Bersama kita bangkit!

Labbaik Allahumma labbaik! Ya Allah, aku sambut seruanmu! Ungkapan ini bergerumuh dan membahana di tanah suci. Jutaan umat Islam dari 147 negara berkumpul untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Tapi, haji sepanjang sejarah, bukan hanya sekedar ibadah. Ia juga menjelmam menjadi sebuah keonferensi dialog dan diskusi tentang berbagai persoalan umat.

Ibadah haji telah ditakdirkan untuk menjadi ‘idaman’ abadi oleh setiap muslim sepanjang masa. Setiap muslim telah sepakat menempatkan rukun kelima ini sebagai simbol kesempurnaan agama mereka. Seolah-olah tidak afdhal menjemput ajal kala haji belum terlaksana, meski secara materi kurang mendukung.

Karena itu, tidak aneh bila banyak diantara mereka bersusah payah mengumpulkan recehan demi recehan “hanya” untuk digelontorkan dalam beberapa hari di musim haji, tanpa bermaksud membawa ganti yang lebih besar dari yang dikorbankan.

Sebuah ungkapan cukup mewakili kelebihan ibadah mahdhoh ini, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Jalasatul Hajj, bahwa rukun Islam yang terbangun dengan dua sarana, fisik dan harta. Syahadat, shalat dan puasa landasan utamanya adalah fisik, sedangkan zakat berdiri di atas kemampuan materi. Adapaun haji, menghimpun keduanya, fisik dan harta. Selain rangkaian ibadah haji yaitu menyembelih hewan kurban. Dengan kata lain Idul Adha berarti Idul Kurban.