkan di negeri sendiri. Semoga para pemimpin benar-benar pro rakyat dan bukan pro konglomerat. sebagaimana juanji-juanji mereka saat mati-matian berburu kekuasaan. Amin.

Melihat sosok manusia malang yang tak pernah menyerah dengan sulitnya hidup dengan hanya menjadi pengemis dan gelandangan itu spontan ku teringat abi, ummi, adik-adikku dan keluargaku dirumah. Andai mereka tidur ditempat yang tidak layak seperti mereka yang tidur di emper pertokoan, niscaya ku tak akan pernah rela dan tega. Tak ada yang bisa kulakukan saat itu kecuali berdo’a semoga Allah menganugrahkan kesabaran kepada mereka dalam menjalani kehidupan, istiqomah dalam beribadah dan melimpahkan rizki yang berkah agar mereka tak lagi terlihat di tempat yang tak layak untuk dapat tidur nyenyak.amin